Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Optimalisasi Pengelolaan Sampah Dalam Mewujudkan Lingkungan Kampus Yang Sehat dan Berkelanjutan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas
APERO FUBLIC I OPINI.-- Pengelolaan sampah merupakan salah satu isu lingkungan yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di lingkungan kampus. Sebagai institusi pendidikan, kampus tidak hanya berperan sebagai ruang memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan budaya peduli lingkungan.
Oleh karena itu, tingkat kesadaran mahasiswa terhadap pengelolaan sampah menjadi salah satu indikator penting dalam mewujudkan lingkungan kampus yang sehat dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah disebarkan kepada 97 responden, diperoleh berbagai informasi mengenai persepsi, sikap, dan perilaku mahasiswa terhadap pengelolaan sampah. Hasil tersebut menjadi dasar untuk memberikan analisis dan opini mengenai kondisi pengelolaan sampah di lingkungan kampus saat ini.
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sudah tergolong cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas mahasiswa yaitu sebanyak 90 responden (92,8%) menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dan bukan hanya tugas petugas kebersihan.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memahami pentingnya peran individu dalam menjaga kualitas lingkungan kampus yang bersih dan nyaman. Pemahaman yang baik mengenai tanggung jawab bersama merupakan modal awal yang sangat penting dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Selain itu, kesadaran tersebut juga tercermin dari perilaku sehari hari mahasiswa. Sebagian besar responden, yaitu sebanyak 83 responden (85,6%) menyatakan bahwa mereka bersedia membawa botol minum sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Tidak hanya itu, bahkan sebanyak 93 responden (95,9%) menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa mereka bersedia membawa dan menyimpan sampah hingga menemukan tempat sampah yang tersedia. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah menerapkan perilaku sederhana yang mendukung prinsip reduce dalam pengelolaan sampah.
Dari hasil kuesioner, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden juga tidak setuju dengan tindakan menumpuk sampah di atas tempat sampah yang sudah penuh maupun membuang sampah di lokasi yang tidak semestinya.
Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman yang baik mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan meskipun terkadang menghadapi keterbatasan fasilitas. Kelompok menilai bahwa perilaku tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan.
Disisi lain, kuesioner juga menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa faktor atau kendala dalam optimalisasi pengelolaan sampah. Sebagian responden mengaku pernah merasa enggan membuang sampah pada tempatnya ketika kondisi tempat sampah kotor, penuh, atau mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Menurut kelompok, kondisi ini menunjukkan bahwa perilaku masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh kesadaran individu, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas fasilitas yang tersedia. Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengelolaan sampah.
Selain itu, juga dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan sosial memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku mahasiswa. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa tidak nyaman atau malu apabila membuang sampah sembarangan ketika berada di sekitar teman-temannya.
Temuan ini sejalan dengan teori lingkungan sosial yang menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh norma dan kebiasaan yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Apabila budaya peduli lingkungan terus dibangun dan diperkuat, maka mahasiswa akan terdorong untuk mempertahankan perilaku positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, hasil kuesioner menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat pengelolaan sampah yang optimal. Sebanyak 89 responden (91,8%) berpendapat bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan di lingkungan kampus dipengaruhi oleh lemahnya sanksi atau aturan yang berlaku.
Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kesadaran perlu didukung oleh kebijakan yang tegas serta pengawasan yang konsisten agar tercipta budaya disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 91 responden (93,8%) memahami bahwa penumpukan sampah sisa makanan dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Tingginya tingkat pemahaman ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah.
Selain itu, sebanyak 70 responden (72,2%) tidak setuju dengan pernyataan bahwa tindakan kecil membuang sampah pada tempatnya tidak akan memberikan dampak berarti terhadap masalah sampah global. Hal ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berhubungan dengan aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial.
Sampah yang dikelola dengan baik dapat mengurangi risiko penyakit, menjaga kualitas lingkungan hidup, serta membuka peluang pemanfaatan kembali melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Oleh karena itu, pengelolaan sampah harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Berdasarkan keseluruhan hasil kuesioner, kelompok menyimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Andalas, khususnya di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, telah menunjukkan tingkat kesadaran yang cukup baik terhadap pentingnya pengelolaan sampah. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala yang perlu diperbaiki, terutama terkait fasilitas, pengawasan, dan pembentukan budaya peduli lingkungan yang lebih kuat.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pihak kampus untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Dengan adanya kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan lingkungan kampus yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan dapat terwujud secara optimal.
PENULIS :
- Azizah Bunayya
- Dwi Mochammad Geo SW
- Livia Monikasari
- Mustika Nabila Yuliana
- Najla Rahmedani Putri
- Radhiah Rizki
- Rindu Dinanti
- Rifqi Mulya Ahsan.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment