Kampus
Mahasiswa
Opini
Gandrung Sewu di Era Modernisasi: Tradisi Leluhur yang Bertahan atau Sekadar Pertunjukan”
APERO FUBLIC I Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai budaya dan tradisi. Setiap daerah memiliki seni unik yang menjadi identitas masyarakat dan warisan dari generasi sebelumnya. Salah satu daerah yang terkenal dengan kekayaan seni dan budayanya adalah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Di antara sekian banyak kesenian, Tari Gandrung menjadi simbol budaya yang merefleksikan identitas masyarakat Banyuwangi, khususnya komunitas Osing. Tari ini tidak hanya menampilkan keindahan gerak dan musik tradisional, tetapi juga mencerminkan cinta masyarakat terhadap warisan budaya nenek moyang.
Salah satu upaya untuk mengenalkan dan melestarikan seni ini adalah melalui festival kolosal Gandrung Sewu, yang melibatkan banyak penari dalam satu pertunjukan.
Gandrung Sewu telah diadakan sejak tahun 2012 dan telah berkembang menjadi festival budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyuwangi.
Berdasarkan pengumuman resmi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 23 Oktober 2026, festival ini telah memasuki tahun ke-14. Sepanjang sejarahnya, Gandrung Sewu mengangkat berbagai tema untuk menyoroti sejarah, adat, perjuangan, dan keragaman budaya Banyuwangi.
Hal ini menunjukkan bahwa Gandrung Sewu lebih dari sekadar tontonan; festival ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Antusiasme terhadap Gandrung Sewu terlihat dari jumlah penari yang berpartisipasi. Menurut berita Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 12 Oktober 2026, sekitar 1.300 penari dijadwalkan tampil dalam Gandrung Sewu 2026, dengan sekitar 200 peserta dari luar daerah.
Peserta tersebut datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Palembang, Bali, Malang, Batu, Blitar, Kediri, dan Pasuruan. Ini menunjukkan bahwa daya tarik Gandrung Sewu telah melampaui batasan Banyuwangi dan berhasil menarik minat generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada tahun 2026, Gandrung Sewu mengambil tema Kembang Dermo dengan konsep pertunjukan Glow in the Dark. Berdasarkan laporan resmi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 25 Oktober 2026, pertunjukan yang berlangsung di Pantai Marina Boom pada malam hari ini melibatkan sekitar 1.300 penari dan menarik puluhan ribu penonton.
Kombinasi tari tradisional dengan kostum bercahaya, pencahayaan, serta teknologi modern menciptakan pengalaman baru bagi penonton. Perubahan ini mencerminkan upaya penyelenggara dalam mengembangkan daya tarik festival tanpa mengesampingkan Tari Gandrung sebagai inti pertunjukan.
Namun, di balik kebesaran dan popularitasnya, ada pertanyaan krusial yang perlu dipertimbangkan: apakah perkembangan Gandrung Sewu benar-benar membantu pelestarian budaya atau justru menjadikan tradisi sebagai tontonan untuk menarik turis?
Saya percaya, keberhasilan sebuah festival budaya tidak dapat diukur hanya dari jumlah penari, penonton, atau kemeriahan acara. Yang sama pentingnya adalah sejauh mana masyarakat, terutama generasi muda, memahami sejarah, nilai, dan makna budaya yang terkandung dalamnya. Modernisasi diperlukan agar seni tradisional tetap menarik, namun perubahan tersebut harus menghormati warisan tradisi dari leluhur.
Gandrung Sewu 2026 tidak hanya dilihat sebagai kebanggaan budaya Masyarakat Banyuwangi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengevaluasi pelestarian seni tradisional di tengah perkembangan pariwisata modern.
Festival ini seharusnya berjalan seiring dengan pendidikan budaya, regenerasi seniman, dan keterlibatan masyarakat lokal. Dengan cara ini, Gandrung Sewu tidak hanya semarak saat dipentaskan, tetapi juga tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi, dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang tanpa kehilangan identitas dan makna budayanya.
Dampak Modernisasi pada Gandrung Sewu
Modernisasi merujuk pada transformasi dalam kehidupan sosial yang dipicu oleh kemajuan teknologi, perubahan pola pikir, dan kebutuhan zaman. Dalam kultur modernisasi bisa menjadi peluang bagi seni tradisional untuk tumbuh dan dikenali secara luas.
Namun, hal ini juga dapat menjadi tantangan jika fokusnya lebih pada kemewahan pertunjukan dibandingkan dengan nilai-nilai budaya yang terkandung. Hal ini terlihat pada penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026 di Kabupaten Banyuwangi.
Pada 24 Oktober 2026, Gandrung Sewu diadakan dengan konsep Glow in the Dark, sebuah inovasi pertama dalam sejarah festival ini. Pertunjukan malam di Pantai Marina Boom ini menggabungkan tarian tradisional dengan elemen cahaya modern dan teknologi. Menurut Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Gandrung Sewu sudah ada sejak 2012 dan pada 2026 memasuki tahun ke-14.
Perubahan konsep ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional bisa beradaptasi tanpa kehilangan identitas asalnya. Di sisi positif, penerapan teknologi dan konsep pertunjukan modern dapat meningkatkan minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal Tari Gandrung.
Pertunjukan yang disajikan secara kreatif memiliki potensi untuk memperluas promosi budaya lewat media sosial, sehingga modernisasi berfungsi sebagai alat untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat yang kurang familiar dengan seni tradisional Banyuwangi.
Namun, modernisasi harus diterapkan dengan bijaksana. Unsur-unsur seperti efek cahaya, kostum, dan teknologi seharusnya mendukung, bukan mendominasi makna budaya. Jika perhatian masyarakat lebih kepada keindahan visual, ada risiko bahwa Gandrung Sewu akan lebih dikenal sebagai pertunjukan spektakuler ketimbang sebagai bagian dari warisan budaya Banyuwangi.
Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan informasi tentang sejarah, filosofi gerakan, musik pengiring, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya.
Perkembangan Pariwisata dan Dampak Ekonomi dari Gandrung Sewu
Gandrung Sewu tidak hanya berfungsi sebagai alat pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat daya tarik pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Festival ini menghubungkan seni tradisional dengan sektor pariwisata, yang dapat menarik pengunjung dari berbagai daerah.
Kehadiran wisatawan memberikan peluang bagi pelaku usaha lokal, seperti penyedia penginapan, makanan, transportasi, hingga usaha kerajinan.
Menurut laporan resmi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 24 Oktober 2026, penyelenggaraan Gandrung Sewu menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada periode 21-25 Oktober 2026, hotel dan homestay di Banyuwangi dipastikan penuh.
Pemerintah daerah berharap peningkatan kunjungan ini dapat membawa manfaat ekonomi bagi berbagai sektor usaha di masyarakat, menunjukkan adanya hubungan antara penyelenggaraan festival budaya dan meningkatnya permintaan layanan pariwisata, meskipun belum ada data pasti mengenai pendapatan yang dihasilkan.
Peningkatan mobilitas pariwisata juga terlihat dari laporan aktivitas penerbangan. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Banyuwangi mencatat 1.142 penumpang di Bandara Banyuwangi pada 21-23 Oktober 2026. Namun, angka tersebut mencerminkan total penumpang selama tiga hari, bukan jumlah wisatawan yang secara khusus datang untuk menyaksikan Gandrung Sewu.
Saya percaya bahwa perkembangan pariwisata melalui Gandrung Sewu adalah peluang yang harus dijaga, karena membantu mengenalkan identitas Banyuwangi dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, keberhasilan festival tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya pengunjung atau penuhnya akomodasi.
Pemerintah dan penyelenggara juga perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal, terutama para penari, pelatih, seniman musik tradisional, perajin kostum, dan pelaku usaha kecil.
Pengembangan pariwisata berbasis Gandrung Sewu perlu dilakukan secara berkelanjutan, dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama, bukan sekadar pelengkap. Melibatkan sanggar seni, grup budaya, UMKM, dan komunitas dalam perencanaan serta penyelenggaraan festival dapat menjadikan Gandrung Sewu sebagai kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat budaya daerah.
Tantangan Mempertahankan Makna Tradisi Gandrung Sewu
Dibalik kemewahan pertunjukan dan meningkatnya daya tarik wisatawan, tantangan terbesar bagi Gandrung Sewu adalah memastikan tradisi tidak kehilangan maknanya.
Kebudayaan tidak hanya berupa kostum, tarian, atau pertunjukan, tetapi juga mencakup nilai, pengetahuan, sejarah, dan cara hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi. pelestarian Gandrung Sewu tidak cukup dilakukan hanya melalui festival tahunan, tetapi perlu diimbangi dengan upaya untuk memastikan masyarakat memahami dan menghayati nilai budaya yang terkandung.
Tantangan ini semakin penting seiring dengan perkembangan Gandrung Sewu sebagai atraksi wisata besar. Tekanan untuk menghadirkan pertunjukan yang menarik dapat mendorong penyelenggara untuk melakukan inovasi, dari perubahan waktu pertunjukan hingga pemanfaatan teknologi modern.
Inovasi ini tidak selalu bertentangan dengan tradisi, namun masalah muncul ketika perkembangan pertunjukan terfokus pada kepuasan penonton dan daya tarik wisata, sementara sejarah dan nilai budaya yang menjadi dasar kurang diperhatikan.
Contoh: tema Kembang Dermo yang diusung dalam Gandrung Sewu 2026 menunjukkan upaya untuk menghadirkan cerita yang berakar pada adat dan tradisi lokal yang ada di banyuwangi. Hal Ini memperlihatkan bahwa pertunjukan kolosal dapat menjadi media untuk menyampaikan cerita budaya kepada masyarakat luas.
Namun, agar pesan tersebut tidak sekadar simbol, diperlukan edukasi yang menjelaskan latar belakang tema, makna simbol yang digunakan, dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat lokal.
Tantangan berikutnya adalah regenerasi seniman dan penari. Keterlibatan generasi muda sangat penting untuk berkontribusi dalam Tari Gandrung. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa Gandrung Sewu 2026 melibatkan 1.300 penari, termasuk 200 peserta dari luar daerah.
Meskipun angka ini menunjukkan daya tarik festival dan keterlibatan penari muda, jumlah peserta saja tidak menjamin adanya regenerasi yang berkelanjutan. Regenerasi memerlukan latihan rutin, pendidikan budaya, dukungan bagi sanggar seni, dan kesempatan bagi penari untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam menyambut Gandrung Sewu yang akan mendatang.
Menjaga makna tradisi Gandrung Sewu memerlukan kolaborasi antara pemerintah, seniman, lembaga pendidikan, pelaku pariwisata, keluarga, dan Masyarakat lokal. Pendidikan mengenai sejarah dan filosofi Gandrung perlu diperkuat, sementara penari dan pelatih harus diberikan penghargaan yang pantas atas dedikasi mereka.
Selain itu, promosi di platform digital sebaiknya tidak hanya menampilkan kemewahan pertunjukan, tetapi juga mencakup proses latihan, perjalanan para seniman, sejarah tarian, serta nilai budaya masyarakat Osing.
Argumentasi
Menurut saya promosi pariwisata dan pelestarian nilai budaya harus berjalan seiring waktu dalam penyelenggaraan Gandrung Sewu. Keduanya tidak seharusnya saling bertentangan, karena pariwisata dapat menjadi alat untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas, sementara pelestarian budaya menjamin bahwa kesenian yang dipromosikan tetap memiliki makna dan identitas.
Jika promosi wisata hanya fokus pada kemewahan pertunjukan dan jumlah pengunjung, maka ada risiko bahwa nilai budaya yang mendasari kesenian tersebut akan terabaikan.
Di sisi lain, jika tradisi dipertahankan tanpa upaya untuk memperkenalkannya kepada generasi muda, peluang untuk memperluas apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal bisa menjadi terbatas.
Pentinya keseimbangan ini terlihat dari perkembangan Gandrung Sewu di Banyuwangi. Menurut laporan resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 23 Oktober 2026, Gandrung Sewu telah diselenggarakan sejak 2012 dan memasuki tahun ke-14 pada 2026.
Selama perjalanan tersebut, festival ini mengangkat berbagai cerita tentang sejarah, adat, perjuangan, dan keragaman budaya Banyuwangi. Pada tahun 2026, festival ini mengusung tema Kembang Dermo dengan pertunjukan malam bertema Glow in the Dark.
Perubahan ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional di era modernisasi dapat berkembang melalui inovasi sambil tetap menjadi sarana untuk memperkenalkan cerita dan identitas budaya daerah.
Akhirnya, saya percaya bahwa Gandrung Sewu akan menjadi lebih berarti jika keberhasilan promosi pariwisata diukur bersamaan dengan keberhasilan pelestarian budaya. Meskipun banyaknya wisatawan dapat menciptakan peluang ekonomi, keberlangsungan tradisi Gandrung Sewu sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk memahami, mengamalkan, dan mewariskannya.
Oleh karena itu, keindahan pertunjukan harus selaras dengan penguatan identitas budaya, kesejahteraan para seniman, dan pendidikan bagi generasi mendatang. Gandrung Sewu seharusnya tidak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke Banyuwangi, tetapi juga menjadi bukti bahwa Masyarakat Banyuwangi terus menjaga dan menghidupkan warisan nenek moyang.
Kesimpulan
Gandrung Sewu merupakan festival budaya yang tidak hanya memperkenalkan Tari Gandrung dan identitas masyarakat Osing, tetapi juga membuka peluang bagi perkembangan pariwisata serta perekonomian masyarakat Banyuwangi.
Modernisasi melalui konsep pertunjukan seperti Glow in the Dark dapat meningkatkan daya tarik festival, terutama bagi generasi muda dan wisatawan. Namun, inovasi tersebut harus tetap ditempatkan sebagai pendukung, bukan pengganti, nilai sejarah, filosofi, dan makna budaya yang terkandung dalam Tari Gandrung.
Keberhasilan Gandrung Sewu tidak cukup diukur dari jumlah penari, penonton, wisatawan, atau kemeriahan pertunjukan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana festival ini mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap budaya Banyuwangi, mendorong regenerasi seniman, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, serta memastikan keterlibatan komunitas pemilik budaya dalam setiap proses penyelenggaraannya.
Promosi pariwisata juga perlu disertai edukasi mengenai sejarah, gerakan, musik, busana, dan nilai-nilai masyarakat Osing agar pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan semata. Oleh karena itu, pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata harus berjalan seimbang.
Pemerintah, seniman, lembaga pendidikan, pelaku usaha, komunitas budaya, dan masyarakat lokal perlu bekerja sama untuk menjaga kelestarian Gandrung Sewu.
Dengan demikian, Gandrung Sewu tidak hanya menjadi daya tarik wisata dan sumber peluang ekonomi, tetapi juga tetap menjadi ruang pendidikan, pewarisan tradisi, serta bukti bahwa masyarakat Banyuwangi mampu menghidupkan warisan leluhur tanpa kehilangan identitas dan maknanya di era modern.
Penulis: Moh. Dival Rivaldi
Mahasiswa UIN Khas Jember, FTIK, Tadris IPS.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment