Esai
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
FOMO di Era Digital Hidup yang Kita Jalani atau Hidup yang Kita Pamerkan?i
APERO FUBLIC I ESAI.-- Pernahkah kamu merasa gelisah saat melihat teman-temanmu liburan ke luar negeri, menghadiri konser artis, band favoritmu, atau menikmati makan malam di restoran mewah sementara kamu hanya rebahan di kamar? Perasaan itu punya nama FOMO, atau Fear of Missing Out. Dan di era media sosial seperti sekarang, FOMO bukan lagi sekadar perasaan sesekali ia telah menjadi bagian dari rutinitas harian jutaan anak muda.
Ketika Layar Menjadi Jendela Perbandingan
Media sosial lahir dengan janji yang indah, menghubungkan manusia satu sama lain. Tapi tanpa kita sadari, platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter telah berubah menjadi panggung pertunjukan. Setiap orang berlomba menampilkan versi terbaik dari hidupnya foto liburan yang sempurna, pencapaian karier yang membanggakan, hingga hubungan asmara yang tampak bahagia tanpa cela.
Masalahnya, kita semua tahu bahwa itu hanya highlight reel cuplikan terbaik dari kehidupan seseorang. Namun otak kita tidak selalu bisa membedakannya. Setiap kali kita melihat unggahan orang lain, secara tidak sadar kita membandingkannya dengan kehidupan kita yang penuh dengan momen biasa, membosankan, dan tidak Instagram worthy.
Inilah akar dari FOMO bukan ketakutan akan pengalaman yang terlewat, melainkan ketakutan akan tertinggal dalam narasi sosial yang kita sendiri ikut membangunnya.
FOMO Bukan Sekadar Iri Hati Biasa
Banyak orang meremehkan FOMO sebagai bentuk iri hati yang dangkal. Padahal, secara psikologis, dampaknya jauh lebih serius dari itu.
Penelitian menunjukkan bahwa FOMO erat kaitannya dengan rendahnya rasa puas terhadap kehidupan sendiri, meningkatnya kecemasan sosial, dan penurunan self-esteem. Generasi muda yang tumbuh bersama media sosial adalah generasi yang paling rentan. Mereka belum sepenuhnya membangun identitas diri yang kokoh, namun sudah harus menghadapi tekanan konstan untuk selalu ada di mana-mana dan menjadi seseorang yang menarik.
Yang lebih mengkhawatirkan, FOMO menciptakan siklus yang sulit diputus. Semakin kita merasa tertinggal, semakin kita membuka media sosial untuk memperbarui informasi. Dan semakin sering kita membuka media sosial, semakin besar peluang kita untuk merasa tidak cukup.
Paradoks Hadir di Mana-mana, Tapi Tak Ada di Mana Pun
Ada ironi besar yang sering kita lupakan. Demi menghindari FOMO demi merasa hadir dalam setiap momen kita justru melewatkan momen yang sedang kita jalani sendiri.
Bayangkan kamu sedang makan bersama keluarga, tapi matamu terus melirik notifikasi. Kamu sedang nongkrong bersama sahabat, tapi sibuk mengabadikan setiap momen untuk story. Kamu sedang menikmati konser, tapi lebih banyak merekam daripada mendengarkan.
Di sinilah pertanyaan besar muncul, apakah kita benar-benar hidup, atau hanya mendokumentasikan hidup untuk ditonton orang lain?
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai presence deprivation kehilangan kemampuan untuk hadir secara penuh dalam momen nyata karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana momen itu akan terlihat di mata orang lain.
FOMO yang Menguras Kantong Ketika Tren Menjadi Tekanan
FOMO tidak hanya hidup di dunia maya ia juga sangat nyata di kehidupan sehari-hari, terutama dalam cara kita berbelanja dan mengikuti tren.
Jujur saja, siapa di antara kita yang tidak pernah merasa terpanggil untuk membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan? Teman beli smartphone baru dengan spesifikasi terkini tiba-tiba HP kita yang masih berfungsi baik terasa kuno dan memalukan.
Seseorang di TikTok memakai celana blink-blink yang sedang viral tiba-tiba lemari pakaian kita terasa tidak lengkap tanpa itu. Influencer menampilkan sandal branded edisi terbatas tiba-tiba kaki kita terasa kurang layak tanpa alas kaki seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Ini bukan sekadar keinginan biasa. Ini adalah FOMO dalam wujud konsumtif dorongan untuk terus membeli agar merasa up to date, agar terlihat relevan, agar tidak dicap ketinggalan zaman oleh lingkungan sekitar.
Akibatnya, kita berbelanja bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk memenuhi ekspektasi-ekspektasi orang lain, dan ekspektasi versi diri kita yang ingin terlihat keren di mata dunia.
Ketika FOMO Memaksa Kita Melampaui Batas Kemampuan
Yang paling memprihatinkan dari FOMO konsumtif adalah ketika ia mendorong seseorang untuk berbelanja jauh melampaui kemampuan finansialnya.
Tidak sedikit anak muda yang rela meminjam uang kepada teman, keluarga, bahkan platform pinjaman online hanya demi membeli barang yang sedang tren. Baju baru setiap musim. Sepatu branded yang harganya setara cicilan bulanan. Gadget terbaru yang sebenarnya tidak jauh berbeda fungsinya dari yang lama. Semua itu dibeli bukan karena mampu, tapi karena takut merasa kalah atau tertinggal.
Tapi pengakuan itu sifatnya sementara. Kepuasan dari barang baru biasanya hanya bertahan beberapa hari sebelum tren berikutnya datang, dan siklus itu berulang lagi. Sementara utang yang menumpuk, dan tekanan finansial yang mengikutinya, jauh lebih lama dampaknya dari sekadar numpang viral.
Psikologi menyebut ini sebagai hedonic treadmill, treadmill kesenangan di mana kita terus berlari mengejar kepuasan material, tapi tidak pernah benar-benar sampai di titik puas.
FOMO Gaya Hidup Dari Puncak Gunung hingga Keranjang Belanja
FOMO tidak hanya soal barang ia juga merambah ke gaya hidup dan aktivitas yang kita pilih, atau lebih tepatnya, yang kita ikuti karena orang lain melakukannya.
Ambil contoh tren naik gunung. Beberapa tahun terakhir, konten pendakian gunung membanjiri TikTok dan Instagram. Foto di puncak dengan latar kabut dan sunrise, kopi hangat di tenda, caption penuh filosofi tentang hidup semuanya terlihat begitu epik dan bermakna.
Tidak heran, banyak anak muda yang tiba-tiba merasa ingin naik gunung, bukan karena mereka memang pecinta alam sejak lama, melainkan karena tren itu terlihat keren dan sayang untuk dilewatkan.
Yang menarik adalah respons yang sering kita ambil setelahnya menunggu. Menunggu teman mengajak, menunggu momen yang tepat, menunggu kondisi yang sempurna. Keinginan itu menggebu di awal, tapi menguap begitu saja ketika tren mulai berganti.
Ini adalah salah satu wajah FOMO yang paling umum namun paling jarang disadari keinginan yang lahir dari tekanan sosial, bukan dari dorongan yang tulus dari dalam diri.
Dilema Konser Antara Kebahagiaan dan Kebutuhan
Ada satu bentuk FOMO yang lebih rumit dari sekadar membeli barang yaitu ketika FOMO itu datang dalam bentuk pengalaman, bukan benda.
Bayangkan situasi ini kamu sedang rebahan sambil scroll TikTok, dan tiba-tiba beranda dipenuhi video konser artis favoritmu. Suasana megah, penonton bernyanyi bersama, lampu-lampu sorot yang memukau, dan energi yang terasa bahkan hanya lewat layar. Dalam hitungan detik, keinginan itu muncul aku juga ingin di sana.
Tidak lama setelah itu, teman mengajakmu nonton konser. Artisnya kamu kenal, lagunya kamu suka, dan teman-temanmu sudah antusias dari jauh hari. Di satu sisi, ada kebahagiaan yang terasa nyata ini bukan sekadar mengikuti tren, ini pengalaman yang bisa menjadi kenangan indah bersama orang-orang yang kamu sayangi. Di sisi lain, ada suara kecil yang berbisik uang segitu bisa dipakai untuk hal yang lebih penting.
Dan di sinilah letak dilema yang sesungguhnya. Tidak seperti membeli celana trendi yang seminggu kemudian sudah terlupakan, pengalaman seperti konser punya nilai yang berbeda. Psikologi bahkan menyebut bahwa pengeluaran untuk pengalaman experiential spending cenderung memberikan kepuasan yang lebih tahan lama dibandingkan pengeluaran untuk barang.
Namun tetap saja, keputusan itu tidak pernah hitam-putih. Apakah uang tiket konser itu memang tersedia dan tidak akan mengganggu kebutuhan lain? Apakah kamu pergi karena benar-benar ingin menikmati musiknya, atau karena takut jadi satu-satunya yang tidak hadir saat teman-teman bercerita esok harinya?
Kadang, pergi ke konser adalah keputusan yang tepat dan penuh makna. Kadang, memilih untuk tidak pergi dan mengalihkan uang itu untuk kebutuhan yang lebih mendesak adalah bentuk kedewasaan yang tidak kalah berharga. Yang penting adalah keputusan itu lahir dari kesadaran, bukan dari ketakutan akan ketinggalan.
Belanja Impulsif, Kesenangan Sesaat, Penyesalan Jangka Panjang
Ada satu rasa yang sangat akrab bagi siapa pun yang pernah terjebak FOMO konsumtif penyesalan setelah membeli.
Kamu melihat barang lucu atau trendi di media sosial entah itu aksesori unik, produk skincare yang viral, baju dengan desain estetik, atau pernak-pernik yang tampak menggemaskan. Tanpa pikir panjang, kamu membeli. Barangnya datang, kamu senang sesaat, tapi beberapa hari kemudian barang itu sudah tergeletak di sudut kamar dan nyaris tidak pernah disentuh lagi.
Inilah yang disebut belanja impulsif berbasis FOMO. pembelian yang didorong oleh kecemasan sosial, bukan oleh kebutuhan nyata. Dan siklus ini berulang terus tren baru muncul, kita membeli, kita menyesal, tren berikutnya datang, kita membeli lagi.
Yang perlu kita sadari adalah bahwa kepuasan dari pembelian impulsif itu sangat singkat. Psikologi menyebutnya sebagai kesenangan sesaat instant gratification yang tidak memberikan kebahagiaan jangka panjang.
FOMO Tidak Selalu Buruk Mengenal Sisi Positifnya
Di tengah semua dampak negatif yang telah kita bahas, ada satu hal yang perlu diakui dengan jujur tidak semua FOMO itu merugikan.
Kembali ke contoh naik gunung tadi. Jika FOMO terhadap tren pendakian akhirnya mendorongmu untuk benar-benar pergi ke alam terbuka, melatih fisik, menghirup udara segar, dan menikmati keindahan alam yang selama ini hanya kamu lihat di layar itu adalah FOMO yang berbuah positif.
Kamu mendapatkan pengalaman nyata, kesehatan tubuh yang lebih baik, bahkan mungkin komunitas baru yang memperkaya hidupmu.
FOMO terhadap tren olahraga bisa menjadi motivasi untuk mulai bergerak aktif. FOMO terhadap kebiasaan membaca buku bisa mendorongmu untuk akhirnya membuka halaman pertama novel yang sudah lama kamu tunda. FOMO terhadap tren memasak sehat bisa menjadi awal dari pola makan yang lebih baik.
Perbedaannya terletak pada apa yang kamu lakukan setelah FOMO itu muncul. Apakah kamu hanya menginginkan pengalamannya untuk ditampilkan di media sosial? Atau kamu benar-benar terjun, mencoba, dan menikmati prosesnya terlepas dari ada yang menonton atau tidak?
Tantangannya adalah belajar membedakan keduanya mana dorongan yang datang dari rasa ingin tahu yang tulus, dan mana yang hanya datang dari ketakutan akan penilaian sosial.
Tampil Percaya Diri Itu Boleh, Tapi Kenali Motivasinya
Penting untuk ditegaskan tidak ada yang salah dengan ingin tampil menarik, mengikuti tren fashion, atau menikmati barang-barang bagus. Berpenampilan rapi dan stylish adalah bentuk ekspresi diri yang sah dan bahkan bisa meningkatkan rasa percaya diri.
Masalahnya bukan pada keinginan untuk terlihat baik, baik di mata orang lain maupun di mata diri sendiri. Masalahnya adalah ketika motivasi di balik keinginan itu bukan lagi kesenangan pribadi, melainkan ketakutan akan penilaian orang lain. Ketika kita membeli bukan karena suka, tapi karena takut dianggap ketinggalan.
Tanyakan pada dirimu Apakah aku membeli ini karena aku benar-benar menginginkannya? Atau karena aku takut bagaimana orang akan memandangku jika aku tidak membelinya?
Saatnya Memilih Hidup untuk Diri Sendiri
Solusi dari FOMO bukan berarti kita harus menghapus semua akun media sosial dan hidup seperti membatasi digital. Melainkan, kita perlu membangun kesadaran tentang mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan.
Beberapa langkah kecil yang bisa dimulai:
• Tanya pada diri sendiri sebelum membuka media sosial Apakah aku membukanya karena ingin, atau karena takut ketinggalan?
• Bedakan antara berbagi dan pamer. Berbagi adalah ekspresi tulus pamer adalah upaya validasi dari orang lain.
• Sebelum membeli, tunggu 3 hari. Jika setelah tiga hari kamu masih benar-benar menginginkannya bukan sekadar terbawa euforia tren barulah pertimbangkan untuk membeli.
• Kenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan yang dipicu FOMO. HP yang masih berfungsi baik bukan berarti harus diganti hanya karena ada model baru.
• Latih Joy of Missing Out (JOMO). Nikmati ketenangan memilih untuk tidak hadir dalam setiap keramaian itu bukan kelemahan, melainkan pilihan sadar.
• Tetapkan batas waktu layar yang realistis, terutama di pagi dan malam hari.
• Jangan memaksakan diri hingga berutang demi mengikuti tren. Tidak ada tren yang sepadan dengan tekanan finansial jangka panjang.
Hidupmu Bukan Konten
Generasi muda hari ini tumbuh di persimpangan yang unik cukup melek teknologi untuk memanfaatkan media sosial, namun cukup sadar untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang di balik semua itu.
FOMO mengajarkan kita satu hal penting kita telah begitu lama hidup untuk layar orang lain membeli untuk dilihat, berpenampilan untuk dinilai, dan berbelanja untuk diterima hingga lupa bagaimana rasanya hidup dan tampil untuk diri sendiri.
Nilai dirimu bukan ditentukan oleh merek sepatumu, model HP mu, atau seberapa sering kamu mengikuti tren terbaru. Nilai dirimu jauh lebih dalam dari itu dan tidak bisa dibeli dengan kartu kredit atau pinjaman online.
Hidupmu bukan konten.
Pengalamanmu tidak perlu mendapat likes untuk menjadi bermakna. Penampilanmu tidak perlu bermerek mahal untuk layak dihargai. Dan momen paling berharga dalam hidupmu mungkin justru yang tidak pernah kamu unggah ke mana pun.
Mulailah hadir. Mulailah memilih untuk dirimu sendiri. Bukan untuk kamera. Bukan untuk tren. Tapi untuk hidupmu yang nyata.
Oleh : Adhara Silvia Rezka
MAHASISWI UNIVERSITAS UIN AR-RANIRY
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment