Kampus
Mahasiswi
Opini
Tenaga Kerja
Diploma di Laci, Skill di Pasar: Krisis Investasi SDM Indonesia
Ketika Ijazah Tidak Lagi Cukup: Mismatch Keterampilan dan Kebutuhan Dunia Kerja
APERO FUBLIC I OPINI.-- Persoalan ketenagakerjaan di Indonesia saat ini masih menjadi sebuah masalah yang perlu kita perhatikan bersama. Sebab lebih dari 17 juta orang mendaftar program Kartu Prakerja sejak pertama kali diluncurkan, dan angka ini bukan sekadar statistik biasa.
Di baliknya, ada realita bahwa banyak tenaga kerja merasa belum cukup siap untuk bersaing di dunia kerja yang terus berubah. Di sisi lain, lebih dari 40% perusahaan justru kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, terutama di bidang yang membutuhkan keterampilan digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa adanya ketimpangan antara apa yang dimiliki pencari kerja dan apa yang sebenarnya dibutuhan oleh industri.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 153 juta orang. Namun, hanya sekitar 12,66% yang merupakan lulusan sarjana. Sebagian besar tenaga kerja masih berada pada tingkat pendidikan menengah ke bawah.
Bahkan sekitar 54% tergolong pekerja dengan keterampilan rendah (low-skill worker), yang lebih rentan terhadap perubahan kebutuhan industri. Kondisi ini dapat dilihat dari tingginya tingkat pengangguran usia muda. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,16%, tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Sebagian dari mereka merupakan lulusan terdidik, namun belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Banyak orang menempuh pendidikan dengan harapan memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Namun, persoalan yang dihadapi saat ini bukan sekadar rendahnya akses pendidikan, melainkan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Ketika kurikulum tidak mampu mengikuti perkembangan dunia kerja, keterampilan yang dimiliki lulusan menjadi kurang relevan.
Di sisi lain, masih kuat anggapan bahwa diploma merupakan ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, perhatian sering kali lebih tertuju pada perolehan ijazah daripada penguasaan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja. Dalam perspektif Human Capital Theory, pendidikan dan pelatihan seharusnya menjadi investasi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja.
Dunia industri kini membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, serta daya adaptasi yang tinggi. Namun, banyak lulusan masih dibekali kemampuan yang bersifat umum sehingga belum siap menghadapi tuntutan pekerjaan secara langsung.
Seiring perkembangan teknologi dan perubahan struktur ekonomi, kebutuhan keterampilan juga terus berubah. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan perlu lebih responsif agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Pada akhirnya, persoalan utama ketenagakerjaan Indonesia terletak pada skill mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara ketermpilan yang dimiliki tenaga kerja dan kebutuhan industri. Kondisi ini menjelaskan mengapa pengangguran terdidik masih tinggi meskipun jumlah lulusan terus bertambah.
Di tengah bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu. Tanpa keterampilan yang relevan, diploma hanya akan tersimpan di laci, sementara pasar kerja terus mencari kemampuan yang tidak dimiliki pencari kerja.
PENULIS :
- Siti Aisyah
- Risya Faiturahmah Utami
- Gregodianto Caritos Akwirang
- Dr. Dyah Maya Nihayah, S.E., M.Si.
- Retno Febriyastuti Widyawati, S.E., M.Sc.
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment