Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Menjadi Kartini Modern di Tengah Derasnya Arus Digitalisasi
APERO FUBLIC I OPINI.- Habis gelap terbitlah terang. Kalimat legendaris dari Raden Ajeng Kartini ini kini menemukan konteks barunya di abad ke-21. Jika dulu Kartini berjuang melalui pena dan surat - surat untuk menembus dinding pingitan, maka hari ini, "Kartini Modern" menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks: Arus Digitalisasi.
Bagi perempuan masa kini, khususnya para mahasiswi, perjuangan bukan lagi sekadar
menuntut hak pendidikan, melainkan bagaimana menggunakan pendidikan tersebut untuk tetap berdaya di tengah gempuran teknologi dan informasi yang tak terbendung.
Literasi Digital sebagai Senjata Utama
Di era digital, kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Kartini modern harus memiliki literasi
digital yang mumpuni. Sebagai mahasiswa PPKN, saya melihat bahwa ruang digital adalah medan baru untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan etika.
Menjadi Kartini modern berarti mampu memilah informasi, tidak terjebak dalam hoaks, dan menggunakan media sosial sebagai alat advokasi yang positif. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen konten, tetapi harus menjadi produsen gagasan yang mencerahkan.
Kemandirian dan Kolaborasi
Digitalisasi memberikan peluang tanpa batas. Kartini masa kini bisa belajar apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Akses terhadap ilmu pengetahuan kini berada dalam genggaman ponsel kita. Namun, kemudahan ini menuntut kemandirian dan kedisiplinan tinggi.
Modernitas bukan berarti meninggalkan akar budaya. Justru, melalui teknologi, perempuan
Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkenalkan identitas bangsa ke kancah global.
Kartini modern adalah mereka yang mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan
kelembutan budi pekerti dan nilai-nilai luhur Pancasila.
Tantangan Mental di Era Layar
Namun, arus digital juga membawa risiko, seperti tekanan standar kecantikan di media sosial atau perundungan siber (cyberbullying). Di sinilah mentalitas Kartini diuji.
Menjadi Kartini modern berarti memiliki ketangguhan mental untuk tetap percaya diri dan fokus pada pengembangan kualitas diri, bukan sekadar mengejar angka likes atau popularitas semu.
"Perempuan adalah pembawa peradaban. Di tangan perempuanlah karakter sebuah bangsa
dibentuk."
Sebagai mahasiswi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, saya meyakini bahwa semangat Kartini harus terus menyala dalam setiap klik dan ketikan kita di dunia maya. Kita adalah Kartini masa depan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga tetap memegang teguh integritas dan jiwa nasionalisme.
Mari jadikan momentum digitalisasi ini sebagai alat untuk memperluas kebermanfaatan.
Karena sejatinya, perempuan yang berdaya adalah perempuan yang mampu mencerahkan
sekelilingnya, sesederhana lilin yang menerangi kegelapan di era siber.
PENULIS: Shania Nur Saidah
Mahasiswi Prodi PPKN, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment