Budaya
Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Identitas yang Memudar: Bahasa Tengger di Tengah Perubahan Generasi
APERO FUBLIC I FEATURE.- Bahasa Tengger sebagai bagian dari identitas masyarakat di Poncokusumo dan sekitarnya masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun keberadaannya kini menghadapi tantangan serius. Di tengah arus perubahan generasi, bahasa ini tidak lagi berdiri kokoh seperti sebelumnya.
Terjadi ketimpangan antara pelestarian bahasa dan budaya: di satu sisi, ada wilayah seperti Pandansari yang masih kuat dalam penggunaan bahasa namun mulai kehilangan unsur budayanya, sementara di sisi lain Poncokusumo justru tetap menjaga tradisi tetapi bahasanya perlahan terkikis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bahasa Tengger berada dalam posisi yang rentan, terancam memudar di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan tidak terelakkan.
Menurut kami, kondisi bahasa Tengger saat ini sebenarnya masih memiliki kekuatan yang bisa menjadi modal pelestarian. Bahasa ini masih digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh masyarakat, bahkan memiliki kekayaan dialek yang beragam antar desa.
Perbedaan kosakata seperti “tutus” dan “branding” untuk “tali”, atau “katisen” dan “nyindil” untuk “kedinginan”, justru menunjukkan bahwa bahasa Tengger hidup dan berkembang dalam konteks lokalnya.
Selain itu, keberadaan wilayah seperti Blok Senin dan Blok Sabtu yang masih konsisten menggunakan bahasa Tengger menjadi bukti bahwa masih ada komunitas yang menjaga eksistensinya.
Dalam pandangan kami, kondisi ini seharusnya menjadi titik awal optimisme bahwa bahasa Tengger belum sepenuhnya kehilangan ruang hidupnya, melainkan hanya membutuhkan penguatan dan perhatian yang lebih serius.
Namun demikian, menurut kami ancaman terbesar justru datang dari perubahan sikap dan pola hidup masyarakat, terutama generasi muda. Penggunaan bahasa Tengger yang tidak merata di seluruh wilayah desa menunjukkan adanya penyempitan ruang penggunaan.
Bahkan dalam tradisi adat seperti ngujub, penggunaan bahasa Tengger mulai tergantikan oleh bahasa Jawa halus, yang seharusnya tidak terjadi jika bahasa ini masih memiliki posisi kuat dalam kehidupan budaya.
Kami juga melihat adanya masalah serius dalam keluarga, di mana orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa Tengger kepada anak-anaknya sejak dini.
Anak-anak justru lebih dahulu dikenalkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa lain yang dianggap lebih modern dan bergengsi. Akibatnya, banyak generasi muda yang tidak mampu menggunakan bahasa daerah dan bahkan merasa malu atau gengsi saat menggunakannya.
Dalam pandangan kami, kondisi ini merupakan bentuk pengikisan yang perlahan namun berbahaya, karena terjadi tanpa disadari hingga akhirnya bahasa tersebut benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat.
Selain itu, menurut kami belum optimalnya integrasi bahasa Tengger dalam sistem pendidikan juga menjadi faktor yang mempercepat proses pengikisan.
Bahasa Tengger belum banyak dijadikan sebagai bagian dari muatan lokal yang diajarkan secara sistematis di sekolah. Padahal, sekolah memiliki peran strategis sebagai agen pelestarian budaya yang mampu menjangkau generasi muda secara luas.
Apabila bahasa Tengger dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran, baik melalui muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, maupun program budaya sekolah, maka peluang untuk mempertahankan eksistensinya akan semakin besar.
Di sisi lain, perbedaan dialek antar desa seharusnya tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kekayaan budaya yang memperkuat identitas bersama. Keanekaragaman kosakata dan pelafalan mencerminkan kekayaan linguistik yang unik dan menjadi ciri khas masing-masing wilayah.
Jika dikelola dengan baik, perbedaan ini dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus dokumentasi budaya yang bernilai bagi generasi muda. Dengan demikian, bahasa Tengger tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari budaya yang dinamis.
Melihat kondisi tersebut, diperlukan upaya nyata untuk menjaga keberlangsungan bahasa Tengger tanpa mengabaikan dinamika perubahan zaman. Salah satu langkah penting adalah menguatkan peran keluarga sebagai ruang pertama pembelajaran bahasa.
Orang tua perlu membiasakan penggunaan bahasa Tengger dalam komunikasi sehari-hari agar anak-anak tumbuh dengan kedekatan terhadap bahasa tersebut sejak dini.
Selain itu, perlu adanya normalisasi penggunaan bahasa Tengger di ruang publik dan komunitas, sehingga generasi muda tidak lagi merasa malu atau gengsi saat menggunakannya.
Kegiatan budaya dan adat juga perlu kembali menempatkan bahasa Tengger sebagai bahasa utama, bukan sekadar pelengkap. Di sisi lain, perbedaan dialek antar desa seharusnya tidak dipandang sebagai penghalang, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat identitas bersama dalam satu rumpun budaya Tengger.
Pada akhirnya, bahasa Tengger bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol jati diri masyarakatnya. Jika bahasa ini terus terkikis, maka yang hilang bukan sekadar kata-kata, melainkan cara berpikir, nilai-nilai, serta warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Oleh karena itu, menjaga bahasa Tengger berarti menjaga identitas itu sendiri. Tanpa kesadaran dan upaya bersama dari keluarga, masyarakat, dan generasi muda, bukan tidak mungkin bahasa ini hanya akan tinggal sebagai cerita di masa lalu.
Sudah saatnya bahasa Tengger tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dibanggakan sebagai bagian penting dari keberagaman budaya Indonesia.
PENULIS : Lucky Dwi Ardiyanti
Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Sosial, Prodi Hukum dan Kewarganegaraan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Budaya

Post a Comment