Cerpen
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Sastra Kita
Arti Sebuah Persahabatan
APERO FUBLIC I CERPEN.-- Adila dan Dimas adalah teman sekelas sejak kelas 1 SMA. Selain berada di kelas yang sama, rumah mereka juga berdekatan. Karena itu, mereka sering bertemu, baik di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan rumah.
Adila dikenal sebagai anak yang ceria, berkulit sawo matang, dan bergigi gingsul yang membuat senyumnya manis.
Adila memiliki lima orang sahabat di sekolah, yaitu Felia, Cindy, Hana, Aura, dan Selvia.
Walaupun Adila memiliki lima sahabat yang deket dengannya, Adila malah lebih terbuka dan lebih dekat dengan Aura. Persahabatan Adila, Aura, dan teman lainnya sudah terjalin sejak lama.
Suatu hari, Aura mengajak Adila seorang untuk pergi ke kantin di jam istirahat sekolah. Di kantin Aura bercerita bahwa ia menyukai Dimas. Setiap kali Dimas di dekatnya, Aura selalu tampak bersemangat. Ia bahkan sering meminta pendapat Adila tentang cara mendekati Dimas.
“Aku berharap suatu hari bisa menjadi pacarnya” ucap Aura sambil tersenyum malu.
Sebagai sahabat dekatnya, Adila selalu mendengarkan cerita Aura dan memberi dukungan.
Keesokan harinya, Aura meminta tolong kepada Adila untuk menanyakan nomor HP-nya Dimas. Walaupun Adila sudah mempunyai nomor HP Dimas sejak awal, Adila tetap meminta izin kepada Dimas untuk mengizinkan dirinya memberikan nomor HP-nya ke Aura.
“Hai Dimas, apa boleh aku memberikan nomor HP kamu ke Aura?” ucap Adila di dalam pesan.
“Tentu boleh, kasih saja ke Auranya” balas Dimas.
Akhirnya Adila mendapatkan izin dari Dimas untuk memberikan nomor HP-nya ke Aura. Aura sangat senang ketika mendapatkan nomor HP seseorang yang ia impikan untuk menjadi miliknya.
Waktu terus berlalu, Setelah lulus sekolah, mereka mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Komunikasi antara Adila dan Dimas pun terputus. Kecuali, komunikasi Adila dengan lima orang sahabatnya.
Dua tahun kemudian….
Dimana Adila dan lima sahabatnya sudah menjadi mahasiswa di universitas yang berbeda. Tiba-tiba, Adila mendapatkan pesan masuk ke ponselnya, yang dimana pesan tersebut dari Dimas.
“Hai Adila, apa kabar? Ini Dimas.”
Adila sangat terkejut sekaligus senang mendapatkan pesan itu. Awalnya mereka hanya saling bertukar kabar dan mengenang masa-masa sekolah. Namun, semakin lama percakapan mereka semakin sering dalam berkomunikasi.
Pada akhirnya, Dimas merasa nyaman saat berbicara dengan Adila. Dimas kagum dengan sifat Adila yang dewasa, baik hati, dan selalu menghargai orang lain. Hingga suatu hari, Dimas memberanikan dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya.
Padahal Dimas ingin sekali mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Adila. Namun, karena jarak yang memisahkan dan mereka sudah berada di tempat yang berbeda, Dimas hanya bisa menyampaikan isi hatinya melalui pesan.
“Sejujurnya, aku menyukaimu Adila, entah kenapa, setiap kali berkomunikasi dengamu, aku selalu merasa nyaman dan bisa menjadi diriku sendiri.”
Adila terdiam saat membaca pesan itu. Ia tidak marah ataupun kecewa. Namun, pikirannya langsung tertuju, dengan Aura. Ia teringat bagaimana sahabat dekatnya pernah menyimpan harapan besar kepada Dimas.
Setelah merenung cukup lama, Adila memutuskan untuk menjawab dengan jujur.
“Dimas, terima kasih karena sudah menyampaikan perasaanmu. Aku menghargainnya. Namun, aku lebih nyaman jika kita menjadi teman saja. Aku tidak ingin ada perasaan yang membuat hubungan persahabatan kita menjadi rumit.”
Dimas memahami keputusan Adila. Meskipun sempat merasa sedih, ia menghormati pilihan tersebut.
Sejak saat itu, Adila tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan Dimas maupun Aura. Ia tidak ingin kebahagiaannya dibangun di atas perasaan yang dapat melukai sahabatnya. Baginya, persahabatan, kejujuran, dan saling menghargai jauh lebih penting.
Pengalaman itu mengajarkan Adila bahwa dalam kehidupan, tidak semua kesempatan harus diambil. Terkadang, memilih yang benar lebih penting daripada memilih yang menyenangkan. Ia juga belajar bahwa perasaan harus disikapi dengan bijaksana, sementara persahabatan yang tulus perlu dijaga dengan sepenuh hati.
Pada akhirnya, Adila, Aura, dan Dimas tetap menjadi teman yang saling menghormati, mereka memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki seseorang, tetapi juga dari kemampuan untuk menjaga hubungan baik dan menghargai perasaan orang lain.
Penulis: Nadia Nurul Hikmah
Editor. Tim Redaksi
BIODATA DIRI
Nadia Nurul Hikmah, lahir di Jakarta, 08 Mei 2007. Mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumni Madrasah Aliyah Ummul Qura Tangerang Selatan. Alamat rumahnya di perumahan bumi waringin indah 1, Desa Waringinjaya, Kecamatan Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi. Hobinya menulis dan memasak. Bisa dihubungi melalu sosial media di Instagram @nnad_08 atau via surel di nadiahikmah885@gmail.com.
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment