Beladiri
Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Silat
Pencak Silat sebagai Pendidikan Karakter: Membentuk Generasi Muda yang Disiplin, Sportif, dan Bertanggung Jawab
Bukan Sekadar Belajar Menendang dan Memukul
APERO FUBLIC I Apa yang sebenarnya dipelajari seorang atlet ketika ia berada di gelanggang pencak silat? Apakah hanya tentang bagaimana melakukantendangan dengan tepat, melakukan serangan, atau memenangkan pertandingan?Lebih dari itu, latihan pencak silat dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar tentang disiplin, sportivitas, tanggung jawab,pengendalian diri, dan penghargaan terhadap orang lain.
Setiap gerakan yang diulang, setiap instruksi yang diikuti, dan setiap evaluasi yang diterimamerupakan bagian dari proses pembentukan diri.Hal tersebut menjadi salah satu pengalaman yang ditemukan dalam pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) oleh Branvitt Ronal Sepvando,mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Praktik Kependidikan dilaksanakan pada 20 Juli–25 September 2026 di IPSI Kota Yogyakarta, dengan lokasi latihan di Gedung Olahraga SMA Negeri 11Yogyakarta, Jl. Gotongroyong II, Petinggen, Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta.
Ketika Latihan Menjadi Proses
Pendidikan dalam latihan pencak silat, atlet dituntut untuk mengikuti program yang telah disusun, memperhatikan instruksi pelatih, melakukan pemanasan,menjaga keselamatan pasangan latihan, serta menyelesaikan rangkaian latihan dengan sungguh-sungguh.
Proses tersebut membentuk kebiasaan yangtidak berhenti ketika latihan selesai. Disiplin, misalnya, tidak terbentuk hanya melalui nasihat. Disiplin dibangun melalui kebiasaan hadir danmengikuti latihan secara konsisten, menjalankan instruksi, mengulang teknik, serta menyelesaikan latihan meskipun menghadapi kelelahan.
Di sinilah olahraga memiliki dimensi pendidikan. Atlet tidak hanya belajar how to move, tetapi juga belajar how to behave. pencak silat menjadiruang tempat kemampuan fisik dan pembentukan karakter berjalan secara bersamaan.
Sportivitas Dimulai dari Cara Memperlakukan Lawan
Pencak silat juga mempertemukan atlet dengan situasi kompetitif. Ada serangan dan pertahanan, ada kemenangan dan kekalahan, serta adaproses evaluasi yang harus diterima. Namun, keberadaan lawan tidak semata-mata berarti adanya seseorang yang harus dikalahkan.
Lawan juga menjadi bagian dari proses seorang atlet untuk berkembang. Melalui latihan bersama, atlet belajar untuk menghormati pasangan, menjaga keselamatan, mengikuti aturan, menerima koreksi, danmengendalikan kemampuan fisiknya. Sportivitas dengan demikian bukan hanya ditunjukkan setelah pertandingan selesai, tetapi juga dibentuk melaluiperilaku selama proses latihan.
Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri dan Orang Lain
Karakter lain yang penting dalam pembinaan olahraga adalah tanggung jawab. Atlet memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama juga memiliki tanggung jawab terhadap pasangan latihan dan lingkungan latihan.
Ketika melakukan latihan berpasangan, misalnya, atlet harus mampu mengendalikan gerakan agar latihan tetap aman. Ketika menerimainstruksi teknik, atlet perlu memahami bahwa pelaksanaan gerakan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan dirinya, tetapi juga dapat berdampakpada orang lain. dengan demikian, pencak silat menyediakan ruang bagi atlet untuk belajar bahwa kemampuan harus disertai dengan kontrol dantanggung jawab.
Olahraga dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam konteks ini, pencak silat dapat ditempatkandalam pembahasan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena proses latihan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mengembangkan keterampilansekaligus nilai dan karakter.
Kegiatan olahraga juga dapat dikaitkan dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, terutamamelalui pembiasaan menghormati aturan, mengembangkan sportivitas, bertanggung jawab, dan membangun interaksi yang saling menghargai.
Artinya, kontribusi olahraga terhadap SDGs tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Proses sederhana yang berlangsung secarakonsisten di tempat latihan juga dapat menjadi bagian dari pembentukan generasi muda yang memiliki keterampilan sekaligus karakter.
Dari Gelanggang, Nilai Dibawa ke Kehidupan
Pengalaman Praktik Kependidikan di IPSI Kota Yogyakarta memperlihatkan bahwa pembinaan atlet tidak hanya berkaitan dengan bagaimanameningkatkan kemampuan teknik dan kondisi fisik. Proses kepelatihan juga berhadapan dengan manusia yang sedang berkembang.
Seorang atlet mungkin datang ke gelanggang untuk belajar melakukan tendangan, pukulan, counter, atau kombinasi serangan. Namun, dalam proses yang sama, iajuga belajar datang tepat waktu, mendengarkan instruksi, menghargai pasangan, menerima kesalahan, memperbaiki diri, dan bertanggung jawabterhadap tindakannya.
Pada akhirnya, nilai terbesar dari olahraga mungkin tidak selalu terlihat di papan skor. Nilai tersebut dapat terlihat dari bagaimana seorang atletmembawa disiplin dari tempat latihan, sportivitas dari pertandingan, dan tanggung jawab dari proses pembinaan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pencak silat dapat dipahami bukan hanya sebagai seni bela diri dan olahraga prestasi, tetapi juga sebagai ruang pendidikan karakterbagi generasi muda. Melalui latihan yang konsisten, pembinaan yang terarah, dan lingkungan yang mendukung, gelanggang dapat menjadi tempat dimana generasi muda tidak hanya menjadi lebih kuat secara fisik, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang disiplin, sportif, dan bertanggung jawab.
Oleh: Branvitt Ronal Sepvando
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Beladiri

Post a Comment