Puisi
Sastra Kita
Barangkali yang Berubah Adalah Kita
Barangkali yang Berubah Adalah Kita
_*"Kadang yang berubah bukan dunia. Toh dunia sibuk menjadi dirinya sendiri. Yang berubah, barangkali, adalah cara kita memandangnya."*_
Saya sering membayangkan orang-orang tua di kampung.
Sore datang, mereka keluar rumah. Duduk di dingklik bambu, secangkir kopi mengepul di tangan, mata memandangi langit yang pelan-pelan menguning. Tidak ada yang difoto. Tidak ada yang diumumkan. Senjanya ya senja yang sama seperti kemarin. Kopinya ya kopi yang sama seperti pagi tadi.
Toh mereka menikmatinya saja.
Entah sejak kapan cara menikmati itu berubah.
Sekarang, sebelum menyeruput kopi, kita lebih dulu mencari cahaya yang pas. Sebelum benar-benar melihat senja, tangan sudah lebih dulu meraih telepon genggam. Bahkan hujan pun, yang dulu cukup didengar dari balik jendela, sekarang terasa belum lengkap kalau belum sempat diunggah ke media sosial.
Aneh, ya.
Bukan karena kita menyukai keindahan.
Itu justru sangat manusiawi.
Yang membuat saya sering bertanya-tanya adalah: sejak kapan kita mulai lebih mencintai tampilan daripada pengalaman?
Lha wong senja itu tidak pernah tahu dirinya sedang dipuji.
Ia hanya cahaya Matahari yang sedang pulang. Dalam *Critique of Judgment* (1790), Immanuel Kant menulis bahwa keindahan tidak pertama-tama berada pada bendanya, melainkan lahir dari penilaian batin manusia. Mungkin itu sebabnya langit yang sama bisa membuat seseorang tersenyum, sementara yang lain memilih diam karena teringat seseorang. Yang berbeda bukan langitnya, melainkan hati yang memandangnya.
Kalau begitu, mencari keindahan tentu bukan persoalan.
Abraham Maslow, melalui *Toward a Psychology of Being* (1968), bahkan menyebut bahwa pengalaman berjumpa dengan sesuatu yang indah dapat menghadirkan *peak experiences*, momen ketika manusia merasa hidupnya utuh dan penuh makna. Barangkali itulah mengapa kita rela berhenti sejenak hanya untuk memandangi senja. Bukan karena senja mengubah dunia, melainkan karena ia mengubah cara kita merasakan dunia.
Namun, di situlah kegelisahan itu pelan-pelan muncul.
Keindahan yang semula membantu kita memahami hidup, lambat laun berubah menjadi ukuran hidup itu sendiri.
Kopi bukan lagi sekadar teman berbincang, tetapi bagian dari komposisi. Perjalanan bukan lagi tentang langkah yang ditempuh, melainkan tentang foto yang berhasil dibawa pulang. Buku bukan lagi hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk ditata sedemikian rupa agar tampak estetik.
Pelan-pelan, tanpa kita sadari, kita belajar mencintai bingkai lebih daripada isinya.
Erving Goffman dalam *The Presentation of Self in Everyday Life* (1959) pernah mengibaratkan kehidupan sebagai panggung. Ada bagian diri yang kita tampilkan kepada orang lain, ada pula yang kita simpan rapat-rapat. Media sosial membuat panggung itu seolah tidak pernah ditutup. Kita terus memainkan peran, sampai kadang lupa mana wajah yang sungguh milik kita dan mana yang hanya kita pinjam demi tepuk tangan.
Jean Baudrillard, dalam *Simulacra and Simulation* (1981), bahkan mengingatkan bahwa manusia modern dapat hidup dalam keadaan ketika citra terasa lebih nyata daripada kenyataan. Ketika pertama kali membaca gagasan itu, saya mengira ia sedang berbicara tentang masa depan. Rupanya tidak.
Barangkali ia sedang berbicara tentang kita.
Bukankah hari ini kita lebih sering mengingat senja lewat galeri foto daripada lewat rasa yang sempat singgah di dada? Bukankah kita lebih hafal warna langitnya daripada percakapan yang terjadi di bawah langit itu?
Lha wong hidup ini kok pelan-pelan berubah menjadi etalase.
Padahal hidup bukan etalase.
Ia kadang berantakan.
Kadang melelahkan.
Kadang mengecewakan.
Dan justru karena itulah ia layak dicintai.
Barangkali, yang kita perlukan hari ini bukan lebih banyak keindahan.
Melainkan lebih banyak keberanian untuk mengalami.
Keberanian duduk memandangi senja tanpa merasa harus memotretnya. Keberanian minum kopi tanpa sibuk memikirkan sudut terbaiknya. Keberanian membaca buku tanpa merasa perlu memberi tahu seluruh dunia bahwa kita sedang membacanya.
Toh, tidak semua yang bermakna harus diumumkan.
Dan tidak semua yang indah harus diabadikan.
Sebab, bisa jadi, keindahan yang paling jujur justru lahir pada saat tidak ada siapa-siapa selain kita, langit, dan hati yang akhirnya mau benar-benar hadir.
Oleh: Evi Khomsatun
Mahasiswi Prodi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Puisi

Post a Comment