Kampus
Mahasiswi
Opini
Membaca Realitas Mahasiswa Lewat Lakon “Rantau” di Malpract Fest 2026
APERO FUBLIC I UKM Hampa sukses menghentak panggung seni pertunjukan melalui pementasan teater bertajuk ”Rantau” dalam pergelaran megah Malpract Fest yang berlangsung di panggung Ganesha, Universitas Negeri Malang pada Jum’at, 30 Oktober 2026.
Pertunjukan ini menyoroti potret dinamika sosial kehidupan kampus dengan membenturkan realitas kehidupan dua mahasiswa baru yang bertolak belakang: seorang mahasiswa berambisi tinggi yang gigih berjuang menembus keterbatasan ekonomi, serta seorang mahasiswa berlatar belakang kaya raya yang hanyut dalam kehidupan hedonisme di tanah perantauan.
Diangkatnya lakon ini bertujuan untuk memberikan cermin kritis sekaligus refleksi mendalam mengenai dinamika penyesuaian diri, perjuangan moral, dan benturan nilai yang kerap dialami oleh kaum muda ketika menjejakkan kaki di kota pendidikan Malang.
Secara konseptual dan dramaturgi, alur cerita yang disajikan para aktor berhasil mengaduk perasaan audiens serta menyampaikan pesan moral yang tajam tanpa terasa menggurui. Penokohan yang kontrastif diolah sedemikian rupa sehingga dinamika emosi antartokoh mampu membangun ketegangan yang konsisten dan menyedot perhatian penonton sejak awal babak dibuka.
Meskipun demikian, kenyamanan dan keutuhan estetika pertunjukan ini sempat terganjal oleh beberapa kendala teknis di lapangan. Pengaturan tata cahaya (lighting) beberapa kali mengalami kesalahan momen dan dinamika perubahan warna yang kurang presisi, sehingga atmosfer adegan yang seharusnya intim kerap buyar seketika.
Di samping itu, alur keluar-masuk penampil di area samping panggung tampak kurang tertata rapi merusak fokus adegan. Proyeksi serta artikulasi vokal dari beberapa pemain pun beberapa kali tenggelam dan tidak menjangkau ruang dengar penonton di barisan belakang.
Namun di balik kelemahan teknis tersebut, kepiawaian para pemain dalam mengontrol gestur, menghayati emosi karakter, serta menjaga kesinambungan alur cerita layak diacungi jempol; ketangguhan akting mereka terbukti mampu menjaga daya tarik pementasan hingga adegan pamungkas.
Kendala di atas turut dibenarkan oleh salah satu pemain tokoh pendukung (penari latar). Ia menjelaskan bahwa kekacauan jalur pentas terjadi karena ruang sayap panggung menyempit akibat tertutup perangkat sound system pengisi acara musik, sehingga pemain terpaksa naik-turun tangga dan melintas di depan panggung. Selain itu, ketiadaan mikrofon membuat suara dan dialog para penampil terdengar samar.
“Alur keluar-masuk penari dan aktor tidak sesuai latihan dari biasanya. Penyebab utama ruang di samping panggung menyempit karena dipenuhi sound system anak musik, jadi terpaksa harus naik-turun tangga dan lewat depan panggung. Dan juga aktor dan penari tidak diberikan mic sehingga koordinasi/suara menjadi terdengar berbisik-bisik,” ujar Arsy selaku talent teater.
Pementasan “Rantau” oleh UKM Hampa dalam acara Malpract Fest 2026 pada akhirnya berdiri sebagai sebuah karya pertunjukan yang tak hanya menghibur, tetapi juga berhasil menyuguhkan refleksi sosial yang amat relevan dengan kehidupan kemahasiswaan.
Sebagai langkah perbaikan untuk karya-karya mendatang, tim produksi disarankan untuk memperketat koordinasi teknis, khususnya pada gladi bersih penataan pencahayaan, pemetaan alur keluar-masuk pemain di balik layar, serta penguatan teknik olah vokal aktor maupun dukungan perangkat mikrofon yang lebih mumpuni.
Dengan evaluasi mendalam pada aspek operasional teknis panggung tersebut, potensi kualitas pertunjukan UKM Hampa diyakini akan semakin matang dan tampil jauh lebih memukau pada ajang panggung teater berikutnya.
Oleh: Astria Angesti Laras
Mahasiswi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan, Universitas Negeri Malang.
Email: lio.predy@gmail.com.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment