Anggaran MBG Dinilai Dipaksakan: Tepat di Tengah Tekanan Ekonomi Global?
Devina
Putri Septiani, Michael Wiranto Tampubolon, Nur Hidayatulloh, Reynaldi Bibisan,
Salsanabilah Rahmawati, Sefina Maharani.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Manajemen S1, Universitas Pamulang
Email: devinaseptiani82@gmail.com
Abstrak
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045. Namun, implementasinya menghadapi tantangan fiskal yang berat di tengah ketidakpastian ekonomi global tahun 2026. Dengan proyeksi kebutuhan dana mencapai Rp210 triliun per tahun, program ini berisiko memperlebar defisit anggaran jika tidak dikelola dengan hati-hati. Artikel ini menganalisis urgensi, tantangan fiskal, dan skenario ekonomi terkait kebijakan MBG.
Keywords: MBG, APBN, Fiskal, Stunting, Ekonomi Global
Abstract
The Free Nutritious Meals (MBG) program is a strategic government measure to improve human resource quality toward the Golden Indonesia 2045. However, its implementation faces significant fiscal challenges amid global economic uncertainty in 2026. With a projected annual funding requirement of IDR 210 trillion, the program risks widening the budget deficit if not managed carefully. This article analyzes the urgency, fiscal challenges, and economic scenarios related to the MBG policy.
Keywords: MBG, APBN, Fiscal,
Stunting, Global Economy
MBG Jalan Terus, Dompet Negara Gimana Nih?
Coba kita cek saldo dulu sebelum gesek kartu. APBN 2026 ini lagi nggak baik-baik aja, bestie. Per Agustus 2025 kemarin, defisit APBN udah tembus 2.9% dari PDB. Utang pemerintah? Udah nyentuh Rp8.400 T. Sementara penerimaan pajak Q1 2026 baru kekumpul Rp490 T, masih jauh dari target Rp2.400 T. Terus MBG butuh berapa? Proyeksi Kemenkeu: Rp210 T per tahun kalau full coverage SD-SMP. Itu setara 8.7% dari total belanja negara. Gede banget. Ibaratnya gini: gaji kamu Rp10 juta, terus tiba-tiba harus keluar Rp870 ribu tiap bulan buat langganan baru. Kalau nggak ada pemasukan tambahan, ya dompet auto tipis. Nah APBN kita lagi di fase itu. Masalahnya: Ruang fiskal kita cuma sisa Rp120 T di 2026. MBG makan sendiri Rp210 T. Artinya harus ngutang lagi atau sunat anggaran lain.
Ekonomi Global Lagi Batuk, Anggaran MBG Malah Ngegas
Sementara
kita ngegas MBG, dunia lagi mode survive. Berikut list batuknya:
Red Flag
Global Dampak ke RI The Fed masih tahan suku bunga 5.5% Dolar mahal, bayar
utang LN makin berat China growth cuma 4.1% Q1 2026 Ekspor batu bara & CPO
kita nyungsep Harga minyak balik ke $95/barel Subsidi
energi bengkak, APBN tertekan IMF pangkas proyeksi ekonomi global jadi 2.8%
Investor cabut, IHSG rawan koreksi Temen-temen negara lain pada ngerem. Brasil
tunda program makan siang gratisnya, India potong subsidi. Kita? Malah launch
program Rp200 T+. Kesannya kayak lagi musim PHK tapi kita malah cicil mobil
baru. Berani, tapi risky.
Plot
Twist: Dana MBG vs Ancaman Resesi
Sekarang kita adu skenario. Kalo resesi beneran kejadian, MBG ini pahlawan atau beban?
Skenario
A: Ekonomi Tumbuh 5%
MBG jalan, daya beli rakyat kebantu, anak sekolah nggak stunting, 2045 panen SDM unggul. Utang kebayar dari pajak masa depan. Happy ending.
Skenario
B: Resesi, Ekonomi Tumbuh 3%
Pajak seret, tapi belanja MBG wajib jalan tiap hari. Defisit bisa jebol ke 3.5%, rating utang RI turun, bunga SBN naik. Ujungnya? APBN 2027 harus motong anggaran lain: bisa dana desa, bisa subsidi pupuk.
LPEM UI udah simulasiin: kalau growth di bawah 4%, MBG bikin defisit naik 0.4%. Kedengeran kecil, tapi itu Rp90 T, bestie. Setara 2x anggaran IKN 2026. Jadi MBG ini kayak judi: kalau ekonomi bagus, cuan. Kalau zonk, bumerangnya kena kita semua.
Spill The Tea: Dari Mana Duit MBG Kalau Pajak Lagi Seret?
|
Sumber dana MBG |
Nominal |
Catatan |
|
Belanja K/L |
Rp 85.000.000.000.000 |
Sunat anggaran
kementerian 5-7%, PU & Kemendikbud kena paling gede |
|
Utang Baru SBN |
Rp 90.000.000.000.000 |
Nambah stok utang,
bunga 6.8% |
|
Saldo Lebih Anggaran
2025 |
Rp 35.000.000.000.000 |
Sisa duit tahun lalu
yang nggak kepake |
Nah yang bikin heboh: Rp85 T realokasi itu ngambil dari dana alokasi khusus fisik. Artinya proyek jalan, irigasi, puskesmas di daerah bisa ketunda. Jadi "gratis" di MBG itu sebenernya nggak gratis. Ada yang dikorbanin. Kayak kamu beli skincare mahal tapi skip bayar listrik.
Realita di Lapangan: MBG Dipaksakan atau Emang Butuh Cepat?
Kita turun ke bawah. Ngobrol sama Bu Sari, kepsek SD di Pamulang: "Anak-anak di sini 40% masih bawa nasi doang ke sekolah, lauknya garam. MBG jelas ngebantu. Tapi..." Tapinya apa? "Infrastruktur dapur belum ada. Air bersih aja susah. Kalau dipaksa sekarang, takutnya cuma jadi proyek bagi-bagi nasi bungkus yang nggak higienis." Data Kemenkes: prevalensi stunting 2024 masih 21.5%. Target 2026 harus 14%. MBG emang salah satu solusi. Tapi ahli gizi bilang: "Percuma makanan gratis kalau nggak ada air bersih & edukasi ke ortu". Jadi butuh: iya. Tapi timing sekarang pas ekonomi lagi susah bikin eksekusinya rawan nggak mateng. Kayak maksa nikah pas masih nganggur. Niatnya baik, tapi modalnya belum siap.Jadi, bisa disimpulkan bahwa program atau tren seperti MBG memang bisa mendorong aktivitas ekonomi, tapi kalau tidak diimbangi dengan kesiapan produksi dan distribusi yang baik, justru bisa menimbulkan masalah baru di pasar.
Kesimpulan
Jadi kesimpulannya, MBG
ini langkah berani yang rawan kalau dieksekusi dengan cara hajar sekarang juga.
Dibilang dipaksakan itu valid kalau pemerintah tetep ngegas Rp210 T tanpa
benerin fondasi fiskal dan infrastruktur dulu. Tapi bilang MBG nggak penting
juga keliru, karena biaya diem aja justru lebih mahal buat masa depan. Jalan
tengahnya jelas: main bertahap. Mulai dari 30% wilayah dengan stunting
tertinggi dulu di 2026 biar anggarannya nggak jebol. Terus wajib transparan,
bikin dashboard publik yang update harian berapa porsi dimasak dan stunting
turun berapa. Libatin juga pemda dan swasta biar nggak semua beban ke APBN. Dan
paling penting, harus ada klausul darurat. Kalau pertumbuhan ekonomi dua
kuartal berturut di bawah 4%, anggaran MBG otomatis direm. Dengan begitu, MBG
bisa jadi prioritas tanpa kesan dipaksakan.
Daftar Pusaka
Dana Moneter Internasional (IMF). (2026). Proyeksi
Ekonomi Global dan Pemangkasan Pertumbuhan Ekonomi. Washington D.C.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Data
Prevalensi Stunting Nasional 2024. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Laporan
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Agustus 2025.
Jakarta: Kemenkeu RI.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Proyeksi
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Belanja K/L. Jakarta:
Kemenkeu RI.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia. (2026). Simulasi Dampak Fiskal Program Makan Bergizi Gratis terhadap Defisit Anggaran dan Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta: LPEM UI.
Editor. Tim Redaksi

Post a Comment