Kampus
Mahasiswa
Olahraga
Opini
Pendidikan
Manajemen Isu, Krisis, dan Reputasi Persija: Pelajaran dari “Blunder” Jeje dalam Kasus Transfer Mariano Peralta
Foto: Mariano Peralta. (Instagram @mariano.peralta9/@borneofc.id)
APERO FUBLIC I Dalam era digital, sebuah klub sepak bola tidak lagi hanya dinilai dari performa dilapangan, tetapi juga dari bagimana mereka mengelola komunikasi. Informasi yang beredar di media sosial mampu membentuk persepsi publik dalam hitungan menit. Hal ini terlihat pada polemic transfer Mariano Peralta yang menyeret nama Persija Jakarta.
Ucapan penerjemah Shin Tae-yong, Jeje, yang menyebut Peralta telah dikontrak oleh Persija sebelum pengumuman resmi memicu spekulasi luas di kalangan supporter dan media. Ketika pada akhirnya transfer tersebut batal, bahkan akhirnya Mariano Peralta bergabung dengan rival Persija yaitu Persib Bandung, publik mulai mempertanyakan profesionalisme pengelolaan informasi di sekitar klub.
Dalam perspektif manajemen isu, peristiwa ini seharusnya dapat diantisipasi sejak awal. Manajemen isu merupakan proses mengidentifikasi potensi persoalan sebelum berkembang menjadi krisis. Pada dunia sepak bola modern, negosiasi transfer merupakan informasi yang sangat sensitive sehingga membutuhkan pengendalian komunikasi yang ketat.
Pernyataan yang keluar sebelum kontrak benar-benar ditandatangani dapat memunculkan ekspetasi publik yang sulit dikendalikan. Dugaan bahwa Peralta sudah resmi menjadi pemain Persija menjadi isu yang berkembang liar di media sosial, padahal belum ada pengumuman resmi dari klub.
Ketika isu tersebut berkembang dan muncul kabar bahwa transfer gagal terlaksana, situasi bergeser menjadi krisis komunikasi. Krisis bukan hanya soal gagalnya transfer pemain, melainkan hilangnya kepercayaan publik terhadap kredibilitas informasi yang beredar.
Dalam komunikasi krisis, kecepatan, konsistensi, dan kejelasan pesan menjadi faktor utama. Jika klub terlambat memberikan klarifikasi atau membiarkan spekulasi berkembang, ruang informasi akan dipenuhi oleh rumor, opini, dan asumsi publik yang sulit dikendalikan.
Kasus ini menunjukkan bahwa krisis komunikasi sering kali tidak muncul karena kegagalan bisnis semata, tetapi akibat lemahnya pengelolaan informasi. Publik akhirnya lebih fokus membicarakan “siapa yang salah” dibandingkan membahas strategi transfer Persija.
Narasi yang berkembang bahkan menilai ucapan Jeje sebagai “blunder” yang berpotensi memengaruhi proses negosiasi transfer. Meskipun penyebab batalnya transfer belum dapat dipastikan hanya karena pernyataan tersebut, persepsi publik telah terlanjur terbentu bahwa terdapat kebocoran komunikasi dalam proses transfer.
Dampak terbesar dari sebuah krisis komunikasi adalah terhadap reputasi organisasi. Reputasi merupakan aset yang dibangun dalam waktu yang lama, tetapi dapat menurun hanya karena satu kesalahan komunikasi.
Bagi Persija, klub dengan basis supporter besar, reputasi sebagai klub professional menjadi modal penting untuk menarik minat pemain berkualitas, sponsor, maupun menjaga loyalitas pendukung.
Jika publik memandang bahwa informasi internal klub mudah bocor atau komunikasi tidak terkoordinasi, maka kepercayaan terhadap manajemen dapat menurun. Bagi calon pemain, situasi seperti ini juga dapat menjadi pertimbangan karena profesionalisme klub menjadi salah satu faktor dalam mengambil keputusan untuk bergabung.
Peristiwa ini memberikan Pelajaran penting bahwa pengelolaan komunikasi harus menjadi bagian dari strategi manajemen klub. Pertama, seluruh pihak yang memiliki akses terhadap informasi transfer perlu memahami Batasan komunikasi kepada publik.
Kedua, klub harus memiliki juru bicara resmi sehingga setiap informasi berasal dari satu sumber yang kredibel. Ketiga, apabila muncul isu yang berpotensi menjadi krisis, manajemen harus segera memberikan klarifikasi berdasrkan fakta agar ruang spekulasi tidak semakin luas.
Pada akhirnya, kasus transfer Mariano Peralta menunjukkan bahwa dalam dunia sepak bola modern, kemenangan tidak hanya ditentukan diatas lapangan, tetapi juga melalui kemampuan organisasi mengelola isu, menghadapi krisis, dan menjaga reputasi.
Sebuah komentar yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi persoalan besar apabila tidak diantisipasi dengan strategi komunikasi yang matang. Oleh karena itu, Persija perlu menjadikan peristiwa ini sebagai evaluasi untuk memperkuat tata Kelola komunikasi oraganisasi sehingga kepercayaan publik terhadap klub tetap terjaga.
Oleh: Dodi Istiardi
Mahasiswa Universitas Selamat Sri Batang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment