Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Banyak Orang Merasa Pesimis Karena Terlalu Sering Melihat Berita Negatif di Media Sosial
APERO FUBLIC I OPINI.- Scroll. Berhenti sejenak. Baca berita buruknya. Scroll lagi. Itulah rutinitas setiap hari jutaan orang Indonesia. Tanpakita sadari, kebiasaan ini perlahan-lahan mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Banyak orang mulai merasa bahwa hidup terasa semakin sulit, dunia semakin buruk, dan masa depan tak lagi menjanjikan.
Apakah dunia benar-benar semakin buruk, ataukah kita hanya terjebak dalam arus berita negatif yang tak berujung?. Media sosial dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di platform media sosial selama mungkin.
Salah satu cara paling efektif adalah dengan menampilkan konten yang memicu emosi kuat, dan berita negatif terbukti jauh lebih efektif dalam menarik perhatian daripada berita positif. Algoritma platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter secara otomatis memprioritaskan konten yang memicu reaksi, termasuk kemarahan, kesedihan, dan ketakutan.
Akibatnya, pengguna akan terus-menerus dibombardir dengan berita bencana, konflik, kejahatan, dan ketidakadilan. Pada kenyataannya, tidak semua peristiwa negatif yang muncul di beranda kita memang benar-benar terjadi.
Dampak Nyata pada Kesehatan Mental
Paparan berita negatif yang berlebihan memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental. Intensitas penggunaan media sosial berkorelasi positif dengan tingkat kecemasan dan pesimisme di kalangan remaja dan dewasa muda di Indonesia.
Semakin sering seseorang terpapar berita negatif, semakin besar kemungkinan mereka memiliki pandangan bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya dan tidak aman.
Kondisi ini dikenal sebagai “doomscrolling,” yang mengacu pada kebiasaan terus-menerus
membaca berita buruk meskipun hal itu menimbulkan perasaan tidak nyaman. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memicu depresi, gangguan tidur, dan hilangnya motivasi untuk berkontribusi kepada masyarakat.
Pesimisme yang Mengancam Partisipan Sosial
Dampak pesimisme tidak hanya berhenti pada tingkat pribadi. Dari sudut pandang sosial
kewarganegaraan, warga negara yang pesimistis cenderung apatis terhadap kehidupan sosial dan kewarganegaraan.
Mereka akan enggan terlibat dalam kegiatan sosial, tidak percaya pada lembaga-lembaga negara, dan kehilangan antusiasme untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi.
Namun, Indonesia tentu membutuhkan generasi muda yang optimis, kritis, dan aktif untuk mewujudkan aspirasi bangsa. Pesimisme massal yang diakibatkan oleh konsumsi berita negatif yang berlebihan merupakan ancaman nyata bagi kualitas demokrasi dan kohesi sosial bangsa kita.
Literasi Digital Sebagai Solusi
Solusi utama untuk masalah ini bukan dengan menghindari media sosial, melainkan
dengan meningkatkan literasi digital masyarakat. Kominfo (2021) menyatakan bahwa tingkat literasi digital masyarakat Indonesia masih berada dalam kategori sedang, yang berarti banyak pengguna yang belum mampu menyaring dan mengelola informasi dengan bijak.
Pemerintah, sekolah, dan keluarga perlu bekerja sama untuk menumbuhkan kebiasaan
konsumsi media yang sehat. Masyarakat perlu diajarkan cara membatasi waktu mereka di media sosial, memilih sumber berita yang dapat dipercaya, serta menyeimbangkan konsumsi berita negatif dengan informasi yang inspiratif dan membangun semangat.
Pesimisme bukan sesuatu yang tak terhindarkan. Pesimisme merupakan hasil dari
kebiasaan yang dapat diubah. Ketika kita menyadari bahwa algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita cemas dan marah, kita memiliki kekuatan untuk melawan hal tersebut.
Dengan literasi digital yang kuat dan konsumsi informasi yang bijak, kita dapat kembali memandang dunia dengan lebih jernih dan penuh harapan. Sebab, sebuah bangsa yang maju tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh warga negara yang berpikir positif dan mengambil tindakan nyata.
Refrensi
Asosiasi Psikologi Indonesia. (2022). Laporan kesehatan mental masyarakat Indonesia 2022. API Press. Jakarta.
Juditha, C. (2019). Hoaks dan disinformasi di media sosial Indonesia. Jurnal Pekommas, 4(2), 191–202.
Kominfo. (2021). Indeks literasi digital Indonesia 2021. Kementerian Komunikasi dan
Informatika. Jakarta.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Winataputra, U. S. (2012). Pendidikan kewarganegaraan dalam perspektif internasional. Widya Aksara Press.
PENULIS : Heni Tri Suwanti
Mahasiswi Pendidikan Matematika, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment