Kampus
Mahasiswi
Ketika Hati Ingin Tenang, tetapi Pikiran Tidak Mau Diam
APERO FUBLIC I Pernahkah kamu berbaring untuk beristirahat, tetapi justru semakin banyak hal yang muncul di pikiran? Mengingat kejadian yang sudah berlalu, memikirkan perkataan seseorang, mengkhawatirkan masa depan, hingga membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Padahal, tidak ada sesuatu yang sedang terjadi saat itu. Tubuh ingin beristirahat, tetapi pikiran seolah tidak memberikan kesempatan untuk benar-benar tenang.
Situasi seperti ini mungkin pernah dialami oleh banyak orang. Ada kalanya seseorang terlihat biasa saja di hadapan orang lain, tetapi sebenarnya sedang berhadapan dengan berbagai pikiran yang sulit dikendalikan.
Hal-hal sederhana bisa terus dipikirkan, bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Fenomena ini sering dikenal dengan istilah overthinking atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, overthinking dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, setelah berbicara dengan seseorang, kita terus memikirkan apakah perkataan yang disampaikan tadi salah atau membuat orang lain tersinggung.
Ketika menghadapi suatu masalah, kita justru sibuk membayangkan kemungkinan terburuk daripada mencari jalan keluarnya. Bahkan, ketika akan mengambil keputusan sederhana, kita bisa menghabiskan banyak waktu karena takut salah memilih.
Menurut saya, salah satu alasan seseorang sulit menenangkan pikirannya adalah karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang berada di luar kendalinya. Kita sering mengkhawatirkan pendapat orang lain, takut menghadapi kegagalan, atau merasa harus memastikan bahwa semua hal berjalan sesuai keinginan.
Akibatnya, pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum tentu memiliki jawaban. Kita ingin semuanya berjalan baik, tetapi justru keinginan tersebut membuat diri sendiri semakin terbebani.
Jika dilihat dari sudut pandang Psikologi Klinis, kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan dapat berkaitan dengan kecemasan. Kecemasan merupakan respons emosional ketika seseorang merasa khawatir atau takut menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam.
Perasaan cemas sebenarnya wajar dan dapat dialami siapa saja. Misalnya, merasa gugup sebelum ujian, khawatir ketika menunggu hasil pemeriksaan, atau takut ketika menghadapi situasi baru. Namun, kecemasan dapat menjadi masalah ketika muncul secara berlebihan, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pikiran yang terus dipenuhi kekhawatiran juga dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional seseorang. Seseorang mungkin mengalami kesulitan tidur karena terus memikirkan masalah, kehilangan konsentrasi ketika belajar atau bekerja, mudah merasa lelah, bahkan menjadi lebih sensitif terhadap keadaan di sekitarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan perasaan sedih atau bahagia, tetapi juga berhubungan dengan bagaimana seseorang mengelola pikiran dan menghadapi tekanan dalam kehidupannya.
Selain itu, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga dapat membuat pikiran semakin sulit beristirahat.
Saat melihat kehidupan orang lain di media sosial, kita sering menemukan orang yang terlihat sukses, bahagia, memiliki banyak pencapaian, atau menjalani kehidupan yang menyenangkan.
Tanpa disadari, kita mulai mempertanyakan kehidupan sendiri. Mengapa orang lain sudah mencapai banyak hal, sedangkan diri sendiri masih berada di tempat yang sama? Mengapa kehidupan orang lain terlihat mudah, sementara kehidupan kita terasa begitu berat?
Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Kita hanya melihat bagian kehidupan yang ingin ditampilkan oleh orang lain, bukan seluruh perjuangan dan kesulitan yang mereka alami.
Jika terus membandingkan diri, kita bisa kehilangan kesempatan untuk menghargai proses dan pencapaian sendiri. Pikiran yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan diri justru dipenuhi perasaan tidak puas dan kekhawatiran.
Menurut saya, kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan. Ada masalah yang memang perlu dicari solusinya, tetapi ada juga hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Terus memikirkan sesuatu tanpa melakukan tindakan hanya akan membuat diri semakin lelah. Kita tidak bisa mengubah kejadian yang sudah berlalu dan tidak selalu dapat memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, kita masih bisa menentukan bagaimana cara menghadapi keadaan saat ini.
Untuk mulai menenangkan pikiran, kita dapat melakukan hal-hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan media sosial ketika mulai merasa terbebani, melakukan kegiatan yang disukai, beristirahat dengan cukup, atau menceritakan masalah kepada orang yang dipercaya.
Kita juga dapat belajar membedakan antara sesuatu yang benar-benar sedang terjadi dan sesuatu yang hanya kita takutkan akan terjadi. Dengan begitu, kita tidak terus-menerus membebani diri dengan kemungkinan yang belum tentu menjadi kenyataan.
Jika pikiran yang terus-menerus muncul sudah menyebabkan kecemasan berlebihan, mengganggu tidur, menghambat aktivitas, atau membuat seseorang kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, mencari bantuan psikolog dapat menjadi langkah yang tepat.
Tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar tidak sanggup untuk meminta pertolongan. Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Akan selalu ada masalah, ketidakpastian, dan hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Namun, bukan berarti kita harus menghabiskan seluruh waktu untuk mengkhawatirkan semuanya. Terkadang, yang kita butuhkan bukanlah jawaban atas setiap pertanyaan dalam pikiran, melainkan keberanian untuk menerima bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus.
Kita berhak merasa tenang tanpa harus menunggu semua masalah selesai. Kita juga berhak beristirahat tanpa merasa bersalah dan menjalani hidup tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Sebab, ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap menjaga diri di tengah berbagai hal yang belum tentu bisa kita kendalikan.
PENULIS: Nurul Aidha
Mahasiswi Fakultas Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment