Esai
Mahasiswi
Pendidikan
Mahalnya Pendidikan, Murahnya Lapangan Kerja
APERO FUBLIC I ESAI.-- Biaya kuliah di Indonesia semakin mahal dari tahun ke tahun. Namun ironisnya, setelah wisuda, banyak sarjana justru mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Banyak dari masyarakat indonesia beranggapan bahwa kuliah merupakan sebuah tiket menuju sebuah kehidupan yang lebih baik.
Demi memperoleh gelar sarjana, masyarakat rela mengeluarkan biaya besar dengan harapan pendidikan tinggi dapat membuka banyak jalan menuju pekerjaan yang layak dan masa depan yang lebih terjamin.
Namun, realitas yang terjadi pada saat ini justru menunjukkan hal yang berbeda. Kondisi ini membuat masyarakat mulai mempertanyakan: Apakah pendidikan tinggi masih mampu menjadi jaminan masa depan yang lebih baik?
Foto oleh Markus Spiske di Unsplash Perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja membuat pola kebutuhan tenaga kerja juga ikut berubah. Kini, perusahaan tidak hanya melihat ijazah formal tetapi juga keterampilan yang praktis, kemampuan adaptasi, serta pengalaman yang relevan.
Sayangnya, banyak dari perguruan tinggi belum mampu mempersiapkan para mahasiswa dengan kebutuhan tersebut. Sehingga, apa yang dipelajari selama masa perkuliahan sering kali tidak sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kondisi ini menimbulkan banyak keresahan di kalangan generasi muda.
Banyak yang mulai mempertanyakan kembali nilai dari pendidikan tinggi, terutama ketika realitanya menunjukkan bahwa usaha dan biaya besar yang telah dikeluarkan tidak sepenuhnya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat tiap tahunnya, tingkat pengangguran Indonesia tidak bisa ditekan secara signifikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi, mencapai 7,28 juta orang pada Februari 2025. Dari jumlah pengangguran tersebut perguruan tinggi justru ikut berkontribusi di dalamnya. Tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas tercatat sebesar 5,39% dengan jumlah lulusan sarjana sebanyak 1.010.652 jiwa.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa inflasi dalam kategori pendidikan mengalami peningkatan tiap tahunnya, per Agustus 2024 inflasi pendidikan mencapai 1,83%. Tingkat inflasi ini bahkan telah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2023 inflasi pendidikan mencapai 1,57%. Inflasi pendidikan ini tercermin dengan meningkatnya biaya pendidikan tinggi seperti Uang Kuliah Tunggal dan juga Uang Pangkal. Namun, peningkatan biaya pendidikan yang terjadi tidak diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, biaya kuliah meningkat signifikan dengan rata-rata kenaikan pada tahun 2024 sebesar dua hingga tiga kali lipat sementara pada tahun 2025 mengalami peningkatan sebesar empat kali lipat. Sayangnya, kenaikan tersebut belum mampu menjawab persoalan utama yang dihadapi oleh masyarakat yaitu sulitnya mendapatkan sebuah pekerjaan.
Kurangnya keterhubungan antara sektor pendidikan dengan sektor industri juga menjadi salah satu penyebab dari meningkatnya pengangguran terdidik di Indonesia. Kurikulum yang ada di perguruan tinggi di Indonesia masih belum selaras dengan kebutuhan yang ada di pasar tenaga kerja.
Banyak dari program studi yang ada di perguruan tinggi lebih menerapkan pembelajaran dengan bersifat teoritis, sedangkan pada dunia industri lebih dibutuhkan sumber daya yang memiliki keterampilan praktis, adaptif dan juga siap pakai. Masih banyak dari perguruan tinggi lebih berfokus pada kuantitas lulusan dibandingkan dengan kualitas dan kompetensi lulusan.
Kenyataannya, banyak sekali institusi pendidikan yang menekan angka kelulusan mahasiswa tiap tahunnya demi mendapatkan citra yang bagus melalui keberhasilan akademik. Namun, seringkali mereka lupa akan kesiapan lulusan tersebut dalam menghadapi dunia kerja. Para mahasiswa didorong untuk lulus tepat waktu, tapi kurang dibekali dengan keterampilan kerja yang dibutuhkan oleh dunia industri.
Akibatnya, jumlah kelulusan akan terus meningkat, namun tidak seimbang dengan kualitasnya sehingga, banyak dari para lulusan tersebut yang belum mendapatkan pekerjaan setelah sarjana. Selain kualitas kelulusan, keterbatasan lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia juga menjadi salah satu faktor dari tingginya tingkat pengangguran terdidik.
Pertumbuhan angka kelulusan pada perguruan tinggi tidak selalu diiringi dengan peningkatan lapangan pekerjaan di industri yang ada di Indonesia. Hal tersebut dapat menimbulkan persaingan yang semakin ketat antarindividu, bahkan untuk pekerjaan yang kurang sesuai dengan bidang pendidikan sebelumnya.
Oleh karena itu, tingkat pengangguran terdidik yang terus meningkat tidak hanya disebabkan oleh keterampilan individu dan institusi perguruan tinggi, tetapi juga struktur ekonomi yang belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja terdidik dengan lebih
optimal.
Persoalan mengenai biaya pendidikan yang tinggi dan tidak diimbangi dengan jaminan pekerjaan yang sesuai bukan lagi persoalan sederhana. Isu ini banyak berkaitan dengan berbagai aspek, seperti pendidikan, kondisi ekonomi, hingga dinamika pasar tenaga kerja.
Padahal, pendidikan tinggi seharusnya bisa menjadi ruang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lebih produktif dan kompetitif, ketika lulusan tidak terserap secara maksimal di dunia kerja maka potensi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Masalah ini juga tidak dapat diselesaikan secara terpisah karena melibatkan berbagai persoalan yang saling berkaitan, mulai dari kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan industri, kepentingan institusi yang lebih mengutamakan kuantitas kelulusan dibandingkan kualitas, sampai struktur perekonomian yang belum dapat menyerap tenaga kerja yang sudah terdidik secara optimal.
Karena itu, dibutuhkan upaya kolaboratif dari berbagai jenis pihak agar pendidikan kembali pada fungsinya sebagai sarana peningkatan kualitas hidup. Perguruan tinggi perlu melakukan pembenahan kurikulum dengan memperkuat pendidikan yang berbasis keterampilan vokasi, sehingga lulusan tidak hanya memiliki gelar saja tetapi juga kompetensi yang siap digunakan dalam dunia kerja.
Sementara itu, pemerintah juga perlu mengkaji ulang atas kebijakan pembiayaan pendidikan agar masyarakat tidak semakin terbebani, dan juga mendorong pertumbuhan lapangan kerja yang sesuai dengan lulusan perguruan tinggi.
Pendidikan tinggi seharusnya menjadi investasi yang dapat memberikan dampak nyata, bukan hanya sekadar tuntutan sosial dan seharusnya mampu untuk meningkatkan kualitas hidup serta mampu berdaya
saing.
Jika kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri tidak dijembatani, maka pendidikan tinggi dapat berisiko kehilangan hubungannya dan hanya menjadi beban yang dipikul generasi mudatanpa kepastian yang jelas. Ini merupakan tantangan yang perlu segera dijawab agar pendidikan menjadi harapan, bukan hanya sekedar janji.
PENULIS : Sahlaa Syakira Lawahizh
Mahasiswi dari Universitas Negeri Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment