Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Bahasa Inggris Jadi Jalan Naik Kelas atau Alat Seleksi Sosial?
APERO FUBLIC I OPINI.- Halo teman-teman semua, sampai saat ini (8 Mei 2026), bahasa Inggris menjadi bahasa yang krusial di tengah hiruk-pikuk dunia. Bahasa Inggris mulai diakui sebagai bahasa internasional secara bertahap setelah World War II sekitar tahun 1945.
Pada tahun 1945 juga, organisasi United Nations berdiri dan bahasa Inggris dijadikan salah satu bahasa resminya. Dari situ, penggunaan Inggris semakin mendunia. Bahasa Inggris dipilih menjadi bahasa internasional karena pada saat itu (1945).
Negara-negara yang paling berpengaruh di dunia banyak menggunakan bahasa Inggris, terutama United States dan United Kingdom. Hal tersebut membuat negara lain menyesuaikan diri agar komunikasi internasional menjadi lebih mudah.
Bahasa Inggris mulai masuk ke Indonesia sekitar awal abad ke-19, tetapi belum begitu luas digunakan. Pengaruh terbesar datang dari aktivitas perdagangan dan hubungan dengan United Kingdom.
Pada masa penjajahan Belanda, bahasa yang lebih dominan sebenarnya adalah bahasa Belanda, bukan bahasa Inggris. Oleh karena itu, beberapa kaum elite di Indonesia lebih banyak mempelajari bahasa Belanda dibandingkan bahasa Inggris.
Adanya Jarak Sosial
Pada era saat ini, khususnya di Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris sering dipuji sebagai kunci kesuksesan. Banyak orang percaya bahwa semakin mahir seseorang berbahasa Inggris, maka kesempatan untuk meraih kesuksesan di tingkat internasional juga semakin besar.
Dalam konteks ini, bahasa Inggris sering dianggap sebagai kunci mobilitas sosial. Namun, benarkah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan “kunci” tersebut?
Realitasnya tidak sesederhana itu. Akses terhadap pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia masih sangat timpang. Siswa yang lahir dan berkembang di kota besar serta memiliki latar belakang finansial yang mapan cenderung memiliki fasilitas yang lebih baik dibandingkan siswa yang tumbuh di daerah terpencil dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu.
Sebagai contoh, siswa yang berasal dari keluarga berkecukupan dapat memperoleh fasilitas seperti kursus berbayar, lingkungan bilingual, hingga guru yang kompeten. Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan kesenjangan sosial yang semakin melebar.
Alih-alih menjadi alat mobilitas sosial yang dapat meningkatkan taraf hidup, bahasa Inggris justru berpotensi menjadi alat seleksi sosial. Mereka yang memiliki privilege akan semakin diuntungkan, sedangkan mereka yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa keluarga mapan di Indonesia yang cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik dibandingkan keluarga kurang mampu.
Banyak perusahaan, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial yang lebih menghargai orang-orang yang fasih berbahasa Inggris. Oleh karena itu, banyak pelamar pekerjaan yang memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih mudah mendapatkan kesempatan, meskipun belum tentu lebih kompeten di bidang lain.
Sementara itu, orang-orang yang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris sering kali dipandang kurang berkualitas. Padahal, kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh latar belakang finansial dan lingkungan sejak awal.
Tidak sedikit pula orang yang mulai memandang rendah orang lain yang tidak fasih berbahasa Inggris. Mereka merasa lebih pintar, lebih berkualitas, dan lebih berpendidikan hanya karena mampu menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Sikap seperti ini dapat memunculkan konflik secara tidak langsung.
Fenomena tersebut mudah ditemukan di media sosial, lingkungan kampus, maupun lingkungan pergaulan. Banyak orang yang sengaja mencampurkan bahasa Inggris secara berlebihan di depan orang lain hanya agar terlihat superior.
Ditambah lagi dengan penggunaan media sosial yang sangat masif, hal tersebut dapat memicu terjadinya cyberbullying terhadap individu yang dianggap kurang mampu atau kurang fasih berbahasa Inggris.
Dampak yang Terjadi
Fenomena tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan
bermasyarakat, terutama di kalangan anak muda. Salah satu akibat yang dapat terlihat adalah munculnya sikap saling merendahkan antarsesama individu.
Orang yang fasih berbahasa Inggris terkadang merasa lebih pintar, lebih maju, dan lebih modern dibandingkan orang lain.
Sementara itu, mereka yang tidak menguasai bahasa Inggris secara fasih sering kali
memberikan penilaian negatif dengan menganggap pengguna bahasa Inggris sebagai pribadi yang sombong dan ingin terlihat superior. Ada pula beberapa dampak lain yang dapat muncul, seperti berikut.
1. Menurunnya Rasa Percaya Diri
Orang yang belum fasih berbahasa Inggris dapat merasa minder, malu berbicara, bahkan takut menyampaikan pendapat karena khawatir diejek oleh orang lain.
2. Munculnya Diskriminasi Sosial
Orang yang belum fasih berbahasa Inggris terkadang dianggap kurang keren dan kurang
mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, orang yang sangat fasih berbahasa Inggris sering dianggap lebih keren sehingga dapat memunculkan diskriminasi sosial di lingkungan pertemanan maupun lingkungan lainnya.
3. Hilangnya Rasa Menghargai Sesama
Orang-orang yang berada dalam kelompok dengan banyak anggota yang fasih berbahasa
Inggris terkadang merasa lebih eksklusif. Hal tersebut dapat memunculkan sikap sombong dan hilangnya rasa menghargai sesama manusia.
4. Menghambat Proses Belajar
Orang-orang yang belum fasih berbahasa Inggris dan ingin belajar terkadang takut dihujat selama proses pembelajaran. Padahal, kemampuan tersebut merupakan keterampilan penting yang tidak dapat dipelajari dalam waktu singkat.
5. Hilangnya Rasa Bangga Terhadap Bahasa Indonesia
Banyak orang yang lebih sering menggunakan bahasa Inggris dan merasa lebih bangga
menggunakan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat memunculkan sikap berlebihan terhadap bahasa Inggris dan bahkan membuat seseorang merasa malu menggunakan bahasa nasional maupun bahasa daerahnya sendiri.
Solusi terhadap Dampak yang Terjadi
Untuk mengatasi kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh penggunaan bahasa Inggris secara berlebihan, diperlukan sikap saling menghargai dan menghormati antarsesama manusia.
Selain itu, diperlukan pula kesadaran bahwa bahasa Inggris bukanlah alat yang membedakan kelas sosial. Orang yang mampu berbahasa Inggris dengan fasih seharusnya menggunakan kemampuan tersebut untuk berbagi pengetahuan dan membantu orang lain belajar.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu menghilangkan kebiasaan mudah membenci dan menghakimi orang lain hanya karena penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, lembaga pendidikan seperti sekolah dan kampus seharusnya mampu menciptakan
suasana yang harmonis dan penuh toleransi. Guru juga memiliki peran penting dalam
meningkatkan rasa percaya diri siswa sehingga mereka tidak merasa minder terhadap
kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki dan tetap semangat untuk belajar.
Kesimpulan
Bahasa Inggris memang memiliki peran penting sebagai bahasa internasional dan dapat membuka banyak peluang dalam pendidikan, pekerjaan, maupun komunikasi global. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk mempelajarinya.
Perbedaan fasilitas, lingkungan, dan kondisi ekonomi membuat kemampuan bahasa Inggris sering kali menjadi penanda status sosial. Akibatnya, muncul sikap saling merendahkan,
diskriminasi sosial, hingga hilangnya rasa percaya diri pada sebagian orang.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa kemampuan bahasa Inggris bukanlah ukuran nilai seseorang. Bahasa Inggris seharusnya menjadi alat untuk berkembang bersama, bukan alat untuk membedakan atau merendahkan sesama manusia.
Penulis : Rakha Zhafran Prasetya
Mahasiswa Program Studi, Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment