Cerpen
Di Antara Doa dan RasaKintan Ayu Cahyani
APERO FUBLIC I Kala mentari menyapa bumi, langit membentangkan warna birunya. Burung-burung menari bebas di angkasa, sementara embun masih setia menghiasi ujung dedaunan. Angin berembus begitu lembut membawa kesejukan, seolah alam sedang melantunkan doa untuk menyambut lembaran hari yang baru.
Di tengah keindahan pagi itu, Haura Aisyah Rahma, yang akrab disapa Haura, melangkahkan kaki dengan penuh harapan menuju salah satu Universitas Islam di Pulau Jawa. Hari itu menjadi awal perjalanannya sebagai mahasiswi baru.
Beberapa minggu setelah perkuliahan dimulai, seluruh mahasiswa baru diwajibkan mengikuti program Diniyah kampus. Mahasiswa berkumpul di masjid sesuai jadwal yang sudah dibagi. Haura mendapati jadwal kelas Diniyah sore. Mereka berkumpul di masjid kampus untuk belajar membaca Al-Qur'an, dan praktik ibadah.
“Dosen pembimbing kita belum datang ya Sal?” ucap Haura ke Salma, salah satu teman kelas Diniyahnya.
“Belum Ra, kayanya sebentar lagi deh, “ jawab Salma, teman kelas Diniyahnya.
Sambil menunggu dosen pembimbing Diniyahnya datang, Haura mengisi waktu tersebut untuk membaca Al-Qur'an.
Tak lama setelah beberapa menit, dari arah pintu utama, masuklah seorang laki-laki bersarung, berjas hitam dan berpeci hitam. Langkahnya tenang, pandangannya teduh, dan senyumnya sederhana. Entah mengapa, kehadirannya membuat suasana masjid terasa lebih syahdu.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. “
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab kami serempak.
Salma, teman Diniyahnya berbisik kepadanya.
“Beliau namanya Gus Hafiz, anak pemilik pondok pesantren Al-Hidayah, aku pernah mondok di situ. Usianya masih muda, Beliau juga dosen di Fakultas Tarbiyah.“
Aku mengangguk.
“Oh.... Beliau seorang Gus. “
Gus Muda itu mulai memperkenalkan dirinya.
“Bismillahirrahmanirrahim, perkenalkan semuanya, nama saya Muhammad Hafiz Alfariz, kalian boleh memanggil saya Mas/Pak Hafiz. Kebetulan abah saya pemilik pondok pesantren di sekitar kampus ini, buat kalian yang biasa memanggil saya Gus di luar kampus, di kelas Diniyah ini kalian panggil saya Mas/Pak saja ya. InsyaAllah selama program Diniyah berlangsung saya akan menjadi pembimbing kelas ini, kita akan belajar bersama menuntut ilmu di kelas ini, jangan takut salah dan jangan lupa niatkan menuntut ilmu semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT.”
“Baik Gus, eh Pak, “jawab Haura, gugup.
Suasana masjid terasa begitu teduh. Bagi sebagian mahasiswa, itu hanyalah perkenalan biasa. Namun bagi Haura, ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika pertama kali mendengar suara Gus Hafiz. Lembut, tenang, dan penuh ketulusan.
***
Hari-hari berlalu. Sore ini adalah jadwal kelas Diniyah kedua, mereka akan belajar ilmu Tajwid bersama Gus Hafiz.
“Materi hari ini kita akan belajar ilmu tajwid, silahkan kalian buka Al-Qur'an nya, kalian baca dan pahami terlebih dahulu tajwid-tajwidnya, nanti saya akan panggil satu persatu untuk mencoba membaca dengan baik dan benar.
“Baik Pak, “ jawab kami.
Haura sangat fokus membaca Al-Qur'an, sembari memahami tajwid-tajwidnya.
“Haura Aisyah Rahma, “ panggil Gus Hafiz.
Kini giliran Huara untuk mencoba membaca.
“Saya pak”, jawab Haura sambil maju kedepan.
“Coba kamu baca Surah Al-Bayyinah. “
“Baik Pak “
Haura membaca surat tersebut sampai selesai. Ada salah satu hukum bacaan yang masih dia ragu untuk membacanya.
“Maaf Pak... boleh saya bertanya?”
Beliau tersenyum ramah.
“Tentu. Silakan Haura.”
“Saya masih kesulitan membedakan bacaan mad jaiz munfashil dan mad wajib muttashil.”
Beliau mengambil mushaf yang kubawa dan menunjuk salah satu ayat.
“Coba kamu baca ayat ini.”
Haura mulai membaca dengan suara pelan. Beliau mendengarkan tanpa memotong. Ketika Haura selesai membaca, beliau berkata lembut,
“Sudah bagus. Tinggal lebih teliti pada panjang pendek harakatnya.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Beliau tersenyum.
“Jangan pernah bosan untuk belajar, Al-Qur’an akan menjadi teman terbaik sepanjang hidup.”
Hanya kalimat sederhana. Namun entah mengapa, hatinya kembali bergetar. Setelah semuanya selesai mencoba, Gus Hafiz mulai menjelaskan ilmu tajwid, beliau menjelaskan bagian yang sering salah dibaca oleh para mahasiswa tadi.
Setelah itu, sebagai contoh beliau mulai membacakan salah satu surah dengan suara yang sangat lembut dan begitu merdu.
“Masyaallah,“ ucap Haura lirih, karena kagum dengan bacaan Gus Hafiz.
***
Setelah pulang dari kampus, Haura merenung di kamar, sambil memikirkan.
“Kenapa hati ini selalu merasa tenang saat mendengarkan suara Gus Hafiz. Setiap saat aku selalu menunggu hari di mana jadwal Diniyah berlangsung, aku suka cara Gus Hafiz mengajarkan ilmu karena mudah dipahami, selain itu aku juga suka mendengarkan suara beliau saat menjelaskan, Ya Allah, apakah rasa ini hanya sebatas rasa kagum karena suara beliau ataukah ada rasa lain?” ucap Haura sambil menangis. Dia berusaha untuk menenangkan perasaannya.
Hari-hari belajar di Diniyah berlalu, saat itu telah memasuki hari kelima kelas Diniyah. Mahasiswa belajar seperti biasanya. Gus Hafiz menutup pembelajaran dengan nasihat yang sangat menyentuh untuk para mahasiswa terutama bagi Haura saat itu.
“Teman-teman Diniyah semuanya.....”
Kami semua menoleh.
“Saya ingin menyampaikan sedikit nasihat untuk teman-teman, terutama untuk para gen Z seperti kita sekarang,”ucapnya sambil tersenyum.
“Dalam hidup, kalian pasti pernah mengagumi seseorang, iya kan? “
Beliau berhenti sejenak.
“iya, pernah pak, “jawab teman-teman Diniyah.
“Mengagumi seseorang, itu bukanlah dosa. Tetapi ingat! jangan sampai rasa kagum itu membuat kalian lupa tujuan utama datang ke kampus ini.”
“Kalau kalian mengagumi seseorang karena ilmunya...”
“Ambillah ilmunya.”
“Kalau kalian mengagumi akhlaknya...”
“Tirulah akhlaknya.”
“Dan kalau Allah memang menakdirkan dua hati untuk bertemu...”
Beliau tersenyum.
“...percayalah, tidak ada doa yang akan tersesat.”
Haura menundukkan kepala.
Entah mengapa, rasanya seperti Allah sedang menjawab kegelisahannya melalui lisan Gus Hafiz.
***
Sejak hari itu, Haura berhenti mencari jawaban apakah ini hanya sekadar rasa kagum atau mulai menjadi cinta. Karena Haura sadar, tidak semua rasa harus segera diberi nama. Ada rasa yang cukup disimpan dalam doa. Ada pula rasa yang justru menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan memantaskan diri supaya lebih dekat kepada Allah, dan menjadikan kita lebih fokus untuk mengejar cintanya Allah.
“ Aku berdoa, jika suatu hari Allah menulis kisah kami dalam takdir yang sama, aku ingin bertemu kembali dengannya bukan sebagai mahasiswi yang mengagumi seorang dosen, tetapi sebagai perempuan yang telah berhasil memperbaiki dirinya. Dan jika ternyata tidak, aku tetap bersyukur. Sebab dari seorang Gus sekaligus merupakan dosen muda yang suaranya pertama kali kudengar di masjid kampus, aku belajar satu hal yang paling berharga,” ucap Haura ke dirinya sendiri.
Ini menjadi pelajaran yang paling berharga buat Haura. Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta yang tergesa-gesa untuk memiliki, melainkan cinta yang mengantarkan seseorang semakin dekat kepada Allah, jika memang kita mencintai seseorang maka doakanlah yang terbaik untuknya, sebab mendoakan orang yang kita cintai adalah cara terbaik untuk menjaganya.
Oleh: Kintan Ayu Cahyani
Mahasiswi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada program studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Editor. Tim Redaksi
Biodata Narasi
*Kintan Ayu Cahyani, lahir di Banyumas, 19 Juli 2007. Ia Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada program studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Hobinya melukis dan membaca novel. Alamat: Jl. Ketayasa Rt 05 Rw 04, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas K.P 53171. Narahubung: 0858-7833-8145, juga bisa dihubungi melalui kanal sosial media instagram @kintanayy__, atau via surel di kintancahyani91@gmail.com
Via
Cerpen

Post a Comment