Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Program “Inside Out” UM Berakhir, Mitra Siap Lanjutkan Pemberdayaan Anak Marginal Secara Mandiri
APERO FUBLIC I BLITAR.-- 27 Agustus 2026 — Rangkaian program pemberdayaan anak marginal melalui program “Inside Out” yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) resmi berakhir setelah berlangsung selama satu bulan, terhitung sejak 17 Juli hingga 16 Agustus 2026. Penutupan program ditandai dengan selesainya seluruh tahapan kegiatan sekaligus beralihnya tanggung jawab pelaksanaan kepada mitra.
Program yang merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini melibatkan sebanyak 22 anak asuh Panti Asuhan Miftahul Huda, Balerejo, Wlingi, Kabupaten Blitar. Beragam kegiatan dirancang dengan menggabungkan unsur kreativitas, pengembangan diri, interaksi sosial, literasi digital, serta pembentukan kemandirian anak.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pemberdayaan Anak Marginal Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan Berbasis Teori Psychological Well-Being di Komunitas Berbagi Peduli Blitar”. Gagasan program berangkat dari kondisi mitra, yaitu Komunitas Berbagi Peduli Blitar, yang selama ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik anak-anak binaan.
Melalui program ini, perhatian kemudian diperluas pada aspek psikologis yang turut berperan dalam proses tumbuh kembang anak, seperti kepercayaan diri, kemampuan membangun hubungan sosial, dan kemandirian.
Tim pelaksana diketuai oleh Yunita Sindi Rahmasari dari Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), bersama empat anggota, yaitu Anggriyan Esa Ramadani, Ika Nuralia Parameswari, Lendisa Roudlotul Khusna, yang seluruhnya berasal dari S1 PGSD, serta Aulia Retno Ayu Salsabila Putri dari Program Studi S1 Bimbingan dan Konseling. Pelaksanaan program berada di bawah pendampingan Bpk. Sigit Wibowo, S.Pd., M.Pd.
Berbeda dari program pemberdayaan yang hanya berfokus pada pelaksanaan kegiatan, “Inside Out” dirancang agar mitra memiliki kemampuan untuk meneruskan program setelah masa pendampingan mahasiswa selesai. Untuk mencapai tujuan tersebut, tim menggunakan pendekatan Gradual Release of Responsibility (GRR) dari Fisher dan Frey (2008). Pendekatan ini diterapkan melalui proses pengalihan tanggung jawab secara bertahap, mulai dari tim yang memimpin kegiatan hingga mitra mampu menjalankannya secara mandiri.
Pelaksanaan program terbagi menjadi empat tahapan. Fase Pertama atau I Do dilaksanakan pada 17–19 Juli 2026. Pada tahap ini, tim pelaksana memegang kendali utama, sementara mitra berperan sebagai pengamat. Kegiatan yang diberikan kepada anak meliputi eksplorasi diri melalui aktivitas Joy in Action, pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas, literasi digital melalui website Inside Out Well-being, presentasi karya, serta penyusunan label afirmasi diri.
Pada aktivitas Social Island, anak-anak mengikuti permainan Rapid Recall, Standing Race, dan kuis bertema kerja sama yang tersedia melalui website program. Sementara itu, Memory in Motion diwujudkan melalui pameran gantungan kunci hasil karya anak, baik secara langsung di panti maupun melalui media daring.
Tahap berikutnya adalah Fase Kedua A atau We Do yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026. Keterlibatan pengurus dan relawan Komunitas Berbagi Peduli Blitar mulai ditingkatkan. Mereka tidak lagi hanya mengamati, tetapi ikut mendampingi dan menjalankan aktivitas bersama tim. Pada tahap ini, Joy in Action mengajak anak mengenali dirinya melalui pertanyaan, “Jika aku adalah sebuah warna, warna apa yang sesuai dengan diriku?”
Pilihan warna dikaitkan dengan karakter emosi dalam film Inside Out, yaitu kuning untuk rasa senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan hijau untuk rasa tidak nyaman atau tidak suka. Anak kemudian membuat kreasi tempat pensil, mengikuti kegiatan literasi digital, mempresentasikan hasil karya, serta menyusun afirmasi diri.
Aktivitas Social Island pada fase tersebut diisi dengan permainan Mission X, estafet tempat pensil, serta kuis mengenai empati melalui website program. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Memory in Motion berupa pameran tempat pensil hasil kreativitas anak.
Fase Kedua B, yang kembali menggunakan konsep We Do, dilaksanakan pada 7–9 Agustus 2026. Tahap ini menjadi proses penguatan sebelum mitra benar-benar menjalankan program secara mandiri. Porsi tanggung jawab pengurus dan relawan semakin besar, sementara tim mahasiswa mulai beralih menjadi pendamping.
Sejumlah aktivitas yang telah diperkenalkan pada tahap sebelumnya kembali dilakukan, mulai dari eksplorasi diri menggunakan warna, pembuatan tempat pensil, permainan Mission X, blind mission, hingga pameran karya. Pengulangan kegiatan tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas anak, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mitra untuk berlatih memimpin dan mengelola rangkaian program.
Tahap terakhir adalah Fase Ketiga atau You Do yang berlangsung pada 14–16 Agustus 2026. Pada fase ini, Komunitas Berbagi Peduli Blitar menjalankan keseluruhan kegiatan secara mandiri, sedangkan tim mahasiswa berperan sebagai pemantau sekaligus evaluator.
Aktivitas Joy in Action kembali dikembangkan melalui pertanyaan, “Jika aku adalah seekor hewan, hewan apa yang memiliki karakter seperti diriku?” Anak-anak kemudian membuat kreasi pot, mengikuti literasi digital, mempresentasikan hasil karya, dan membuat label afirmasi diri.
Dalam Social Island, permainan Plant Detective, Maze Master, dan kuis mengenai komunikasi menjadi bagian dari kegiatan. Program kemudian diakhiri dengan Memory in Motion melalui pameran pot hasil karya anak-anak.
Seluruh rangkaian tersebut tidak hanya diarahkan pada pengalaman belajar dan berkarya bagi anak, tetapi juga pada terbentuknya kemampuan mitra untuk melanjutkan kegiatan secara berkelanjutan. Pergeseran peran dari tim sebagai pelaksana menuju mitra sebagai pengelola menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan yang diterapkan dalam program.
Dari sisi kontribusi pembangunan berkelanjutan, program “Inside Out” turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan psychological well-being anak berkaitan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), terutama dalam aspek kesejahteraan psikologis. Sementara itu, integrasi literasi digital dalam aktivitas Joy in Action serta penggunaan website Inside Out Well-being sebagai ruang pameran daring turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).
Berakhirnya program bukan menjadi akhir dari kegiatan pemberdayaan, melainkan awal dari keberlanjutan program oleh mitra. Dua capaian utama yang ditargetkan sejak awal, yakni penguatan kapasitas pengurus dan relawan agar mampu menjalankan program secara mandiri serta peningkatan psychological well-being anak-anak binaan, menjadi bagian dari hasil yang diharapkan terus berkembang.
Dengan telah dilaksanakannya Fase Ketiga secara mandiri, Komunitas Berbagi Peduli Blitar diharapkan dapat meneruskan rangkaian kegiatan “Inside Out” secara berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti ketika pendampingan mahasiswa berakhir, tetapi dapat terus memberikan ruang bagi anak-anak binaan untuk mengembangkan potensi, hubungan sosial, dan kemandirian mereka.
Oleh: Ghefira Putri Prisilia
Liputan Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang (UM).
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment