Feature
Kampus
Mahasiswa
Pariwisata
Pendidikan
Yogyakarta
Ketika Borobudur Kelebihan Beban: Angka Kunjungan Naik, Tapi Apa yang Sebenarnya Kita Korbankan?
APERO FUBLIC I Setiap kali musim liburan tiba, ada satu pertanyaan yang jarang muncul di headline berita pariwisata: seberapa banyak sebenarnya yang bisa ditampung sebuah situs warisan dunia sebelum ia mulai kehilangan jati dirinya?
Tahun ini, Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magelang memprediksi pergerakan wisatawan selama libur Lebaran bisa menyentuh 250 ribu kunjungan, dengan target pendapatan sektor pariwisata mencapai Rp 6 miliar.
Di kawasan Candi Borobudur sendiri, pengelola menargetkan 83 ribu wisatawan hanya dalam periode Lebaran saja, naik 5 persen dari tahun sebelumnya. Angka-angka ini biasanya disambut sebagai kabar baik: ekonomi bergerak, UMKM ramai, hotel dan homestay penuh.
Tapi di balik statistik yang terus naik itu, ada pertanyaan yang menurut saya lebih penting untuk warga Magelang tanyakan: apakah kita sedang merawat Borobudur, atau justru pelan-pelan menghabiskannya?
Ketika Situs Warisan Dunia Jadi Ajang Antre
Borobudur bukan taman hiburan. Ia adalah struktur batu berusia lebih dari seribu tahun, dengan relief dan stupa yang rentan terhadap gesekan, sentuhan, dan tekanan pengunjung dalam jumlah masif. Ketika puluhan ribu orang berdesakan naik-turun tangga candi dalam satu hari, yang terkikis bukan cuma kesabaran pengunjung yang antre tapi juga fisik candi itu sendiri.
Menariknya, pengelola sendiri mengakui pola kunjungan saat Lebaran didominasi wisatawan domestik, sementara wisatawan mancanegara justru cenderung menghindari periode-periode padat semacam ini karena tidak tertarik dengan keramaian berlebih. Ini seharusnya jadi sinyal, bukan sekadar catatan statistik.
Kalau wisatawan mancanegara yang biasanya justru datang jauh-jauh untuk pengalaman budaya otentik memilih menjauh saat candi penuh sesak, artinya kita sedang kehilangan kualitas pengalaman demi kuantitas kunjungan.
Dilema Warga Lokal: Berkah Ekonomi vs Beban Lingkungan
Sebagai orang Magelang, saya paham betul kenapa angka kunjungan tinggi selalu dirayakan. Warung makan ramai, ojek wisata kebagian rezeki, homestay yang dulu sepi kini jadi sumber penghasilan tetap. Pariwisata memang salah satu motor ekonomi paling nyata di daerah ini.
Tapi ekonomi jangka pendek dan kelestarian jangka panjang sering berjalan berlawanan arah. Sampah yang menumpuk di area candi, kemacetan panjang di jalur menuju kawasan Borobudur.
Sehingga tekanan pada infrastruktur desa-desa sekitar adalah harga yang harus dibayar dari lonjakan kunjungan yang tidak dikelola dengan hati-hati. Dan yang menanggung beban ini bukan wisatawan yang datang sehari lalu pulang melainkan warga yang tinggal di sana sepanjang tahun.
Bukan Soal Menolak Wisatawan, Tapi Soal Mengelola Batas
Saya tidak sedang bilang Borobudur harus sepi pengunjung. Justru sebaliknya pariwisata yang sehat butuh keseimbangan antara jumlah kunjungan dan daya tampung situs. Beberapa hal yang menurut saya perlu jadi bahan diskusi serius di tingkat kabupaten:
1. Pembatasan kuota harian yang benar-benar ditegakkan, bukan sekadar imbauan, terutama di zona candi utama.
2. Distribusi wisatawan ke destinasi sekitar seperti desa wisata, Gunung Andong, atau Ketep Pass, supaya tekanan tidak menumpuk di satu titik.
3. Insentif nyata bagi wisatawan yang datang di luar musim puncak, supaya kunjungan lebih merata sepanjang tahun, bukan menumpuk saat Lebaran atau libur sekolah.
4. Transparansi data daya tampung candi ke publik, agar wisatawan sendiri bisa membuat keputusan yang lebih sadar soal kapan berkunjung.
Borobudur sudah bertahan lebih dari seribu tahun menghadapi gempa, letusan gunung berapi, dan penjarahan. Tapi tekanan pariwisata massal yang terus meningkat setiap tahun adalah jenis ancaman yang berbeda pelan, tidak dramatis, tapi terus-menerus.
Sebagai warga Magelang, saya ingin angka kunjungan terus naik. Tapi saya juga ingin anak cucu saya nanti masih bisa melihat Borobudur dalam kondisi yang sama megahnya seperti yang saya lihat hari ini bukan versi yang sudah aus karena terlalu banyak diinjak demi target pendapatan tahunan.
Oleh: Muhammad Rikent Arya Seta
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Berasal dari Kabupaten Magelang yang aktif mengamati isu-isu ekonomi publik dan pembangunan daerah.
Sumber data: Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magelang; PT Taman Wisata Borobudur.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment