Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Psikologi
Problem Solving: Kejujuran Siswa
APERO FUBLIC I Kejujuran merupakan nilai penting dalam pembentukan akhlak siswa yang ditanamkan melalui pembelajaran Akhlak dan Muamalah. Berdasarkan observasi di kelas 3C MIN 6 Ponorogo, ditemukan masalah pembagian tugas kelompok yang tidak merata, sehingga sebagian siswa harus bekerja lebih keras sementara semua anggota tetap memperoleh nilai yang sama.
Meskipun siswa memahami pentingnya kejujuran dan tanggung jawab, mereka masih kesulitan mencari solusi yang adil dan cenderung mengandalkan guru. Selain itu, perilaku menyontek, bullying, dan tekanan dari teman sebaya menjadi hambatan bagi siswa untuk menyampaikan kebenaran secara terbuka.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa memiliki potensi yang baik dalam menerapkan nilai kejujuran, tetapi masih memerlukan bimbingan dan dukungan agar mampu menghadapi berbagai tantangan sosial. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperkuat karakter jujur dan kemampuan problem solving siswa agar dapat diterapkan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan observasi di kelas 3C MIN 6 Ponorogo, ditemukan masalah berupa pembagian tugas kelompok yang tidak merata dalam pembelajaran Akhlak dan Muamalah. Beberapa siswa tidak menjalankan tugasnya sehingga pekerjaan kelompok hanya diselesaikan oleh anggota yang aktif.
Siswa menyadari bahwa kondisi ini tidak adil, tetapi masih kesulitan mencari solusi yang tepat. Permasalahan ini melibatkan seluruh anggota kelompok, ketua kelompok, dan guru Akhlak dan Muamalah yang berperan membimbing siswa dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan penyelesaian masalah.
Permasalahan ini terjadi di kelas 3C MIN 6 Ponorogo saat pembelajaran Akhlak dan Muamalah, khususnya ketika siswa melaksanakan diskusi atau tugas kelompok. Masalah muncul sejak proses pembagian tugas, pelaksanaan tugas, hingga penilaian hasil kerja kelompok.
Beberapa siswa tidak menjalankan tugas yang diberikan sehingga anggota yang aktif harus mengambil alih pekerjaan agar tugas selesai tepat waktu. Kondisi ini menimbulkan rasa tidak adil karena seluruh anggota kelompok tetap memperoleh nilai yang sama meskipun kontribusinya berbeda.
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan sekolah yang mendukung pembentukan karakter, kejujuran, dan kemampuan problem solving siswa.
Permasalahan pembagian tugas kelompok yang tidak merata terjadi karena sebagian siswa belum memiliki rasa tanggung jawab yang kuat terhadap tugas yang diberikan. Mereka cenderung mengandalkan teman yang lebih aktif sehingga tidak berpartisipasi secara maksimal dalam menyelesaikan tugas kelompok.
Selain itu, kemampuan problem solving siswa masih berkembang. Meskipun mereka mampu mengenali adanya masalah dan ketidakadilan dalam kelompok, mereka masih kesulitan menentukan solusi yang tepat dan lebih sering meminta bantuan guru untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
Sistem penilaian kelompok yang memberikan nilai yang sama kepada seluruh anggota juga menimbulkan rasa kecewa bagi siswa yang telah bekerja lebih keras karena merasa usaha mereka tidak dihargai secara seimbang.
Faktor lain yang memengaruhi adalah tekanan sosial dari teman sebaya, perilaku bullying, dan kurangnya keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Sebagian siswa memilih diam ketika melihat ketidakjujuran atau ketidakadilan karena takut diejek, dijauhi, atau menimbulkan konflik dengan teman.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan nilai kejujuran dalam situasi nyata masih menjadi tantangan bagi siswa. Selain itu, sebagai siswa sekolah dasar yang masih berada pada tahap perkembangan moral dan sosial, mereka masih belajar memahami tanggung jawab, keadilan, dan konsekuensi dari setiap tindakan.
Oleh karena itu, diperlukan bimbingan dan dukungan dari guru serta lingkungan sekolah agar karakter jujur dan kemampuan menyelesaikan masalah dapat berkembang dengan lebih baik.
Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa berusaha menyelesaikan masalah dengan melaporkannya kepada guru. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah memiliki kemampuan dasar problem solving, yaitu mampu mengenali masalah dan mencari bantuan kepada pihak yang dianggap dapat memberikan solusi.
Namun, sebagian besar siswa masih belum mampu menyelesaikan masalah secara mandiri melalui diskusi, komunikasi, atau negosiasi dengan anggota kelompok, sehingga mereka cenderung langsung bergantung pada bantuan guru.
Kemampuan problem solving siswa dapat dikembangkan melalui kegiatan diskusi, studi kasus, dan pembelajaran yang menanamkan nilai kejujuran serta tanggung jawab. Selain itu, guru perlu menerapkan sistem penilaian yang lebih adil dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta bebas dari bullying agar siswa berani menyampaikan pendapat dan kebenaran.
Dengan demikian, kejujuran tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi juga diterapkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sehari-hari.
Berdasarkan hasil observasi di kelas 3C MIN 6 Ponorogo, dapat disimpulkan bahwa siswa telah memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam pembelajaran Akhlak dan Muamalah, namun penerapannya masih menghadapi berbagai kendala, seperti pembagian tugas kelompok yang tidak merata, perilaku menyontek, bullying, serta tekanan sosial dari teman sebaya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan problem solving siswa masih perlu dikembangkan karena mereka cenderung bergantung pada bantuan guru dalam menyelesaikan masalah.
Oleh karena itu, diperlukan pembinaan yang berkelanjutan melalui penanaman nilai kejujuran, tanggung jawab, komunikasi yang baik, sistem penilaian yang adil, serta lingkungan sekolah yang aman dan mendukung agar karakter jujur dan kemampuan problem solving siswa dapat berkembang secara optimal dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
PENULIS:
- Ananta Zhabrina Putri
- Dzakiyah Rega Afifah
- Ria Oktaviani
- Nadia Amelia
- Syarifan Nurjan
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment