Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Lima Menit yang Berubah Menjadi Berjam-jam: Mengapa Scrolling TikTok di Kalangan Mahasiswa Perlu Dibatasi?
APERO FUBLIC I Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Salah satu platform yang banyak digunakan adalah TikTok, aplikasi ini menawarkan berbagai video pendek mulai dari hiburan, informasi, pendidikan, hingga tren kehidupan sehari-hari.
Konten yang beragam dan mudah diakses membuat banyak orang tertarik untuk terus menonton video demi video. Tidak jarang, seseorang awalnya hanya berniat membuka TikTok selama lima menit untuk mengisi waktu luang, tetapi pada akhirnya menghabiskan waktu hingga berjam-jam tanpa disadari.
Fenomena ini perlu mendapat perhatian karena mahasiswa memiliki tanggung jawab akademik yang menuntut kedisiplinan, konsentrasi, dan kemampuan mengatur waktu. Penggunaan TikTok yang berlebihan dan sulit dikendalikan seharusnya tidak lagi dianggap sebagai kebiasaan sepele, tetapi sebagai perilaku digital yang perlu dibatasi dan diatur secara tegas.
Scrolling TikTok dapat mengurangi produktivitas mahasiswa
Kebiasaan scrolling tanpa batas dapat membuat mahasiswa menunda pekerjaan akademik. Ketika perhatian terus tertuju pada video yang berganti dengan cepat, waktu untuk membaca materi, mengerjakan tugas, dan mempersiapkan ujian menjadi berkurang.
Masalahnya bukan semata-mata pada aplikasi TikTok, melainkan pada kebiasaan menggunakan aplikasi tersebut tanpa memperhatikan kebutuhan dan tanggung jawab yang lebih penting.
Penelitian Miedzobrodzka, Du, dan van Koningsbruggen (2024) membahas penggunaan TikTok dan kegagalan mengendalikan penggunaannya dalam kaitannya dengan kinerja akademik, kesejahteraan, serta kebiasaan dan kualitas tidur. Hal ini menunjukkan pentingnya membedakan penggunaan untuk hiburan yang terkontrol dengan penggunaan yang sulit dihentikan.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu menetapkan batas waktu penggunaan TikTok dan menjadikan penyelesaian tugas sebagai prioritas. Hiburan seharusnya menjadi bagian dari waktu luang, bukan kegiatan yang terus-menerus mengambil alih waktu produktif.
Penggunaan TikTok secara berlebihan dapat berisiko terhadap kesehatan
Menggunakan TikTok dalam waktu lama, terutama hingga larut malam, dapat membuat mahasiswa mengurangi waktu tidurnya. Selain itu, menatap layar terlalu lama dapat berkaitan dengan kelelahan mata, sedangkan waktu yang terlalu banyak dihabiskan dengan ponsel dapat mengurangi kesempatan untuk bergerak dan beraktivitas fisik.
Risiko tersebut tidak berarti setiap pengguna TikTok pasti mengalami gangguan kesehatan. Namun, ketika kebiasaan scrolling mulai mengganggu waktu tidur, aktivitas fisik, atau rutinitas sehari-hari, penggunaan aplikasi tersebut perlu dievaluasi.
Karena itu, mahasiswa perlu menerapkan aturan yang jelas, seperti menghentikan penggunaan ponsel menjelang waktu tidur, mengambil jeda dari layar, dan tidak menjadikan TikTok sebagai kegiatan utama ketika sedang beristirahat. Menjaga kesehatan harus menjadi prioritas, bukan dikorbankan demi mengikuti konten yang terus bermunculan.
Scrolling berlebihan berpotensi mengganggu konsentrasi
Konsentrasi merupakan salah satu kemampuan penting dalam proses belajar. Mahasiswa membutuhkan perhatian yang cukup untuk memahami materi kuliah, menganalisis informasi, dan menyelesaikan tugas. Akan tetapi, kebiasaan berpindah dari aktivitas belajar ke video pendek secara berulang dapat memecah perhatian dan membuat proses belajar menjadi kurang efisien.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 2025, berjudul Feeds, Feelings, and Focus, menemukan hubungan antara penggunaan video pendek yang lebih tinggi dan kemampuan kognitif yang lebih rendah pada sejumlah aspek, termasuk perhatian dan kontrol inhibisi.
Temuan ini merupakan bukti adanya hubungan statistik, bukan kepastian bahwa TikTok menyebabkan kerusakan otak pada setiap penggunanya.
Dengan demikian, persoalan yang perlu dikritisi bukan anggapan bahwa TikTok pasti merusak otak, melainkan kebiasaan menggunakan konten digital secara berlebihan hingga berpotensi mengganggu kemampuan mempertahankan perhatian.
Mahasiswa perlu membiasakan diri belajar tanpa gangguan notifikasi, menjauhkan ponsel saat mengerjakan tugas, dan memberi waktu bagi otak untuk beristirahat tanpa terus-menerus menerima rangsangan dari layar.
Penggunaan TikTok perlu dibatasi melalui aturan yang tegas
Melihat risiko yang mungkin muncul, penggunaan TikTok perlu diatur secara sadar dan disiplin. Mahasiswa dapat menetapkan batas durasi harian, memanfaatkan fitur pengingat waktu layar, menonaktifkan notifikasi yang tidak penting, serta menghindari scrolling ketika sedang belajar atau menjelang tidur.
Selain pengaturan pribadi, kampus juga dapat berperan melalui edukasi literasi digital agar mahasiswa memahami pentingnya mengelola waktu dan perhatian. Meskipun demikian, pembatasan tidak harus berarti pelarangan total.
TikTok tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi, hiburan, dan media pembelajaran apabila digunakan secara tepat. Yang perlu dibatasi adalah penggunaan berlebihan yang sulit dikendalikan dan mulai mengganggu tanggung jawab akademik maupun kesehatan.
Mahasiswa perlu membuktikan bahwa mereka mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana, bukan sekadar mengikuti kebiasaan digital tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Kesimpulan
Fenomena scrolling TikTok di kalangan mahasiswa perlu disikapi secara kritis. Penggunaan yang berlebihan dan sulit dikendalikan dapat mengurangi waktu produktif, berisiko mengganggu kesehatan, serta berkaitan dengan kesulitan mempertahankan perhatian.
Meskipun dampaknya tidak sama pada setiap orang dan tidak semua penggunaan TikTok merugikan, risiko tersebut cukup menjadi alasan untuk membangun kebiasaan digital yang lebih teratur.
Oleh karena itu, pembatasan penggunaan TikTok perlu diterapkan secara tegas melalui kedisiplinan pribadi, pengaturan waktu layar, dan peningkatan kesadaran literasi digital. Mahasiswa harus mampu menentukan kapan waktunya belajar dan kapan waktunya mencari hiburan.
Pada akhirnya, bukan seberapa lama mahasiswa mampu mengikuti arus konten digital yang menentukan kualitas dirinya, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan waktu, perhatian, dan tanggung jawabnya sendiri.
Oleh :
- Zasqiya Hilyatul Aulia
- Thalita Naila Sajidah
Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Tadris IPS UIN Khas Jember.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment