Kampus
Opini
Pendidikan
Gen Z Dibilang Krisis Adab, Padahal Yang Tua Juga Krisis Teladan
APERO FUBLIC I Setiap kali ada komentar kasar di media sosial, tudingan biasanya sama: “Anak zaman sekarang nggak punya adab.” Gen Z dicap tidak sopan, suka nyinyir, dan kurang hormat.
Tuduhan itu terdengar meyakinkan sampai kita melihat siapa saja yang sebenarnya menghujat di kolom komentar, membagikan kabar bohong di grup keluarga, dan menyebarkan potongan video tanpa konteks. Ternyata, krisis adab bukan monopoli satu generasi.
Apa Kata Data soal “Netizen Tidak Sopan”?
Rujukan favorit para penuduh adalah Digital Civility Index Microsoft. Dalam laporan yang dirilis Februari 2021, Indonesia berada di peringkat 29 dari 32 negara dengan skor 76, yang dikenal sebagai yang terburuk di Asia Tenggara. Survei itu dilakukan pada April–Mei 2020, dengan 503 responden dari Indonesia, sehingga perlu dibaca sebagai potret, bukan vonis mutlak.
Bagian yang jarang dikutip justru lebih menarik. Menurut laporan Bisnis.com, yang membuat skor Indonesia semakin terpuruk adalah kalangan dewasa, sementara skor netizen remaja tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.
Ancaman terbesarnya adalah hoaks dan penipuan yang naik 13 poin, disusul ujaran kebencian yang naik 5 poin. Laporan Metro TV juga mencatat hoaks dan penipuan sebagai faktor tertinggi yang memengaruhi tingkat kesopanan, dengan persentase 47 persen. Artinya, pelaku utama kegaduhan bukan semata anak muda.
Cermin yang Tidak Enak Dilihat
Ironisnya, begitu hasil survei itu diumumkan, akun Instagram Microsoft dibanjiri komentar netizen Indonesia sampai kolom komentarnya ditutup, sebagaimana dilaporkan Bisnis.com. Seorang pengamat media sosial kala itu menyebut reaksi tersebut sebagai peringatan, dan itu benar.
Kita marah dicap tidak sopan, lalu membuktikannya dengan cara yang sama. Kejadian ini mengajarkan bahwa persoalan adab tidak bisa dibebankan pada satu kelompok usia.
Hoaks: Siapa yang Teladan?
Pada Februari 2024 saja, Kemenkominfo menemukan 3.144 konten hoaks tentang pemilu, menurut rujukan artikel Universitas Airlangga yang mengutip Kompas.com. Hoaks seperti ini bukan hanya kerja anak muda.
Siapa pun yang pernah menerima pesan berantai berisi “sebarkan sebelum dihapus” di grup keluarga tahu bahwa kabar bohong sering datang dari akun orang tua, bukan akun mahasiswa.
Saya tidak menuduh semua orang tua penyebar hoaks, sama seperti tidak adil menuduh semua Gen Z kurang ajar. Poinnya sederhana: kalau generasi yang lebih tua menuntut kesopanan, mereka perlu menunjukkan caranya, bukan hanya menyuruh.
Adab Itu Soal Keteladanan, Bukan Soal Tahun Lahir
Gen Z memang tumbuh di ruang digital yang cepat, bising, dan tanpa tatap muka, dan mereka punya porsi besar di dalamnya: berdasarkan Sensus Penduduk 2020, Gen Z mencapai 27,94 persen dari penduduk Indonesia.
Karena itu wajar bila perilaku daring mereka lebih sering terlihat dan mudah dijadikan contoh buruk. Namun yang terlihat banyak belum tentu yang paling bersalah. Adab dipelajari dengan meniru.
Anak muda yang melihat orang dewasa memaki di kolom komentar, menyebar tuduhan tanpa bukti, atau merundung lewat meme akan menganggap itu normal. Teladan yang buruk tidak akan menghasilkan kesopanan yang baik, secerewet apa pun nasihatnya.
Bukan Berarti Gen Z Tanpa Cela
Tentu saja, membela bukan berarti menutup mata. Ada anak muda yang menulis komentar kasar, merundung teman, atau ikut menyebar kabar yang belum jelas kebenarannya. Perilaku itu salah, dan pelakunya perlu ditegur, siapa pun usianya.
Persoalannya bukan menolak kritik, melainkan menolak generalisasi. Mengkritik perilaku yang buruk adalah hal sehat. Menghukum satu generasi karena ulah sebagian orang adalah kemalasan berpikir yang justru bertentangan dengan adab yang ingin kita tegakkan.
Jalan Keluarnya: Tanggung Jawab Bersama
Pertama, terapkan aturan yang sama untuk semua usia: cek fakta sebelum membagikan, tahan jempol saat marah, dan akui kesalahan bila keliru.
Kedua, kuatkan literasi digital lintas generasi, bukan hanya di sekolah; program pendampingan literasi untuk kelompok lansia, seperti yang digagas Mafindo, menunjukkan bahwa kerentanan terhadap kabar bohong dan penipuan daring dialami orang tua juga.
Ketiga, bangun dialog dua arah: Gen Z perlu belajar menghargai pengalaman yang lebih tua, dan yang lebih tua perlu belajar mendengar tanpa menghakimi.
Penutup
Adab bukan lomba menuding siapa yang paling buruk. Ia adalah kebiasaan yang kita pelihara bersama, dari kolom komentar sampai grup keluarga. Jika kita ingin generasi muda santun, mulailah dari diri sendiri. Sebab generasi yang tidak lagi diceramahi, melainkan diberi contoh, akan jauh lebih mudah belajar bersikap baik.
Oleh: Dewi Maida
Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang
Tangerang Selatan, November 2026.
Editor. Tim Redaksi
Referensi:
Microsoft, Digital Civility Index (dirilis Februari 2021), dilaporkan Bisnis.com (26 Februari 2021), Metro TV, dan Kompas.id; Universitas Airlangga, “Permasalahan Demokrasi di Tengah Digitalisasi”; IDX Channel (data Sensus Penduduk 2020); Antara, “Mafindo Luncurkan Program Tular Nalar Akademi Lansia.”
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment