Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Dampak Psikologis Broken Home pada Anak
APERO FUBLIC I OPINI. - Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang kasih sayang, rasa aman, serta kehidupan sosial. Dalam keluarga, anak mengenal arti perhatian, komunikasi, dan dukungan emosional.
Namun, tidak semua anak tumbuh dalam kondisi keluarga yang harmonis. Istilah broken home digunakan untuk menggambarkan kondisi keluarga yang tidak utuh atau tidak berjalan dengan baik. Hal ini bisa disebabkan oleh perceraian, konflik berkepanjangan, kurangnya komunikasi, atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga.
Kondisi tersebut dapat memberikan dampak psikologis yang cukup besar bagi perkembangan anak. Broken home bukan hanya berarti orang tua yang bercerai, tetapi juga mencakup situasi di mana hubungan dalam keluarga tidak harmonis.
Misalnya, sering terjadi pertengkaran, tidak adanya kehangatan dalam keluarga, atau
kurangnya perhatian terhadap anak. Dalam kondisi seperti ini, anak sering kali merasa kehilangan tempat yang seharusnya menjadi sumber rasa aman dan perlindungan secara emosional.
Dampak Psikologis pada Anak
1. Rasa Tidak Aman dan Cemas
Anak yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis cenderung merasa gelisah dan
tidak tenang. Mereka hidup dalam ketidakpastian karena kondisi rumah yang tidak stabil.
2. Menurunnya Kepercayaan Diri
Kurangnya kasih sayang dan perhatian membuat anak merasa tidak dihargai.
Akibatnya, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah.
3. Gangguan Emosi
Anak bisa menjadi lebih sensitif, mudah marah, sering sedih, bahkan berpotensi mengalami depresi. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki contoh pengelolaan emosi yang sehat.
4. Kesulitan Bersosialisasi
Anak mungkin kesulitan mempercayai orang lain dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
5. Penurunan Prestasi Belajar
Kondisi mental yang terganggu membuat anak sulit fokus, sehingga prestasi akademik bisa menurun.
6. Perilaku Menyimpang
Dalam beberapa kasus, anak mencari pelarian melalui hal-hal negatif seperti kenakalan remaja atau pergaulan yang kurang baik.
Faktor yang Mempengaruhi Dampak
Tidak semua anak mengalami dampak yang sama. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:
Usia anak saat mengalami kondisi tersebut
Dukungan dari keluarga lain (kakek, nenek, saudara)
Lingkungan sosial dan sekolah
Cara orang tua menyelesaikan konflik.
Kisah Nyata: Bertahan di Tengah Ketidakhadiran
Ada seorang anak yang harus menjalani hidup tanpa kehadiran orang tuanya. Kedua orang tuanya pergi ke luar negeri, meninggalkannya bersama sang adik. Sejak saat itu, ia tidak hanya menjadi kakak, tetapi juga harus berperan seperti orang tua.
Setiap hari, ia berjuang mencari uang demi memenuhi kebutuhan makan mereka. Kadang ia harus menahan lapar, bekerja keras meski masih dalam usia yang seharusnya dipenuhi dengan belajar dan bermain. Ketika keadaan benar - benar sulit, ia mencoba meminta bantuan kepada saudara.
Namun, tidak selalu ia mendapatkan respon yang baik. Terkadang ia justru mendapat penolakan, bahkan perlakuan yang membuatnya merasa tidak diinginkan. Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun ia jalani dengan penuh perjuangan.
Ia belajar untuk kuat, meski hatinya sering merasa lelah dan kesepian. Hingga suatu hari, orang tuanya kembali. Namun, kepulangan itu tidak membawa kehangatan seperti yang ia bayangkan.
Justru ia dihadapkan pada kenyataan pahit: perceraian. Di tengah kebingungan dan luka yang belum sembuh, ia harus menjawab pertanyaan yang sangat berat: "Kamu
mau ikut ayah atau ibu?".
Pertanyaan itu bukan sekadar pilihan, tetapi beban besar bagi seorang anak yang sejak lama hanya menginginkan satu hal sederhana "keluarga yang utuh".
Cara Mengurangi Dampak Negatif
1. Memberikan Dukungan Emosional
Anak tetap membutuhkan kasih sayang dan perhatian, meskipun kondisi keluarga
tidak utuh.
2. Menjaga Komunikasi yang Baik
Komunikasi terbuka membantu anak merasa didengar dan dipahami.
3. Lingkungan yang Positif
Sekolah dan lingkungan sosial yang baik dapat menjadi tempat aman bagi anak
untuk berkembang.
4. Pendampingan Psikologis
Jika diperlukan, bantuan dari konselor atau psikolog dapat membantu anak mengatasi tekanan emosional. Broken home dapat memberikan dampak psikologis yang serius bagi anak, mulai dari kecemasan, gangguan emosi, hingga perubahan perilaku.
Namun, dengan dukungan yang tepat dari orang tua, keluarga, dan lingkungan, anak tetap memiliki peluang untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan sehat secara mental.
Oleh karena itu, penting bagi orang dewasa di sekitar anak untuk lebih peka, peduli, dan
hadir secara emosional dalam kehidupan mereka.
PENULIS : Vanessya Trisna Nurjanah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Jusila, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment