Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Fenomena Self-Diagnose Kesehatan Mental di Media Sosial
APERO FUBLIC I OPINI.-- Di era modern ini , media sosial bukan hanya berfungsi sebagai sarana hiburan namun telah bergeser ke ruang informasi kesehatan yang paling masif. Fenomena tentang individu yang mendiagnosis kondisi kesehatan mental mereka sendiri marak dan sangat masif.
Berdasarkan konten video yang viral untuk mendiagnosis kesehatan mental diri sendiri, fenomena ini juga didorong kuat oleh apa yang disebut digital health-seeking behaviour yaitu perilaku mencari informasi kesehatan secara mandiri melalui internet tanpa adanya regulasi dan edukasi yang memadai.(Budenz et al., 2020).
Sebuah studi dalam Journal of Clinical Psychiatry menyoroti dampak dari maraknya video berdurasi pendek di berbagai platform modern. Karena durasi video yang pendek, para konten kreator seringkali membungkusnya dengan hal yang ‘estetik’ dan juga relateable dengan kehidupan sehari-hari.
Hal ini memicu keterikatan emosional, sehingga seseorang akan merasa “menemukan jawaban” atas kecemasan mereka sebelum berkonsultasi ke profesional.ditambah dengan algoritma media sosial dirancang untuk menyajikan konten yang sangat terpersonalisasi, sehingga ketika seseorang sekali saja menunjukan keterikatan pada isu psikologis, maka algoritma akan terus membombardir dengan konten serupa yang seringkali menyederhanakan kriteria klinis yang rumit.
Akibatnya, diagnosis klinis tentang gangguan mental yang seharusnya membutuhkan proses klinis yang panjang dan ilmu yang mendalam, kini bergeser menjadi sebuah label identitas instan yang didapatkan hanya dalam hitungan detik dari sebuah video pendek yang seringkali terlalu menyederhanakan hal yang rumit.
Fenomena ini tidaklah muncul begitu saja. Terdapat beberapa faktor penyebab mengapa banyak orang terjebak dalam pusaran self-diagnose itu sendiri.
A. Paparan Informasi Kesehatan Mental yang Tidak Terfilter
Simplikasi konten oleh algoritma, media sosial bekerja demi mempertahankan atensi penggunanya sehingga konten edukasi psikologi yang idealnya mendalam akhirnya dipotong-potong dan disederhanakan secara ekstrem demi estetika visual dan durasi yang singkat.
Ditambah lagi dengan konten kreator yang membuat narasi umum yang seolah-olah valid untuk semua orang demi mengejar tayangan dan popularitas.
B. Keterbatasan Akses ke Tenaga Profesional
Kendala finansial seringkali menjadi hambatan utama. Biaya konsultasi ke psikolog atau psikiater yang relatif mahal serta belum merata secara geografis untuk fasilitas kesehatan mental di berbagai daerah membuat masyarakat kelas menengah ke bawah kesulitan mendapatkan bantuan resmi dari profesional.
Sehingga internet menjadi jalan pintas gratis. Alih-alih melakukan verifikasi medis yang memakan waktu dan biaya, masyarakat memilih mempercayai mesin pencari maupun video pendek sebagai konformitas klinis mereka.
C. Reaksi Emosional dan Keinginan untuk Diperhatikan
Validasi atas kecemasan diri seseorang ketika mengalami tekanan hidup cenderung mencari pembenaran melalui media sosial.Menemukan konten yang “sesuai” memberikan rasa lega sementara bahwa mereka tidak sendiri.
Sehingga akan ada kecenderungan psikologis dimana seseorang merasa membutuhkan label gangguan tertentu untuk menjelaskan kegagalan atau kesulitan personal yang mereka hadapi, sekaligus mendapatkan atensi dari lingkungan sosialnya.
D. Pola Pikir Generalisir Terhadap Gejala
Rendahnya skeptisisme terhadap emosi normal telah memicu pergeseran logika yang diaman perasaan sedih yang wajar akibat patah hati atau kegagalan langsung dicap sebagai depresi kronis, sementara rasa gugup sebelum presentasi kerap dianggap sebagai gangguan kecemasan akut.
Fenomena ini diperparah oleh minimnya kemampuan berpikir kritis, dimana banyak pengguna media sosial belum mampu membedakan konten murni bertujuan meningkatkan kesadaran yang valid dan resmi.
Selain penyebab fenomena ini terjadi, ada juga akibat yang terjadi yang dimana banyak orang yang salah penanganan dan mal praktek mandiri yang bukanya menyembuhkan malahan berpotensi memicu komplikasi kesehatan fisik dan memperparah kondisi psikologis sebenarnya.
Begitu pula dengan stigma masyarakat yang akan menggap remeh hal seperti OCD, bipolar, maupun Trauma karena hanya dianggap sebagai tren media sosial biasa.
Pada akhirnya media sosial merupakan pisau bermata dua, ia berhasil meruntuhkan tabu seputar kesehatan mental, namun di sisi lain memicu anarki informasi melalui fenomena self-diagnose.
Memahami gejala awal secara bijak merupakan bentuk awareness tentu diperbolehkan, namun menetapkan diagnosis akhir adalah otoritas mutlak dari tenaga profesional yang dilindungi oleh ilmu pengetahuan dan kode etik medis.
OLEH : Nawir Nasar
Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Brawijaya
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment