Kampus
Opini
Pendidikan
Apakah Kepedulian Harus Terlihat di Layar?
APERO FUBLIC I Teman kita masih membalas chat, masih datang kalau diajak nongkrong, bahkan minggu lalu baru membantu kita pindahan. Tetapi di hari ulang tahun kita, ia tidak mengunggah apa pun. Dan entah kenapa, itu yang membuat kita berpikir dua kali tentang pertemanan ini.Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan itu, entah dari kepala kita sendiri atau dari orang lain:
“Loh, kok dia tidak mengucapkan?” “Bukannya mereka berteman?”
“Sudah tidak berteman, ya?”
Sepele, memang. Namun pertanyaan itu menandakan sesuatu yang bergeser pelanpelan. Media sosial bukan lagi sekadar tempat memajang liburan atau makan siang. Ia sudah menjadi tempat kita mengecek hubungan: siapa dekat dengan siapa, siapa peduli pada siapa. Dan di tempat seperti itu, tidak muncul sama dengan tidak ada.Skalanya bisa jauh lebih besar.
Pada Kamis, 28 Agustus 2025, Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring berusia 21 tahun, tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di sekitar Gedung DPR, Jakarta. Kemarahan publik meledak, dan lini masa ikut memeriksa siapa yang bersuara dan siapa yang tidak.
Menurut pemberitaan, Denny Cagur, anggota DPR yang biasanya aktif di media sosial, disentil warganet karena dianggap diam. Setelah didesak, ia akhirnya mengunggah belasungkawa. Ahmad Dhani, yang juga wakil rakyat, baru menyampaikan belasungkawa beberapa hari kemudian, dan langsung dibilang terlambat.
Coba perhatikan polanya. Diam, dikritik. Bersuara setelah didesak, dianggap terlambat. Bersuara beberapa hari kemudian, tetap dianggap terlambat. Tidak ada posisi yang aman.
Artinya, yang dinilai bukan lagi kepedulian, melainkan kecepatan dan format: seberapa cepat seseorang mengunggah, dan apakah bentuknya cukup meyakinkan. Ada satu hal yang luput dari penghakiman itu: kita tidak pernah tahu mengapa seseorang diam.
Bisa jadi ia memang tidak peduli. Bisa juga ia sedang mengurus hal lain yang tidak pernah masuk layar. Unggahan bukan alat untuk mengetahuinya.Bukan berarti tuntutan kepada figur publik itu keliru. Jangkauan mereka besar, dan bagi pejabat, bersuara di ruang publik memang bagian dari amanah. Kritik semacam itu sah. Yang bermasalah adalah ketika unggahan dijadikan satu-satunya alat ukur.
Menariknya, riset justru menunjukkan bahwa yang terlihat belum tentu lebih tulus. Kristofferson, White, dan Peloza dalam Journal of Consumer Research (2014) menemukan bahwa orang yang menunjukkan dukungan simbolis secara terbuka lebih jarang melanjutkannya dengan tindakan nyata dibandingkan mereka yang mendukung diam-diam.
Pendorongnya adalah keinginan menjaga citra di mata orang lain. Temuan itu soal dukungan untuk isu sosial seperti donasi, bukan soal ucapan duka, jadi tidak bisa dipukul rata. Tetapi pesannya terang: memamerkan dukungan dan memberi dukungan adalah dua hal yang berbeda.
Dan ketika tekanan untuk terlihat peduli makin kuat, unggahan yang lahir dari tekanan sulit dibedakan dari upaya menyelamatkan citra.Di sinilah etika digital, salah satu dari empat pilar literasi digital yang dirumuskan pemerintah, punya pekerjaan rumah yang jarang disebut. Selama ini etika dipahami sebagai daftar larangan: jangan menghina, jangan menyebar hoaks, jangan merundung.
Padahal ada etika yang lebih halus dan lebih sering kita langgar tanpa sadar, yaitu cara kita menafsirkan perilaku orang lain, lalu memperlakukan mereka berdasarkan tafsiran itu. “Dia tidak mengunggah” dan “dia tidak peduli” adalah dua kalimat yang berbeda.Lalu apa yang bisa dilakukan?
Dalam pertemanan, jawabannya sederhana tetapi agak merepotkan: bertanya, bukan menyimpulkan. Satu pesan pribadi sering lebih jujur daripada seribu tafsir atas sebuah layar. Terhadap figur publik, naikkan standar tuntutannya.
Mempertanyakan diam mereka sah, tetapi kasus Affan menyimpan persoalan yang jauh lebih berat daripada siapa mengunggah apa. Komnas HAM menyebut kematiannya sebagai extrajudicial killing, dan tujuh anggota Brimob menjalani pemeriksaan.
Bagi anggota DPR, ukuran yang lebih bermakna ada pada sikap mereka terhadap pengawasan aparat dan pengusutan kasus ini. Unggahan bisa dibuat dalam semenit. Sikap tidak.Ini bukan ajakan berhenti menunjukkan kepedulian di media sosial.
Mengucapkan selamat, menyampaikan belasungkawa, atau mengajak orang lain peduli lewat layar sama sekali tidak salah. Yang perlu kita curigai adalah kebiasaan menjadikan apa yang terlihat sebagai satu-satunya ukuran.
Barangkali kita tidak kekurangan empati. Kita hanya terlalu terbiasa melihatnya dalam bentuk unggahan. Tidak semua yang penting harus terlihat di layar. Dan tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak pernah ada.
Oleh: Muhammad Fakhri Alfahrezie
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Bengkulu.
Email: mfakhrialfahrezie20025@gmail.com
Instagram: @fakhrifahrezie
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment