Kampus
Mahasiswa
Opini
Pariwisata
Pendidikan
Pertanian
Pertanian dan Alam
Dari Lahan Sempit ke Sistem Terpadu: Transformasi Pertanian di Kampung Habitat Bogeman, Kota Magelang
APERO FUBLIC I MAGELANG.— Siapa sangka, kawasan padat penduduk di sudut Kota Magelang ini kini menjelma menjadi kampung produktif berbasis pertanian terpadu. Kampung Habitat RW 8 Bogeman membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk menciptakan kemandirian pangan sekaligus menjaga lingkungan.
Dulu, sekitar tahun 2013, wilayah ini dikenal sebagai permukiman dengan kepadatan tinggi dan kondisi lingkungan yang belum tertata dengan baik. Persoalan sanitasi dan pengelolaan limbah menjadi tantangan utama.
Namun, perubahan mulai terlihat sejak tahun 2017, ketika dilakukan penataan lingkungan, terutama pada sistem sanitasi dan drainase, serta pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal.
Transformasi tersebut semakin nyata pada 2019, saat Kampung Habitat mulai berkembang dan dikenal melalui berbagai kegiatan berbasis lingkungan, bahkan sempat mengikuti lomba kampung sehat. Dari sinilah konsep pertanian terpadu mulai diterapkan secara bertahap oleh masyarakat setempat.
Budidaya tanaman kubis organik di Kampung Habitat Bogeman |
Konsep pertanian terpadu yang dijalankan tidak hanya berfokus pada satu sektor, melainkan menggabungkan beberapa kegiatan sekaligus, seperti pertanian, perikanan, peternakan, hingga pengelolaan sampah.
Warga memanfaatkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk, yang kemudian digunakan kembali untuk menanam berbagai jenis sayuran. Sementara itu, maggot atau larva lalat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, sehingga menciptakan siklus yang saling terhubung dan minim limbah.
Budidaya perikanan di Kampung Habitat Bogeman |
“Semua saling berkaitan, dari sampah jadi pupuk, lalu untuk tanaman, hasilnya bisa dimanfaatkan lagi. Jadi tidak ada yang terbuang,” ujar Cecep, ketua Kampung Habitat saat ditemui.
Hasil dari kegiatan tersebut tidak hanya dinikmati oleh anggota kelompok, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat sekitar. Setiap hari Jumat, warga menggelar program “Jumat Berkah”, di mana hasil panen sayuran dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Selain itu, hasil perikanan juga dijual ke luar wilayah melalui pengepul, sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi warga.
Ketua Kampung Habitat Bogeman (Kiri) dan Rekan-Rekan Mahasiswa (Depan-Kanan) |
Tidak hanya berhenti pada produksi, Kampung Habitat juga mengembangkan kegiatan edukasi. Anak-anak sekolah kerap datang untuk belajar menanam dan mengenal pertanian secara langsung.
Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
Dalam menjalankan kegiatan tersebut, warga tidak bergerak sendiri. Dukungan dari pemerintah, khususnya dinas terkait, turut membantu dalam bentuk bantuan bibit, pupuk, hingga sarana pendukung seperti alat pompa air.
Selain itu, kegiatan penyuluhan rutin juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Meski begitu, perjalanan Kampung Habitat tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Keterbatasan sumber daya manusia dan konsistensi partisipasi warga masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, melalui pertemuan rutin antar kelompok, berbagai persoalan dapat didiskusikan dan dicari solusinya secara bersama.
Kini, Kampung Habitat RW 8 Bogeman tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang belajar dan inspirasi. Dari lahan yang terbatas, warga mampu menciptakan sistem pertanian terpadu yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berdampak pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Kisah ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil—bahkan dari sudut kampung yang sederhana.
Tim Mahasiswa Agribisnis Universitas Tidar |
PENULIS: Tim Kelompok
Eka Setyowati .ND
Fuad Hasan
Chandra Budiman
Slamet Tiksan Ahmad Saidik
Ibnu Nuryadin
Rimba Yudo Prassetyo
Syabrina Eka Nur Oktafiani
Nur Elinawati
Farhan Gigih Saputra
Universitas Tidar Magelang, Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment