Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Manfaatkan Daun dan Bunga Sekitar, Ibu-Ibu Gading Kulon Belajar Membuat Batik Ecoprint
APERO FUBLIC I SLEMAN-TURI.— Sebanyak 30 ibu-ibu Dusun Gading Kulon, RW 19, yang berasal dari RT 01 dan RT 02 mengikuti workshop pelatihan pembuatan batik ecoprint menggunakan teknik pukul pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB tersebut dilaksanakan di rumah Bapak Nur Whan Hidayat selaku Kepala Dukuh Gading Kulon.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja utama individu KKN yang dilaksanakan oleh Arlinda Aisya Maharani, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dengan konsentrasi Pemasaran/Marketing. Pelatihan tersebut turut didukung oleh tokoh masyarakat setempat, yaitu Bapak Nur Whan Hidayat selaku Kepala Dukuh dan Ibu Hartati selaku Ibu Dukuh.
Pelatihan pembuatan batik ecoprint ini dilaksanakan sebagai upaya memberdayakan ibu-ibu Dusun Gading Kulon yang sebagian besar berkegiatan di rumah dan belum memiliki keterampilan produktif yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan maupun usaha tambahan.
Di sisi lain, lingkungan sekitar memiliki potensi berupa daun dan bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar diselenggarakannya pelatihan agar bahan-bahan yang tersedia di sekitar dapat dimanfaatkan menjadi karya yang bernilai guna sekaligus berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan batik ecoprint sebagai sebuah produk, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai proses pembuatannya. Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan mengenai ecoprint, alat dan bahan yang digunakan, serta penjelasan mengenai tahapan pembuatan.
Peserta diperkenalkan dengan proses scouring menggunakan deterjen biasa serta proses mordanting dengan soda ash dan tawas dan mordanting sebelum memasuki tahap penyusunan daun dan bunga pada kain.
Setelah bahan disiapkan, peserta mempraktikkan teknik pemukulan atau pounding untuk memindahkan pigmen alami dari daun dan bunga ke permukaan kain.
Kain kemudian melalui proses fiksasi atau penguncian warna dengan cara direndam menggunakan tawas, sebelum akhirnya dibilas menggunakan air bersih. Selama praktik berlangsung, panitia mendampingi dan membantu peserta agar setiap tahapan dapat dilakukan dengan baik.
Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mulai menyusun daun dan bunga sesuai dengan motif yang diinginkan dan mencoba teknik pemukulan secara langsung. Proses tersebut memberikan pengalaman baru karena peserta dapat melihat bagaimana bentuk serta pigmen dari bahan alami dapat berpindah ke kain dan menghasilkan motif yang berbeda-beda. Setelah seluruh tahapan selesai, setiap peserta berhasil membawa pulang satu lembar kain batik ecoprint hasil karya sendiri.
Hasil tersebut menjadi salah satu capaian utama kegiatan. Tidak hanya memperoleh kain hasil praktik, peserta juga memahami tahapan pembuatan ecoprint mulai dari persiapan kain, pengenalan bahan, penyusunan daun dan bunga, teknik pemukulan, fiksasi warna, hingga pembilasan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat dipraktikkan kembali secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Bagi Ibu Siti, salah satu peserta dari Dusun Gading Kulon, kegiatan tersebut memberikan manfaat karena dapat menambah keterampilan bagi ibu-ibu yang sehari-hari lebih banyak berkegiatan di rumah. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan dan dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih berkelanjutan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya untuk saya yang kegiatannya hanya di rumah saja. Dengan adanya kegiatan ini dapat menambah keterampilan,” ujarnya.
Menurut Ibu Siti, keterampilan tersebut juga dapat menjadi hobi baru yang apabila dikembangkan lebih lanjut berpotensi mendatangkan penghasilan. Ia berharap pelatihan tidak berhenti pada satu kali kegiatan, tetapi dapat dikembangkan menjadi rumah produksi sehingga ibu-ibu memiliki wadah untuk terus berlatih dan menghasilkan produk.
Tanggapan positif juga disampaikan Ibu Erna. Ia mengaku memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru karena sebelumnya belum pernah mempraktikkan pembuatan ecoprint secara langsung.
“Dengan adanya kegiatan ecoprint dari KKN ini, saya merasa dapat menambah pengetahuan. Yang tadinya belum pernah mempraktikkan, sekarang bisa mempraktikkan dan menambah pengalaman,” tuturnya.
Ia juga berharap keterampilan tersebut ke depannya dapat dimanfaatkan untuk membuat seragam.
Dari sisi pemanfaatan dan nilai ekonominya, Ibu Siti menilai membuat batik ecoprint sendiri memberikan pengalaman dan kepuasan tersendiri. Menurutnya, kain ecoprint yang dibeli secara langsung dapat memiliki harga sekitar Rp500 ribuan. Karena itu, membuat sendiri dapat menjadi alternatif yang memberikan pengalaman berbeda sekaligus menghasilkan karya sesuai dengan kreativitas pembuatnya.
Selain itu, proses pembuatan ecoprint juga memberikan pembelajaran mengenai pentingnya memilih bahan alami yang tepat. Ibu Erna menyampaikan bahwa ketika membuat ecoprint secara mandiri, perlu dilakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui daun dan bunga apa saja yang dapat menghasilkan motif yang baik.
Pemilihan bahan menjadi salah satu hal yang menentukan hasil akhir kain ecoprint.
Dalam praktiknya, peserta juga menemukan beberapa kendala. Ibu Siti menceritakan bahwa terdapat bunga yang ketika dipukul justru membuat pigmennya meluber sehingga motif bunga pada kain menjadi kurang jelas dan tidak berbentuk sesuai harapan.
Kondisi tersebut terjadi meskipun ia telah mencoba mengetuk bunga secara perlahan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar peserta untuk memahami karakter setiap bahan alami yang digunakan. Secara umum, pelatihan ini memberikan manfaat bagi peserta dalam menambah keterampilan, memperluas pengetahuan mengenai pemanfaatan daun dan bunga sebagai pewarna alami, serta membuka kemungkinan berkembangnya kegiatan produktif di rumah.
Keterampilan ecoprint juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi hobi maupun usaha rumahan yang dapat memberikan tambahan penghasilan.
Terselenggaranya kegiatan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang turut membantu selama proses persiapan hingga pelaksanaan.
Arlinda Aisya Maharani menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu mendampingi dan memandu jalannya kegiatan, yaitu Lisa Mawardah, Berliana Ata Rizky Safitri, Iqbal Mustafa, dan Caravella Zahra. Dukungan dan pendampingan tersebut turut membantu kegiatan berjalan dengan lancar sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan pelatihan dengan baik.
Arlinda Aisya Maharani berharap pelatihan pembuatan batik ecoprint ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan lebih jauh. Salah satu bentuk tindak lanjut yang diharapkan adalah terbentuknya rumah produksi atau usaha bersama bagi ibu-ibu Dusun Gading Kulon sehingga keterampilan yang telah diperoleh dapat menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan.
Selain itu, keterampilan ecoprint diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembuatan seragam. Ke depan, pendampingan lanjutan juga diharapkan dapat dilakukan, khususnya dalam riset mengenai bahan-bahan alami yang sesuai untuk ecoprint serta pemasaran produk.
Dengan demikian, kegiatan yang diawali sebagai pelatihan keterampilan dapat berkembang menjadi kegiatan yang lebih produktif dan berkelanjutan bagi masyarakat Dusun Gading Kulon.
Oleh: Tim KKN Gading Kulon
Liputan Kegiatan: Arlinda Aisya Maharani.
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dengan konsentrasi Pemasaran/Marketing.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment