Esai
Kampus
Keislaman
Mahasiswa
Pendidikan
Psikologi
Analisis Psikologi Agama terhadap Fenomena Remaja yang Beribadah Hanya Saat Mengalami Masalah
APERO FUBLIC I ESAI.-- Manusia yang lahir ke dunia pada dasarnya telah diperkenalkan dengan agama melalui lingkungan keluarga, terutama oleh orang tua sebagai pendidik pertama dalam kehidupannya. Sejak masa kanak-kanak, seseorang mulai mengenal nilai-nilai keagamaan, tata cara ibadah, serta berbagai ajaran yang dianut oleh keluarganya.
Dalam perspektif Islam, agama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari fitrah manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 30.
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٣٠
Artinya : Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Qs. Ar Rum:30).
Ayat ini menerangkan bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk mengenal dan mengakui Tuhan. Oleh karena itu, keberadaan agama tidak hanya menjadi identitas yang diwariskan oleh keluarga, tetapi juga merupakan kebutuhan dasar yang melekat dalam diri manusia sebagai makhluk spiritual.
Secara etimologis, kata agama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Dengan demikian, agama dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menghindarkan manusia dari kekacauan serta mengarahkan kehidupan menuju keteraturan.
Agama hadir sebagai seperangkat aturan, nilai, dan pedoman yang memberikan arah bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Selain itu, agama juga dipahami sebagai suatu sistem kehidupan yang mengatur, menata, serta mengikat perilaku manusia agar sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku.
Melalui ajaran agama, individu memperoleh pedoman dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta mendapatkan landasan moral dan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Nilai-nilai keagamaan juga berperan penting dalam membentuk karakter, mengembangkan kepribadian, dan membantu seseorang menemukan makna serta tujuan hidupnya.
Dalam kehidupan masyarakat saat ini, terdapat fenomena yang cukup sering dijumpai, khususnya di kalangan remaja, yaitu meningkatnya ketaatan beragama ketika mereka sedang menghadapi berbagai permasalahan hidup.
Namun, setelah masalah yang mereka hadapi berhasil diatasi atau keadaan kembali membaik, tidak sedikit dari mereka yang kembali mengabaikan kewajiban agama dan menjadi kurang konsisten dalam menjalankan ibadah. Dengan demikian, perubahan perilaku keagamaan yang terjadi sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu ini merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji lebih lanjut melalui perspektif psikologi agama.
Fenomena yang sering ditemukan pada kalangan remaja adalah meningkatnya ketekunan dalam beribadah ketika mereka sedang menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup. Salah satu masalah yang umum dialami remaja adalah putus cinta. Pada situasi tersebut, remaja sering merasakan kesedihan, kekecewaan, kehilangan, bahkan kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.
Tidak semua remaja memiliki someone to talk atau seseorang yang dapat dipercaya untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Kurangnya dukungan sosial ini membuat sebagian remaja memilih mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai tempat untuk mencurahkan perasaan dan mencari ketenangan batin.
Selain menghadapi masalah emosional, remaja juga sering meningkatkan aktivitas ibadah ketika memiliki keinginan atau target tertentu yang ingin dicapai. Misalnya, memperoleh nilai yang baik, lulus ujian, diterima di perguruan tinggi yang diinginkan, mendapatkan pekerjaan, atau mencapai tujuan lainnya.
Dalam kondisi tersebut, mereka menjadi lebih rajin berdoa, melaksanakan salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, mengikuti kajian keagamaan, atau melakukan berbagai ibadah lainnya. Aktivitas tersebut dilakukan dengan harapan Tuhan memberikan kemudahan, pertolongan, dan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka.
Bagi sebagian remaja, ibadah menjadi salah satu cara untuk memperoleh ketenangan ketika tidak memiliki tempat untuk berbagi cerita atau mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Mereka merasa bahwa Tuhan adalah tempat yang paling aman untuk menyampaikan segala keluh kesah, kekhawatiran, dan harapan yang tidak dapat mereka ungkapkan kepada orang lain.
Oleh karena itu, ketika menghadapi tekanan hidup atau sedang menginginkan sesuatu, tingkat religiusitas mereka cenderung meningkat. Namun, setelah masalah yang dihadapi berhasil diselesaikan atau tujuan yang diinginkan telah tercapai, sebagian remaja mulai mengurangi intensitas ibadahnya.
Kebiasaan berdoa, membaca Al-Qur'an, atau menjalankan ibadah yang sebelumnya dilakukan secara rutin menjadi semakin jarang dilakukan. Bahkan, ada yang kembali lalai dalam menjalankan kewajiban agama seperti sebelum menghadapi masalah tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pada sebagian remaja, perilaku keberagamaan masih dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan situasi tertentu yang sedang mereka alami.
Fenomena ini meningkatnya religiusitas remaja di tengah masalah hidup seperti kesedihan dan rasa sakit hati akibat putus cinta.
Ketika remaja dihadapkan pada situasi yang menekan secara emosional sementara mereka tidak memiliki dukungan sosial atau sosok tepercaya untuk berbagi (someone to talk), mereka cenderung mengalihkan rasa aman kepada Tuhan.
Dalam kondisi ini, remaja sedang menerapkan apa yang disebut religious coping, yaitu menggunakan keyakinan dan ritual agama untuk menghadapi tekanan hidup. Seseorang beribadah bukan cuma biar hatinya merasa lebih tenang, tapi juga berharap keadaan atau masalahnya bisa benar-benar berubah. Bagi umat muslim di Indonesia, hal ini biasanya diwujudkan lewat ibadah nyata seperti salat, zikir, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.
Secara teori, ahli psikologi Kenneth Pargament menjelaskan bahwa cara ini memang terbukti bisa langsung menjaga kesehatan mental dan membuat seseorang lebih kuat saat menghadapi stres. Menangis dan mengadu kepada Tuhan menjadi tempat curhat yang paling aman buat remaja, karena mereka tahu Tuhan Maha Mendengar dan tidak akan menghakimi mereka seperti manusia atau teman sebaya.
Selain karena ada masalah, fenomena rajin ibadah ini juga sering muncul saat remaja punya target tertentu yang ingin dicapai, misalnya ingin lulus ujian, dapat nilai bagus, masuk kampus impian, atau dapat kerjaan. Peningkatan ibadah karena alasan ini cocok dengan teori Gordon Allport tentang Orientasi Keagamaan Ekstrinsik.
Artinya, remaja menggunakan agama sebagai "alat" atau sarana untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, bukan karena murni urusan spiritualitas. Secara pikiran, hubungan mereka dengan Tuhan masih bersifat transaksional alias ada timbal balik mereka merasa kalau mereka "setor" ibadah yang rajin, maka Tuhan akan "kasih" bonus berupa kemudahan dan kelulusan.
Sayangnya, karena dasar ibadahnya cuma karena ada maunya, hal ini bikin perilaku mereka jadi tidak konsisten. Begitu masalahnya selesai atau apa yang mereka inginkan sudah tercapai, biasanya semangat ibadahnya langsung kendor lagi. Mereka kembali jarang berdoa, jarang baca Al-Qur'an, bahkan ada yang kembali malas-malasan seperti dulu.
Fenomena ini mirip seperti orang yang datang ke UGD rumah sakit cuma pas lagi sakit sakal, tapi kalau sudah sembuh ya langsung pulang dan lupa begitu saja. Ketika beban hidupnya hilang, motivasi mereka untuk beribadah ikut hilang karena ego mereka masih lebih dominan.
Di fase ini, iman seorang remaja memang masih labil, cair, dan gampang berubah tergantung suasana hati atau lingkungan sekitarnya. Naik-turunnya ibadah mereka menunjukkan bahwa nilai agama belum benar-benar meresap ke dalam hati sebagai kesadaran yang tulus (intrinsic religion). Ibadah mereka masih berfungsi sebagai tameng sementara untuk menenangkan emosi, yang sebenarnya menjadi bagian dari proses panjang mereka untuk belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam beragama.
Menurut pendapat kami fenomena remaja yang rajin beribadah hanya ketika sedang memiliki masalah merupakan hal yang cukup wajar terjadi pada masa remaja. Pada fase ini, kondisi emosional seseorang masih belum stabil sehingga mereka cenderung mencari tempat paling aman untuk menenangkan diri ketika menghadapi tekanan hidup.
Dalam situasi sedih, kecewa, putus cinta, atau memiliki banyak beban pikiran, agama sering menjadi tempat pelarian sekaligus sumber ketenangan batin. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya remaja masih memiliki kesadaran bahwa Tuhan adalah tempat terbaik untuk mengadu dan meminta pertolongan.
Namun, yang menjadi persoalan bukan ketika seseorang datang kepada Tuhan saat sedang susah, melainkan ketika ia mulai menjauh setelah masalahnya selesai.
Banyak remaja yang menjadikan ibadah hanya sebagai kebutuhan sementara, bukan sebagai kewajiban dan kebutuhan spiritual yang harus dijaga setiap waktu. Akibatnya, hubungan dengan Tuhan menjadi tidak konsisten dan hanya dilakukan saat membutuhkan sesuatu.
Padahal, ibadah seharusnya dilakukan baik dalam keadaan senang maupun susah karena agama bukan hanya tempat meminta pertolongan, tetapi juga pedoman hidup.
Kami juga berpendapat bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kurangnya pemahaman agama yang mendalam.
Banyak remaja memahami agama sebatas kewajiban formal, belum sampai pada tahap menjadikan agama sebagai kebutuhan hati. Selain itu, pengaruh media sosial, pergaulan, dan gaya hidup modern juga membuat sebagian remaja lebih mudah lalai dalam menjaga konsistensi ibadahnya.
Meskipun demikian, fenomena ini tetap memiliki sisi positif. Setidaknya, ketika berada dalam kondisi sulit, remaja masih memilih mendekat kepada Tuhan dibanding melakukan hal-hal negatif seperti pelampiasan emosi yang merugikan diri sendiri.
Dari situ dapat dilihat bahwa agama masih memiliki peran penting dalam kehidupan psikologis remaja. Oleh karena itu, fenomena ini seharusnya menjadi proses pembelajaran agar remaja dapat membangun hubungan spiritual yang lebih tulus dan stabil, bukan hanya karena kebutuhan sesaat.
Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa fenomena remaja yang rajin beribadah hanya ketika menghadapi masalah berkaitan erat dengan kondisi psikologis dan perkembangan emosional remaja. Ketika mengalami tekanan hidup, kesedihan, rasa kecewa, atau memiliki target tertentu, remaja cenderung mendekatkan diri kepada Tuhan melalui berbagai aktivitas ibadah seperti salat, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan zikir.
Dalam psikologi agama, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk religious coping, yaitu usaha seseorang menghadapi masalah dengan melibatkan nilai dan aktivitas keagamaan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa agama memiliki fungsi penting sebagai sumber ketenangan, penguatan mental, dan tempat mencari harapan ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan. Namun, pada sebagian remaja, perilaku keagamaan tersebut masih bersifat sementara dan dipengaruhi oleh situasi tertentu.
Setelah masalah selesai atau tujuan tercapai, semangat ibadah mereka cenderung menurun kembali. Hal ini menandakan bahwa religiusitas remaja masih berada pada tahap yang belum stabil dan belum sepenuhnya tumbuh menjadi kesadaran spiritual yang mendalam.
Melalui kajian psikologi agama, dapat dipahami bahwa naik turunnya ibadah pada remaja merupakan bagian dari proses pencarian jati diri dan perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, diperlukan dukungan keluarga, lingkungan, serta pendidikan agama yang baik agar remaja mampu membangun pemahaman agama yang lebih matang dan konsisten supaya tidak jauh dari agama.
Dengan demikian, ibadah tidak hanya dilakukan ketika memiliki masalah atau keinginan tertentu, tetapi menjadi kebutuhan hidup dan bentuk kedekatan yang tulus kepada Tuhan dalam setiap keadaan.
DAFTAR PUSTAKA
Salma, Yulia Widayanti. Tingkat Efektivitas Religious Coping Sebagai Penangganan Stres Pada Individu Muslim: Systematic Literature Review. Diss. UIN Raden Intan Lampung, 2026.
Anganthi, Nisa Rachmah Nur. Psikologi kepribadian dalam perspektif spiritual ilahiah: Mengenal konsep tauhid asma wa sifat asmaul husna. Muhammadiyah University Press, 2020.
PENULIS:
- Dania Faras Azzahra
- Rania Rizka Aulia
- Reza Pahlevi
Universitas Islam Negri Sunan Kudus, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Bimbingan Konseling Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment