Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Scrolling Tanpa Henti: Media Sosial dan Kesehatan Mental yang Kita Abaikan
"Sebagai Gen Z, kita besar bersama media sosial. Tapi tidak ada yang pernah bilang bahwa tumbuh bersama sesuatu bukan berarti kita baik-bai saja karenanya."
by Saofa Yarda
16 Juni 2026
APERO FUBLIC I PSIKOLOGI.-- SAYA lahir di era di mana HP sudah ada sejak saya bisa mengingat. Saya tumbuh bersama BBM,Facebook,Instagram,Snapchat, Twitter, TikTok, dan entah platform apa lagi yang akan muncul tahun depan. Generasi saya, Gen Z,sering disebut sebagai digital natives, generasi yang paling melek teknologi. Tapi kalau boleh jujur, justru di situlah letak beban yang tidak pernah benar-benar kita bicarakan.
Karena menjadi melek teknologi tidak otomatis berarti kita sehat secara mental karenanya.
Kita Tahu, Tapi Tetap Tidak Bisa Berhenti
Satu hal yang membedakan generasi kami dari generasi sebelumnya adalah ini:kami tahu persis bahwa media sosial tidak selalu baik untuk mental kami,tapi kami tetap tidak bisa berhenti. Dan itu bukan karena kami lemah atau tidak punya prinsip. Ini jauh lebih rumit dari sekadar soal disiplin diri.
Platform-platform ini memang dirancang untuk adiktif. Bukan secara kebetulan,tapi secara sengaja. Sistem notifikasi, fitur like, algoritma yang belajar dari kebiasaan kita,semuanya bekerja seperti mesin slot yang terus memancing kita untuk kembali.
Setiap kali kita mendapat like atau komentar, otak kita melepaskan dopamin, zat yang sama yang terlibat dalam kecanduan. Bedanya, tidak ada label peringatan di bawah ikon Instagram seperti yang ada di bungkus rokok.
Kami tahu media sosial tidak selalu baik untuk mental kami. Tapi kami tetap tidak bisa berhenti. Dan itu bukan kelemahan karakter, itu adalah hasil rekayasa yang sangat disengaja.
Hidup di Bawah Tekanan yang Tidak Kelihatan
Sebagai Gen Z,saya merasakan sendiri tekanan yang datang dari media sosial, dan ini bukan tekanan yang bisa dijelaskan dengan mudah ke generasi sebelumnnya.Ini bukan cuma soal takut ketinggalan tren atau FOMO. Ini soal tumbuh di dunia di mana seluruh hidup kita seolah harus layak untuk ditampilkan.
Kita scrolling dan melihat teman-teman yang hidupnya terlihat sempurna.Liburan yang estetik, pencapaian yang membanggakan, tubuh yang ideal,hubungan yang harmonis. Semua dikurasi, disunting, diberi filter. Dan otak kita, yang tidak diprogram untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang dipoles, dengan santai membandingkan semua itu dengan kehidupan kita sehari-hari yang penuh ketidaksempurnaan.
Lama-lama,tanpa sadar, kita mulai merasa tidak cukup. Tidak cukup menarik,tidak cukup sukses, tidak cukup bahagia. Padahal yang kita bandingkan adalah versi asli diri kita sendiri dengan versi terbaik yang sudah direkayasa oleh orang lain.
Yang Paling Menyakitkan: Ramai tapi Kesepian
Ironi terbesar dari media sosial adalah ini: platform yang katanya menghubungkan manusia justru membuat banyak dari kami merasa semakin kesepian.
Saya punya ratusan followers, tapi ada malam-malam di mana saya tidak tahu harus cerita ke siapa. Kita bisa terhubung dengan ribuan orang sekaligus, tapi koneksi yang dangkal dan serba cepat itu tidak bisa menggantikan kebutuhan manusia untuk benar-benar didengar dan dimengerti.
Psikologi menyebutnya sebagai loneliness paradox, situasi di mana seseorang secara sosial terlihat aktif dan terhubung, tapi di dalam merasa kosong dan terisolasi. Dan ini bukan kondisi langka. Ini sedang dialami oleh jutaan anak muda di seluruh dunia,termasuk mungkin oleh kita sendiri.
Bukan Berarti Harus Hapus Semua Akun
Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk tiba-tiba menghapus semua akun dan hidup seperti pertapa digital. Itu tidak realistis, dan terus terang, media sosial juga punya manfaat nyata bagi kami. Dari akses informasi, ruang untuk mengekspresikan diri,sampai komunitas yang benar-benar suiportif, semua itu ada dan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Yang perlu berubah bukan keputusan untuk pakai atau tidak pakai media sosial.Yang perlu berubah adalah kesadaran kita tentang bagaimana kita menggunakannya.Mulai dari hal kecil yang konkret: audit akun yang kamu ikuti, apakah mereka membuatmu terinspirasi atau justru semakin merasa tidak cukup?.
Tetapkan batas waktu layar yang kamu sendiri yang menentukan, bukan algoritma. Matikan notifikasi yang tidak penting. Pilih untuk hadir secara penuh dalam momen nyata, bukan selalu mendokumentasikan segalanya untuk konsumsi online.
Dan yang paling penting: berhentilah menyalahkan diri sendiri karena kesulitan lepas dari media sosial. Kamu tidak sedang melawan kelemahan dirimu. Kamu sedang melawan sistem bernilai miliaran dolar yang memang dirancang untuk menang atas perhatianmu.
Kita Berhak Memilih Hadir
Generasi kami tidak butuh ceramah tentang bahaya HP dari orang-orang yang tidak pernah hidup dengan tekanan digital yang kami hadapi. Yang kami butuhkan adalah ruang untuk jujur, bahwa tidak semua yang terlihat di layar adalah kenyataan,bahwa merasa kewalahan itu valid, dan bahwa menjaga kesehatan mental adalah sesuatu yang wajar dan perlu, bukan tanda kelemahan.
Karena pada akhirnya, tidak ada jumlah like, view, atau followers yang setara dengan ketenangan yang kita rasakan saat kita benar-benar hadir, untuk diri sendiri dan untuk orang-orang nyata di sekitar kita.
Oleh : Saofa Yarda
Editor. Tim Redaksi
Penulis adalah mahasiswa Psikologi di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Sebagai bagian dari generasi Z, penulis menaruh perhatian pada isu kesehatan mental, perilaku digital, dan kesejahteraan psikologis anak muda masa kini.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment