Kampus
Mahasiswa
Olahraga
Opini
Pendidikan
Match Fixing (Pengaturan Skor) Dan Doping : DalamPermainan Sepak Bola Yang Merugikan
APERO FUBLIC I OPINI.- Pengaturan skor (match fixing) adalah praktik manipulasi hasil pertandingan sepak bola untuk meraih keuntungan, baik secara materi maupun non-materi.
Menurut pandangan FIFA sebagai otoritas sepak bola dunia, pengaturan skor biasanya dilakukan secara terencana dan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang berkaitan dengan perjudian, serta bisa melibatkan korupsi baik secara individu
maupun institusi.
Motivasi pelaku tindak pidana pengaturan skor dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu mencari keuntungan secara langsung dan tidak langsung. Keuntungan secara langsung biasanya diperoleh oleh pihak yang terlibat dalam perjudian, karena mereka dapat memanfaatkan hasil pertandingan yang telah diprediksi sebelumnya.
Sementara itu, keuntungan tidak langsung umumnya menjadi motivasi bagi para
pelaku yang berasal dari pihak olahraga itu sendiri. Tujuannya adalah agar tim dapat
memenangkan pertandingan, menghindari degradasi, atau memperoleh kesempatan
promosi ke kasta kompetisi yang lebih tinggi.
Keberhasilan tim untuk tetap bertahan di kompetisi atau meraih prestasi juara akan
berdampak signifikan terhadap kondisi finansial tim. Tim yang mampu bersaing di
level liga teratas cenderung menarik lebih banyak sponsor, yang pada gilirannya
menciptakan keuntungan bersama antara pihak tim dan sponsor.
Dengan demikian, motivasi pengaturan skor tidak hanya terkait dengan hasil pertandingan, tetapi juga berimplikasi pada aspek finansial dan keberlanjutan tim.
Namun, ketika kemenangan diraih melalui doping , esensi dari sportivitas tersebut
runtuh. Secara keilmuan olahraga, doping adalah kondisi biologi yang merusak
kesetaraan peluang ( equal opportunity ).
Secara internasional, ini adalah bentuk
ketidakjujuran yang merusak citra bangsa di mata internasional. Atlet yang menggunakan doping bukan sedang "berjuang" untuk negara, melainkan sedang merusak kehormatan bangsa demi ego pribadi.
Jika doping adalah pelanggaran fisik dan medis, maka pengaturan skor adalah
bentuk "korupsi" yang nyata di dunia olahraga. Pengaturan pertandingan melibatkan manipulasi hasil pertandingan demi keuntungan finansial melalui judi
atau kepentingan pihak tertentu.
Pengabaian terhadap etika olahraga ini membawa dampak jangka panjang yang
berbahaya:
*Degradasi Moral: Generasi muda akan tumbuh dengan pemahaman keliru bahwa
"tujuan menghalalkan segala cara."
*Kesehatan Atlet: Penggunaan zat terlarang (doping) memiliki efek samping medis
yang fatal, mulai dari kerusakan organ hingga gangguan kejiwaan, yang merupakan
kerugian bagi sumber daya manusia unggul Indonesia.
*Krisis Kepercayaan: Sponsor dan masyarakat akan menarik dukungan dari industri
olahraga jika hasilnya dianggap sebagai "sandiwara" yang sudah diatur.
Maka dari itu, kita harus berpikir kritis karena sepak bola bukan hanya sekadar permainan sebelas lawan sebelas di atas rumput hijau. Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, sepak bola adalah instrumen pemersatu, kebanggaan nasional, dan manifestasi dari nilai-nilai kewarganegaraan.
KESIMPULAN
Sepak bola harus tetap menjadi ruang di mana kerja keras, taktik, dan keberuntungan alami menjadi penentu hasil. Membiarkan doping dan pengaturan skor merajalela sama saja dengan membiarkan kematian perlahan dari olahraga ini.
Menjaga integritas sepak bola adalah tanggung jawab kolektif—dari federasi, pemain, hingga suporter—untuk memastikan bahwa "permainan indah" ini tetap bersih untuk generasi mendatang.
PENULIS : Muhammad Zaidan Aflah
Mahasiswa Universitas Mercu Buana, Jurusan Ilmu Keolahragaan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment