Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Sosial Masyarakat
Sosiologi
Budaya Takut Salah dan Krisis Keberanian Berbicara
APERO FUBLIC I OPINI.- Belakangan ini, di media sosial tidaklah sulit menemukan orang Indonesia yang fasih menulis komentar berbahasa Inggris. Terutama pada platform X, terdapat banyak pengguna dari Indonesia yang melayangkan cuitan dengan menggunakan bahasa Inggris.
Namun, dalam kenyataan praktiknya, ternyata masih sangat sulit untuk menerapkan atau menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Orang justru banyak kehilangan rasa percaya diri untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris.
Kurangnya keberanian tersebut terlihat sangat jelas di lingkungan sekolah, kampus, dan bahkan ruang profesional sekalipun. Beberapa lebih memilih untuk diam hanya karena bayang-bayang kesalahan ataupun rasa takut yang mendalam terhadap penilaian dari lingkungan sekitar mereka.
Menurut data EF English Proficiency Index 2025, Indonesia ditempatkan pada peringkat 80 dunia dan masih tercatat memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang rendah. Melihat rendahnya angka dalam kemampuan berbahasa Inggris menyebabkan banyak sekali hilangnya peluang dalam beberapa aspek kehidupan, seperti lapangan pekerjaan.
Di era globalisasi dan kemajuan teknologi ini, banyak sekali lapangan pekerjaan yang mengharuskan pekerja menggunakan bahasa Inggris meskipun hanya kemampuan dasar komunikasi yang masih sangat ringan untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari saja.
Di lingkungan akademik seperti sekolah, siswa cenderung takut untuk menyampaikan pendapat mereka dalam bahasa Inggris atau bahkan sekadar membaca. Hal tersebut timbul karena adanya kritik sosial yang menyebabkan siswa tidak berkembang. Seakan-akan berbicara menggunakan bahasa Inggris dan membuat kesalahan adalah momok yang paling menakutkan.
Tak hanya itu, lingkungan kampus juga masih sangat minimnya penggunaan bahasa Inggris, terlebih di era AI yang semakin berkembang ini. Kehadiran AI membuat banyak mahasiswa memilih jalur praktis dalam belajar bahasa Inggris, tetapi tidak selalu diiringi keberanian untuk berlatih secara langsung.
Fenomena ini menyebabkan banyaknya mahasiswa yang bahkan masih sangat sulit memahami bahasa Inggris. Ketakutan itu terus berkembang sampai akhirnya lahir istilah “grammar police”.
Orang-orang semakin takut berbicara menggunakan bahasa Inggris karena kesalahan kecil sering kali mendapatkan kritikan pedas. Dalam kasus ini, sebagai seorang pengajar, harus mampu membangun suasana yang nyaman untuk mengembangkan kepercayaan diri dalam belajar berbahasa.
Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia lebih banyak menekankan hafalan tata bahasa dan nilai ujian dibandingkan dengan keberanian berkomunikasi. Siswa akhirnya terbiasa mengejar jawaban benar, tetapi tidak dibiasakan menghadapi kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
Maka kebanyakan siswa sudah secara alami terpaku pada hasil, bukan proses, yang nyata. Sedangkan yang dibutuhkan saat ini adalah kemampuan dalam praktik nyata, khususnya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Pada kenyataannya, tak jarang orang lebih percaya diri berbahasa di media sosial dibandingkan di dunia nyata.
Mereka terlihat lebih leluasa menyampaikan pendapat mereka dalam bahasa Inggris ketika mereka berada di media sosial. Akibatnya, bahasa Inggris lebih sering dipahami sebagai mata pelajaran, bukan keterampilan komunikasi yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, masyarakat sendirilah yang menciptakan “budaya malu mencoba” dan juga label “sok Inggris” pada setiap orang yang ingin mencoba belajar berbahasa. Hal ini mengakibatkan sempitnya ruang untuk berkembang. Padahal, ketika kita mencoba berbahasa, tidak ada yang mengharuskan untuk selalu benar.
Karena kesalahan itu adalah bentuk proses dalam belajar. Berbahasa asing juga bukan berarti kita tidak menghormati budaya kita sendiri. Bahasa justru dapat menjadi alat untuk mengembangkan potensi diri dan membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan maupun dunia kerja.
Selama label semacam itu, uterus hidup di tengah masyarakat, rasa percaya diri dan minat untuk belajar bahasa akan sulit tumbuh. Rendahnya kepercayaan diri juga akan berdampak pada kemampuan generasi muda untuk menghadapi persaingan global.
Banyak peluang akademik dan profesional menuntut kemampuan komunikasi bahasa Inggris, mulai dari beasiswa, konferensi internasional, hingga dunia kerja digital. Namun, rasa takut melakukan kesalahan sering membuat banyak orang menghindari kesempatan tersebut.
Untuk mengatasi fenomena ini, sangat diperlukan lingkungan belajar dan budaya sosial yang lebih mendukung proses belajar. Sekolah, kampus, maupun masyarakat perlu berhenti menjadikan kesalahan berbahasa sebagai bahan ejekan atau penilaian negative.
Sebaliknya, keberanian untuk mencoba patut diberikan apresiasi agar menjadi dorongan untuk terus maju. Pembelajaran berbahasa Inggris juga harus lebih menekankan praktik daripada sekadar hafalan teori agar siswa terbiasa menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, bukan sekadar mata pelajaran.
Pada akhirnya, kemampuan berbahasa bukan hanya soal seberapa baik seseorang memahami tata bahasa, tetapi juga tentang keberanian untuk menggunakan suara sendiri tanpa takut dihakimi.
PENULIS : Ervina Rusiana
Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment