Energi
Kampus
Mahasiswi
Opini
Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Pengaruh Kenaikan Harga BBM Terhadap Masyarakat Golongan Menengah?
Sumber: Dokumentasi pribadi, Bojonegoro, Jawa Timur, 2026.
APERO FUBLIC I OPINI.-- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan oleh masyarakat kelas menengah dalam beberapa waktu terakhir. Sejak terganggunya pasokan energi global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Yaitu, perang Israel-Iran yang meledak pada akhir Februari 2026, harga minyak dunia melonjak drastis dan Pertamina merespons dengan menaikan harga BBM nonsubsidi beberapa kali.
Pada 10 Juni 2026, Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, kenaikan pertama untuk jenis Pertamax sejak harga minyak dunia bergejolak. Selain Pertamax, BBM nonsubsidi lainnya, seperti Pertamax Green naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Selain itu, harga Pertamax Turbo tidak terjadi perubahan Rp 20.750 per liter sejak 1 Juni 2026. Adapun, harga BBM subsidi Pertalite yang tidak mengalami perubahan, yakni tetap Rp 10.000 per liter.
Kenaikan ini jelas membebani masyarakat, karena tarif angkutan barang akan ikut naik dan menjalar pelan-pelan ke harga di pasar tradisional maupun warung. Akibatnya, kebutuhan sehari-hari seperti makanan, kebutuhan rumah tangga, dan layanan tertentu menjadi lebih mahal.
Kondisi ini dapat menurunkan daya beli masyarakat golongan menengah karena pendapatan yang dimiliki tidak selalu meningkat sebanding dengan kenaikan harga barang dan jasa.
Dalam jangka panjang, kenaikan harga BBM dapat mendorong masyarakat golongan menengah untuk lebih berhemat dan menyesuaikan pengeluaran mereka. Pengeluaran untuk kebutuhan sekunder, seperti hiburan, rekreasi, atau pembelian barang konsumtif, cenderung dikurangi agar anggaran tetap seimbang.
Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan menabung dan berinvestasi juga dapat menurun sehingga berpengaruh terhadap kesejahteraan ekonomi mereka.
Pada akhirnya, masyarakat golongan menengah berada dalam posisi yang paling rentan. Mereka tidak tergolong miskin sehingga tidak mendapat bantuan sosial, namun juga tidak cukup kuat secara finansial untuk menyerap guncangan harga tanpa mengorbankan kualitas hidup.
Jika tekanan ini terus berlanjut tanpa kebijakan yang tepat sasaran, ada risiko nyata sebagian golongan menengah justru tergelincir ke kelompok ekonomi yang lebih rentan.
Oleh: Naysa Angellita
Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Energi

Post a Comment