Feature
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Bermain Peran “Sang Pejuang” Kenalkan Sejarah Kemerdekaan kepada Anak di RA Fairuz Aqila
( Dokumentasi Kegiatan )
APERO FUBLIC I SLEMAN.– RA Fairuz Aqila melaksanakan kegiatan bermain peran makro dengan tema “Sang Pejuang” sebagai puncak topik kemerdekaan pada Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 95 anak yang terdiri dari tiga kelas A dan tiga kelas B. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di halaman kelas serta ruang kelas Nebula, Eris, Milky Way, dan Sirius.
Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) turut membantu guru dalam mengondisikan anak selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang aktif, bermakna, dan menyenangkan, serta berkaitan dengan (SDGs) 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui pengenalan nilai persatuan, kerja sama, dan cinta tanah air.
Kegiatan bermain peran “Sang Pejuang” bertujuan mengenalkan tokoh dan perjuangan kemerdekaan Indonesia kepada anak melalui pengalaman belajar secara langsung. Anak-anak memainkan berbagai peran, seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Fatmawati, Ahmad Soebardjo, Sayuti Melik, Laksamana Maeda, Sukarni, Sutan Sjahrir, Adam Malik, serta peran sebagai tentara, polisi, tim medis, dan tokoh lainnya.
Dalam pelaksanaannya, anak tidak menggunakan naskah secara penuh, tetapi mengikuti alur yang telah diarahkan oleh guru sehingga dapat bermain secara spontan dan menyenangkan.
Berbagai properti juga digunakan untuk mendukung kegiatan, seperti alat kesehatan, alat reporter, kamera yang dibuat dari paralon dan casing HP, alat ketik, jas hujan, serta loose parts sebagai pengganti rempah-rempah. Beberapa bahan yang digunakan juga berasal dari bahan sederhana dan bahan bekas, seperti kertas, koran, dan kalender bekas. Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian pembelajaran pada topik kemerdekaan.
Anak-anak menunjukkan antusiasme yang tinggi karena telah menunggu kegiatan bermain peran sebagai puncak topik. Melalui kegiatan tersebut, anak memperoleh pengalaman belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan sekaligus mengembangkan kemampuan bahasa, komunikasi, kepercayaan diri, kolaborasi, dan kerja sama.
Anak juga belajar menaati aturan permainan, saling menolong, mengenal simbol-simbol negara, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air. Selain itu, kegiatan turut melibatkan kolaborasi guru dan wali murid dalam menyiapkan berbagai properti yang digunakan dalam bermain peran.
“Belajar sejarah memang perlu naskah, tetapi dapat diimplementasikan tidak hanya dengan berkisah. Bermain peran makro pada anak usia dini sangat berkesan bagi anak, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar serta dapat menjadi inspirasi kegiatan di lembaga lain,” ujar Ummi Ovi, salah satu guru.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah pada anak usia dini tidak harus dilakukan hanya melalui kegiatan berkisah. Melalui kegiatan bermain peran “Sang Pejuang”, pembelajaran sejarah diharapkan dapat terus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu anak mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama, serta mengenal nilai persatuan dan cinta tanah air sejak dini.
Oleh: Tim Mahasiswa PK
Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK), Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment