Kampus
Kesehatan
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Revenge Bedtime Procrastination: Kebiasaan Menunda Tidur di Tengah Lelahnya Kuliah dan Kerja
APERO FUBLIC I OPINI.- Di tengah tuntutan kehidupan yang semakin kompleks, khususnya bagi individu yang harus menjalani peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus pekerja, waktu sering kali terasa tidak pernah cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban yang ada. Mulai dari aktivitas akademik, tanggung jawab pekerjaan, hingga berbagai persoalan pribadi yang turut memengaruhi kondisi emosional.
Sehingga keadaan ini tidak jarang menimbulkan kelelahan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental. Pada akhirnya, memengaruhi pola istirahat seseorang, meskipun tubuh sudah berada dalam kondisi sangat lelah.
Sebagian individu justru memilih untuk tetap terjaga di malam hari demi mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri. Apa Itu Revenge Bedtime Procrastination?.
Revenge bedtime procrastination merupakan suatu perilaku menunda waktu tidur secara sengaja walaupun individu menyadari bahwa tubuhnya membutuhkan istirahat yang cukup. Kebiasaan ini muncul sebagai bentuk respon terhadap kurangnya waktu luang yang dirasakan pada siang hari.
Sehingga malam hari dianggap sebagai satu-satunya kesempatan untuk menikmati kebebasan tanpa tekanan, dan dalam praktiknya, individu biasanya mengisi waktu tersebut dengan berbagai aktivitas hiburan seperti menggunakan ponsel, menonton video, atau sekadar menikmati suasana tenang. Meskipun mereka memahami bahwa keputusan tersebut dapat berdampak pada kondisi tubuh di keesokan harinya.
Gambaran Situasi Nyata
Fenomena ini sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa yang juga bekerja. Dimana sejak pagi hingga sore hari dihabiskan untuk menjalankan pekerjaan dengan tuntutan profesionalitas. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan perkuliahan serta penyelesaian tugas yang sering kali menumpuk. Sementara di sisi lain, terdapat berbagai tekanan dari lingkungan sekitar seperti masalah keluarga, relasi sosial, maupun dinamika di tempat kerja yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Sehingga ketika malam tiba, meskipun tubuh telah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, muncul perasaan bahwa hari tersebut belum memberikan ruang yang cukup untuk diri sendiri, yang kemudian mendorong individu untuk menunda waktu tidur demi mendapatkan sedikit waktu pribadi, walaupun pada akhirnya harus mengorbankan kualitas istirahat.
Faktor Penyebab (Tinjauan Psikologi)
Jika ditinjau dari perspektif psikologi, perilaku ini dapat dipahami sebagai bentuk ketidakseimbangan antara tuntutan eksternal dan kebutuhan internal individu, di mana padatnya aktivitas sehari-hari membuat seseorang merasa kehilangan kontrol atas waktu yang dimilikinya.
Sehingga malam hari menjadi momen yang dimanfaatkan untuk mengembalikan rasa kendali tersebut, selain itu manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk menikmati waktu pribadi yang tidak selalu terpenuhi di siang hari, yang kemudian diperkuat oleh kondisi stres dan kelelahan mental akibat tekanan yang terus-menerus, sehingga individu cenderung mencari bentuk hiburan instan sebagai pelarian.
Dalam konteks modern, kehadiran media sosial juga berperan besar dalam memperkuat kebiasaan ini karena memunculkan rasa takut tertinggal informasi atau pengalaman orang lain, yang secara tidak langsung membuat seseorang terus terjaga meskipun tubuhnya sudah tidak lagi dalam kondisi optimal.
Dampak yang Ditimbulkan
Kebiasaan menunda waktu tidur secara terus-menerus dapat memberikan berbagai dampak negatif yang sering kali tidak disadari pada awalnya, di mana kualitas tidur yang menurun akan menyebabkan tubuh menjadi mudah lelah dan kurang bertenaga dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Selain itu, kemampuan konsentrasi juga akan menurun sehingga berdampak pada performa akademik maupun
pekerjaan.
Kondisi emosional menjadi lebih tidak stabil yang dapat memicu stres tambahan. Serta dalam jangka panjang kebiasaan ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan baik secara fisik maupun mental. Dengan demikian apabila tidak segera diatasi, kondisi ini dapat membentuk siklus kelelahan yang terus berulang dari hari ke hari.
Upaya Mengatasi Revenge Bedtime Procrastination
Untuk mengurangi dan mengatasi kebiasaan ini, individu perlu mulai membangun kesadaran terhadap pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Dimana salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan waktu khusus untuk diri sendiri di sela-sela kesibukan. Meskipun hanya dalam durasi yang singkat, sehingga kebutuhan akan waktu pribadi tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan waktu tidur.
Selain itu, membiasakan pola tidur yang teratur juga penting untuk membantu tubuh memiliki ritme biologis yang stabil. Diikuti dengan upaya mengurangi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur agar pikiran lebih rileks. Serta mengembangkan kebiasaan relaksasi seperti membaca, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan refleksi diri.
Sehingga secara perlahan individu dapat membangun pola hidup yang lebih sehat tanpa merasa kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Revenge bedtime procrastination merupakan fenomena yang umum terjadi pada individu dengan tingkat kesibukan yang tinggi, terutama pada mahasiswa yang juga bekerja.
Dimana kebiasaan ini muncul sebagai bentuk kebutuhan akan waktu pribadi yang tidak terpenuhi di siang hari, namun di sisi lain dapat menimbulkan berbagai dampak negatif apabila dilakukan secara terus-menerus, sehingga diperlukan kesadaran dan upaya untuk mengatur waktu secara lebih seimbang.
Dengan memberikan ruang bagi diri sendiri tanpa mengabaikan kebutuhan istirahat, karena pada akhirnya kualitas hidup yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa produktif seseorang, tetapi juga oleh kemampuannya dalam menjaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh.
PENULIS : Shiffa Rahmatika Nur Janah
Mahasiswi Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment