Cerpen
Mahasiswa
Pendidikan
Antara Pengabdian dan Impian
APERO FUBLIC I Sore itu, suasana pondok pesantren mulai tenang. Setelah seharian menjalankan kegiatan, para santri berbondong-bondong kembali ke kamar masing-masing. Sebagian masih ada yang sibuk dengan hafalan, bermain di lapangan, sebagian lainnya pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap sholat Magrib, sementara itu, beberapa santri pengabdian sibuk meminjamkan ponsel untuk santri yang ingin menelepon orang tuanya.
Di sebuah kamar pondok, seorang pemuda bernama Abi duduk di kasurnya. Angin sore berhembus pelan melalui jendela kamar, membawa udara sejuk yang menyelimuti ruangan. Di tangannya, sebuah ponsel sederhana menyala. Ia menatap layar ponselnya cukup lama, memperhatikan nama ayahnya yang tersimpan dalam daftar kontak WhatsApp.
Abi adalah seorang santri yang telah menyelesaikan masa belajarnya di pondok pesantren dan kini sedang menjalani masa pengabdian. Di sela-sela kesibukan nya, ia juga menunggu hasil seleksi pendaftaran kuliah di Timur Tengah melalui situs SIS (Study in Saudi).
Sehari-hari, ia membantu mengurus kegiatan santri, mendampingi adik-adik kelas, serta membantu para ustaz dalam berbagai kegiatan pondok. Baginya, masa pengabdian merupakan kesempatan untuk mengamalkan ilmu dan membalas kebaikan pesantren yang telah menjadi tempatnya belajar selama bertahun-tahun.
Namun, dibalik kesibukan nya, ada satu keinginan yang terus tumbuh dalam hatinya: melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi.
Sejak masih duduk di bangku sekolah, Abi memiliki cita-cita untuk kuliah.
Ia ingin memperdalam ilmu Bahasa, memperluas wawasannya, dan suatu hari nanti menjadi seseorang yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga ingin membahagiakan kedua orang tuanya yang telah berjuang keras membiayai pendidikannya.
Akan tetapi, keinginan Abi untuk melanjutkan kuliah di Timur Tengah harus pupus setelah ia dinyatakan tidak lolos seleksi berkas melalui situs SIS (Study in Saudi). Meski begitu, keinginannya untuk melanjutkan kuliah di Indonesia masih tetap ada.
Namun, jalan yang harus ditempuh tidak sesederhana yang dibayangkan. Masa pengabdian yang sedang dijalaninya menuntut waktu, tenaga, dan tanggung jawab yang tidak sedikit.
Di sisi lain, keluarganya masih berharap agar ia mencoba kembali mendaftar kuliah di Timur Tengah. Abi pun diliputi kebimbangan karena belum mengetahui apakah keluarganya akan mendukung keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Setelah mengumpulkan keberanian, Abi menekan tombol panggilan. Tidak lama kemudian, suara yang sangat ia rindukan terdengar dari seberang telepon.
“Assalamualaikum Pak. Gimana kabarnya? Sehat,kan?” Tanya Abi dengan nada perhatian.
“Waalaikumsalam Bi. Alhamdulillah,sehat. Kamu sehat? Udah makan, belum?”
“Sehat Pak, udah makan aku tadi Abis ngurusin santri yang berantem. Ibu masa apa pak?”
“Alhamdulillah kalo gitu. Tadi ibu masak ayam kecap, biasa andalannya ibukmu.” Bapak menjawab dengan nada mengejek
Abi tersenyum kecil melihat ejekan bapak ke ibu. Percakapan sederhana tapi membuat merasa dekat dengan rumah, meskipun jarak di antara mereka cukup jauh.
Beberapa saat setelah berbincang tentang kegiatan di pondok, dan kabar keduanya. Namun, ada satu hal yang ingin Abi sampaikan. Ia ingin membicarakan tentang kuliahnya, tetapi ia takut awalnya hangat itu berubah menjadi perdebatan.
“Pak, aku mau ngasih tau sesuatu.”
“Ngansih tau opo tinggal ngomong ae kok.”
“Yang kemarin aku daftar di web SIS itu, yang di timur tengah.”
“Iya, kenapa?”
“Aku gak lolos. Aku mau kuliah di Indonesia aja.”
“Coba daftar lagi aja tahun depan. Sapa tau lolos.”
“Gak mau Pak!. Aku aja udah pengabdian, umurku udah kebuang setahun, masa aku harus nunggu lagi buat daftar tahun depan.”
“Ya gapapa to. Umur bukan patokan untuk jenjang kuliah.”
“Gak mau, gak mau. Aku cuman mau kuliah di Indonesia aja”
“Emang di Indonesia mau kuliah dimana?”
“Ugm atau ui paling.”
“Mau ngambil jurusan apa?”
“Ambil jurusan psikolog atau ekonomi bisnis paling”
“Ngapain ngambil jurusan umum mendingan yang nyambung sama pelajaran pondok gitu loh.”
“Gak mau. Aku pengen umum.”
“Boleh kuliah di Indonesia tapi syaratnya harus yang nyambung sama pondokmu.”
Abi mulia merasa percakapan tadi tidak berjalan apa yang diharapkan.
“Yaudah Pak. Aku lanjut giniin santri dulu”
“Iya, lanjut besok. Jaga Kesehatan sama makannya.”
Panggilan itu berakhir beberapa menit kemudian. Abi menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ia tidak marah kepada bapaknya, tetapi ada sedikit rasa kecewa dan kesal yang sulit dijelaskan. Ia merasa bahwa keinginannya belum benar-benar didengarkan.
Sore itu, Abi Kembali melanjutkan kegiatannya sebagai santri pengabdian dengan pikiran yang penuh. di tengah padatnya kegiatan, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apa aku gak boleh menempuh jalanku sendiri dengan jalanku dengan jurusan yang ku inginkan?
***
Beberapa hari setelah percakapan itu, Abi masih memikirkan jawaban bapaknya. Ia berusaha menjalankan pengabdian seperti biasa. Pagi hari ia membantu mengeluarkan santri untuk kegiatan sekolah, sore harinya ia mendampingi adik-adik kelas.
Namun, Ketika melihat beberapa teman seperjuangannya mulai mendaftar ke perguruan tinggi, keinginannya untuk kuliah di Indonesia semakin kuat.
Pada saat malam ia memberanikan untuk menelepon bapaknya Kembali, setelah menyelesaikan kegiatan di pondok sebagai santri pengabdian.
Meskipun masih ragu untuk bertanya kembali, Abi mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada salahnya untuk menyampaikan keinginannya sekali lagi. Dengan perasaan gugup dan takut akan jawaban bapaknya, ia meraih ponsel lalu kembali meneleponnya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Bi. Ada apa? Uangnya Habis?”
“Enggak Pak, pengen aja telepon kangen.”
“Oalaaa, tak kira mau minta uang.” Bapak berbicara sambil sedikit mengejek.
“Mau nanya yang kemarin tentang kuliahku, temen-temen udah pada daftar kuliah nggak mau coba dulu daftar di Indonesia sekalian nunggu pendaftaran di SIS (studi in Saudi)?”
“Emang kalo bapak bolehin kamu mau kuliah dimana?”
“Ui atau ugm paling.”
“Mau ngambil jurusan apa?”
“Yang aku kemarin bilang boleh gak?” dengan nada gugup dan pasrah dengan jawaban bapak
“Gak usah ambil yang itu, yang nyambung sama pondokmu aja bapak bolehin kuliah di Indonesia mau gak?”
“Iyaaa deh”
“Yaudah kan masih ada kesempatan SNBT coba dulu itu.”
“Beneran ini? Tapi SNBT lagi beberapa bulan? Aku belum siap apa loh pak.”
“Iyaaa cari les-les buat persiapan SNBTnya.”
“Kemarin temanku ada yang les di ruang guru sama Ganesha operation.”
“Yaudah di ganesha operation, kalo harga gak masalah buat bapak Bi.”
“Okee pak besok aku daftar. Dah gtu aja yang mau aku obrolin”
“Iyaaa, dijaga makannya sama hafalannya juga.”
“Iyaaa,pak terima kasih.”
***
Keesokan harinya, Abi mulai mencari informasi untuk mendaftar bimbingan belajar di Ganesha Operation. Setelah menemukan informasi yang dibutuhkan, ia pun mendaftarkan diri dengan harapan dapat mempersiapkan UTBK-SNBT sebaik mungkin. Hatinya perlahan mulai tenang dan ia kembali menjalani aktivitasnya sebagai santri pengabdian seperti biasa.
Selama tiga bulan mengikuti bimbingan belajar, Abi harus pandai membagi waktu antara belajar dan menjalankan tugasnya di pondok. Hingga akhirnya, beberapa hari menjelang pelaksanaan SNBT, ia memberanikan diri meminta izin kepada atasannya, seorang ustaz, untuk mengikuti ujian. Setelah mendapatkan izin, Abi segera berangkat menuju lokasi tes pada malam itu.
Sesampainya di lokasi, perasaan Abi mulai tidak karuan. Ia gugup, takut gagal, dan khawatir mengecewakan kedua orang tuanya. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya, tetapi ia berusaha menenangkan diri dan berdoa agar diberikan kemudahan.
Setelah melewati ujian yang menegangkan, Abi segera kembali ke pondok untuk melanjutkan tugasnya sebagai santri pengabdian. Ia mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa sembari menunggu hasil yang akan menentukan langkah berikutnya.
Hari pengumuman pun tiba. Sejak pagi, hati Abi terasa gelisah. Ia berusaha terlihat tenang, tetapi pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Ada harapan besar yang ia simpan, sekaligus ketakutan jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Ketika waktu pengumuman tiba, dengan tangan sedikit gemetar, Abi membuka laman hasil seleksi. Ia terdiam menatap layar. Hasilnya, ia belum lolos ke perguruan tinggi yang diinginkannya, bahkan jurusan yang dipilihnya sebenarnya bukan jurusan yang benar-benar ia impikan sejak awal.
Dadanya terasa sesak oleh kekecewaan. Semua usaha selama tiga bulan, waktu yang ia luangkan di sela-sela kesibukan pondok, dan harapan yang ia bangun perlahan seakan runtuh dalam sekejap.
Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah bagaimana ia harus menyampaikan kabar ini kepada kedua orang tuanya. Ia takut mengecewakan mereka, takut dianggap gagal, dan takut jika perjuangannya selama ini ternyata belum cukup.
Abi hanya bisa menatap layar ponselnya dalam diam. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berbuat apa. Di antara rasa kecewa dan sedih, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya, meskipun saat itu ia belum benar-benar tahu bagaimana caranya menerima kenyataan.
Malam itu, udara terasa begitu dingin. Angin berhembus pelan melalui celah jendela kamar, menambah sunyi suasana yang sejak tadi menyelimuti Abi. Ia duduk termenung sambil menatap layar ponselnya.
Berkali-kali ia berniat menelepon kedua orang tuanya, tetapi berkali-kali pula ia mengurungkan niatnya. Ada keraguan yang menahan jarinya, ada ketakutan yang membuat dadanya terasa sesak. Ia belum siap menyampaikan kabar kegagalan itu kepada orang-orang yang selama ini selalu berharap yang terbaik untuknya.
Namun, sampai kapan ia harus terus menghindar? Bagaimanapun, kedua orang tuanya berhak mengetahui hasil perjuangannya. Abi menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang sejak tadi terasa hilang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil ponselnya, mencari nomor ibunya, lalu menekan tombol panggilan.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Ada apa Bi?”
“Mana bapak Bu? Aku mau ngomong sesuatu.”
“Bapak masih sholat. Bilang aja ke ibu.”
“Aku gak lolos UTBK Bu.”
“Ya Allah Bi…. Gapapa ada kesempatan lain masih banyak kampus lain yang masih buka.”
“Iyaaa Bu. Tapi aku udah berusaha udah yakin ternyata usahaku kurang banyak makanya gak lolos.”
“Itu bapak sudah datang dari mushola.”
Ibu menceritakan apa yang ia bilang tadi kepada bapak
“Hallo Bi? Gapapa bapak gak marah kok masih banyak kampus lain.”
“Iya pak. Aku coba lagi nanti daftar di kampus lain lewat jalur lain.”
Di tengah kegelisahan Abi malam itu, seorang temannya datang menghampiri. Dengan sedikit tergesa, temannya memberi tahu bahwa pendaftaran UM-PTKIN masih dibuka, tetapi batas akhirnya adalah malam itu juga. Mendengar kabar tersebut, Abi terkejut. Ia yang sejak tadi larut dalam kekecewaan tiba-tiba kembali memiliki secercah harapan.
“Pak temanku tadi bilang ada pendaftaran um-ptkin.”
“Apa itu um-ptkin?”
“Kayak kampus- kampus kemenag gitu kayak uin,iain. Tapi terakhir pendaftarannya malam ini.”
“Yaudah di coba aja sapa tau masuk jalur itu”
“Ambil jurusan yang kayak kemaren?”
“Iya, biar sejalur sama pelajaran pondok.”
“Iya, kalo gitu tak matiin keburu Abis waktunya nanti.”
“Iya, semoga lancar.”
Tanpa membuang waktu, Abi segera membuka laptopnya dan mengakses situs resmi pendaftaran UM-PTKIN. Dengan perasaan cemas, ia mulai mengisi data diri dan melengkapi persyaratan yang dibutuhkan.
Sesekali, matanya melirik jam di sudut layar, khawatir waktu pendaftaran akan berakhir sebelum semuanya selesai. Ia berusaha tetap fokus meskipun rasa lelah dan kecewa masih menyelimuti pikirannya.
Malam itu, di tengah waktu yang semakin menipis, Abi kembali menggantungkan harapan pada kesempatan yang tersisa. Ia tidak ingin menyesal karena menyerah sebelum mencoba sekali lagi.
***
Beberapa hari kemudian, tibalah waktu pelaksanaan ujian UM-PTKIN yang telah dinantikan Abi. Saat itu, masa pengabdiannya di pondok pesantren juga telah selesai. Setelah berpamitan dengan para ustaz dan teman-temannya, Abi tidak langsung pulang ke rumah.
Ia memilih bergegas menuju lokasi ujian karena tidak ingin terlambat mengikuti seleksi.
Sesampainya di lokasi, Abi kembali merasakan kegugupan yang sama seperti saat menghadapi UTBK-SNBT.
Namun, kali ini ia berusaha lebih tenang dan tidak ingin terlalu larut dalam ketakutan akan kegagalan. Ia mengerjakan setiap soal dengan sungguh-sungguh, sembari berharap kesempatan kedua ini dapat membawanya lebih dekat pada impiannya.
Setelah ujian selesai, Abi segera meninggalkan lokasi dan bergegas pulang. Di sepanjang perjalanan, ia kembali memikirkan hasil yang akan datang, antara harapan untuk berhasil dan ketakutan akan kembali merasakan kekecewaan.
Setibanya Abi di rumah, ia disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Kerinduan yang selama ini ia pendam akhirnya terobati. Setelah sekian lama menghAbiskan waktu di pondok untuk mengabdi dan memperjuangkan cita-citanya, kini ia bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
Hari-harinya di rumah terasa lebih tenang, meskipun sesekali pikirannya masih tertuju pada hasil seleksi UM-PTKIN yang belum diumumkan.
Beberapa minggu kemudian, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pengumuman hasil seleksi UM-PTKIN resmi dibuka. Perasaan gugup kembali menyelimuti Abi, mengingat kegagalan yang pernah ia alami saat UTBK-SNBT.
Dengan langkah perlahan, ia beranjak menuju kamar, menyalakan komputer, lalu membuka laman pengumuman. Jantungnya berdegup kencang ketika mulai memasukkan data yang diperlukan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol untuk melihat hasilnya.
Sesaat kemudian, matanya terpaku pada layar. Ia membaca tulisan yang tertera berulang kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Abi dinyatakan lulus! Rasa haru dan bahagia seketika memenuhi hatinya. Kegagalan yang sebelumnya membuatnya merasa kehilangan harapan kini terbayar oleh kabar yang begitu membahagiakan.
Tanpa membuang waktu, Abi bergegas keluar kamar untuk menemui kedua orang tuanya. Dengan wajah penuh kebahagiaan, ia menyampaikan kabar bahwa dirinya berhasil lolos seleksi UM-PTKIN.
Kedua orang tuanya menyambut kabar itu dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam. Abi merasa lega karena akhirnya bisa memberikan kabar baik setelah sekian lama dihantui ketakutan akan mengecewakan mereka.
Malam itu, Abi menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan. Seandainya ia menyerah setelah tidak lolos UTBK-SNBT, mungkin ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini. Ia belajar bahwa terkadang jalan menuju impian tidak selalu sesuai dengan rencana, tetapi selama seseorang mau mencoba kembali, harapan akan selalu menemukan jalannya.
Penulis: Zamzak
Mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Fakultas Humaniora, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab.
Email: abiezamzak07@gmail.com.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment