Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Body Shaming di Era Media Sosial: Ketika Komentar Menjadi Luka
APERO FUBLIC I OPINI.-- Di era media sosial saat ini, hampir setiap orang memiliki ruang untuk berbicara. Sayangnya, tidak semua orang menggunakan kebebasan tersebut dengan bijak. Kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat berbagi pendapat sering kali berubah menjadi ruang untuk menghakimi penampilan fisik orang lain.
Komentar seperti "makin gendut ya", "kurus banget seperti kurang makan", atau "jerawatnya banyak sekali" mungkin terlihat sederhana bagi pelaku, tetapi dapat meninggalkan luka yang mendalam bagi penerimanya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai body shaming.
Body shaming bukanlah masalah baru, tetapi kehadiran media sosial membuat penyebarannya menjadi jauh lebih cepat dan luas. Seseorang dapat menerima ratusan bahkan ribuan komentar dalam waktu singkat.
Hal yang mengkhawatirkan adalah banyak orang masih menganggap body shaming sebagai candaan biasa. Padahal, tidak semua orang mampu menerima komentar mengenai tubuhnya dengan santai. Bagi sebagian orang, komentar tersebut dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.
Saya sering melihat bagaimana media sosial menampilkan standar kecantikan tertentu seolah-olah itulah ukuran ideal bagi semua orang. hal ini membuat banyak pengguna tanpa sadar mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.
Setiap hari pengguna disuguhkan foto dan video yang menampilkan tubuh ideal, kulit putih mulus, serta penampilan yang tampak sempurna. Akibatnya, banyak orang mulai membandingkan dirinya dengan apa yang mereka lihat di layar. Perbandingan ini sering kali membuat seseorang merasa kurang menarik, kurang cantik, atau kurang percaya diri.
Pendapat tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Fardouly dan Vartanian (2015). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh karena individu cenderung membandingkan penampilannya dengan orang lain yang mereka lihat di media sosial.
Temuan ini memperlihatkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Lebih dari sekadar menurunkan rasa percaya diri, body shaming juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Banyak korban yang akhirnya merasa malu terhadap tubuhnya, menghindari interaksi sosial, bahkan kehilangan kepercayaan diri untuk menampilkan dirinya di depan umum. Tidak sedikit pula yang menjadi terlalu fokus pada kekurangan fisik yang sebenarnya tidak terlalu diperhatikan oleh orang lain.
Dampak tersebut bukan sekadar asumsi. Puhl dan Lessard (2020) menjelaskan bahwa stigma terhadap berat badan memiliki hubungan dengan meningkatnya stres psikologis, kecemasan, depresi, serta rendahnya harga diri pada remaja dan dewasa muda.
Artinya, komentar yang dianggap sepele ternyata dapat memberikan konsekuensi yang serius bagi kondisi psikologis seseorang.
Menurut saya, salah satu alasan body shaming masih sering terjadi adalah rendahnya empati dalam berkomunikasi di media sosial. Banyak orang merasa bebas mengatakan apa saja karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang dikomentari.
Mereka lupa bahwa di balik setiap akun media sosial terdapat manusia yang memiliki perasaan. Kemudahan mengetik komentar sering kali membuat seseorang tidak memikirkan dampak dari kata-kata yang ditulisnya.
Oleh karena itu, upaya mengatasi body shaming tidak cukup hanya dengan mengajak korban untuk mencintai dirinya sendiri. Masyarakat juga perlu belajar menghargai perbedaan bentuk tubuh dan penampilan setiap individu.
Sebelum menuliskan komentar tentang fisik seseorang, ada baiknya mempertimbangkan apakah komentar tersebut benar-benar diperlukan dan bermanfaat. Jika tidak, mungkin diam adalah pilihan yang lebih baik.
Pada akhirnya, tubuh setiap orang berbeda dan tidak seharusnya menjadi bahan ejekan. Standar tubuh ideal yang sering ditampilkan di media sosial bukanlah ukuran nilai seseorang sebagai manusia. Yang lebih penting adalah kesehatan, karakter, serta bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Karena itu, sudah saatnya pengguna media sosial lebih bijak dalam berkomentar. Satu kalimat mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis, tetapi dampaknya bisa tersimpan lama dalam ingatan seseorang. Jangan sampai komentar yang kita anggap biasa justru menjadi luka bagi orang lain.
Oleh: Safira Rahmah
Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment