8/06/2021

Tokoh Bangsa: Wage Rudolf Supratman

APERO FUBLIC.- Wage Rudolf Supratman lahir pada tanggal 9 Maret 1903, anak ke tujuh. Lahir di sebuah desa Pulau Jawa. Saat lahir beliau dinamakan oleh ibunya dengan, Wage. Wage diambil dari hari kelahirannya sekaligus mengingat kelahiran beliau. Ayah Wage adalah seorang sersan Pasukan KNIL (Koninklidjk Nederlands Indisch Leger), bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo. Sang ayah kemudian menambahkan namanya dengan Supratman, menjadi Wage Supratman.

Ayah beliau kemudian membuatkan akta kelahiran untuk beliau (geboorte acte), dan tertulis kalau dia lahir ditangsi Meester Cornelis (Jatinegara). Menginjak usia sekolah, Wage Supratman ikut dengan keluarga kakak sulungnya, Nyonya Rukiyem Supratiyah van Eldik di Makasar. Dari sinilah dia mendapat nama tambahan lagi dari kakak iparnya, yaitu Rudolf. Dengan tambahan itu, lengkaplah nama beliau sebagaimana kita kenal sekarang, Wage Rudolf Supratman.

Tambahan nama Belanda bukan tanpa alasan, dengan demikian Wage dapat masuk sekolah anak-anak Eropa, Europese Legere School (ELS). Kedudukannya disamakan dengan orang Belanda asli (gelijkgesteld). Wage Kecil berangkat dari Batavia ke Makasar pada umur 11 tahun, 1914. Dalam pelayarannya dia menumpang kapal laut legendaris Van der Wijk.Kapal laut ini mengingatkan kita pada novel karya Buya Hamka atau film berjudul, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk.

Wage kecil menyukai musik, dan sangat terkesan dengan permainan biolah kakak iparnya, van Eldik. Van Eldik juga seorang sersan KNIL. Dalam perjalanan itu, dia menyatakan kalau dia menyukai musik, terutama permainan biola. Setelah tinggal di Makasar dia kemudian menjadi anggota grup band pimpinan van Eldik bernama, Black White Jazz BandBlack dan White menggambarkan kalau pemain musik terdiri dari orang pribumi yang kulit berwarna dan orang kulit putih (Eropa).

Nama Wage menjadi tenar juga, dan para gadis menyebutnya dengan Meneer Supratman. Karena waktu itu dia menjadi guru bantu setelah tamat dari sekolah Normaal School di Makasar.

Wage Rudolf Supratman awal karirnya sebagai seorang guru. Kemudian ditugaskan di pedalaman Sulawesi (Singkang). Kakaknya khawatir dengan keselamatan dirinya, sehingga dia diminta untuk berhenti dari Pegawai Pemerintah (PNS). Kemudian dia mencurahkan perhatiannya pada seni musik. Dia mengenal dan mempelajari lagu kebangsaan Perancis, La Marseilles karya Rouget de L’ise. Dari sini dia terinspirasi dan bercita-cita suatu saat nanti dapat menciptakan lagu kebangsaan sendiri (Indonesia).

Wage sempat menjadi juru tulis di kantor dagang Firma Nedem, lalu pindah kerja ke kantor pengacara Schulten. Pada awalnya kehidupan Wage dihabiskan bergembira ria, namun sejak tahun 1924 hatinya berubah. Dia berpikir kalau kehidupannya selama ini tidak memiliki arti yang baik. Perhatiannya mulai beralih pada bidang politik dan pergerakan pemuda Indonesia.

Mulai dia membaca koran-koran terutama koran, Sin Po. Mengikuti cerama, mengikuti pemberitaan dari koran Pemberitaan Makasar. Dari kegiatannya itu, Wage masuk daftar orang yang diawasi oleh pemerintah Kolonial Belanda melalui Dinas Intelijen Belanda atau PID (Politieke Intilichtingen Dienst). Karena menjaga nama baik keluarga kakaknya, dia mengurangi kegiatannya.

Keinginan Wage Rudolf Supratman untuk membuat lagu kebangsaan terus menggebu di dalam jiwanya. Dia mengurung diri di dalam kamar, namun tidak menemukan inspirasi untuk menciptakan lagu-lagu kebangsaan. Oleh karena itulah, dia berpikir kalau harus terjun langsung ke lapangan dan ikut dalam pergerakan kemerdekaan bersama-sama pemuda dan masyarakat luas. Di Pulau Jawa adalah tempat pergerakan pemuda di seluruh Hindia Belanda berkumpul. Timbulah keinginannya untuk pergi ke Pulau Jawa. Kepergiannya diiringi rasa haru keluarga kakaknya, dan biola pemberian kakak iparnya, van Eldik dia bawak juga.

Kaum pergerakan diawasi dengan Undang-Undang Pemerintah (Regering Reglementen), yang mengancam kaum pergerakan kemerdekaan. Wage tiba di Jawa Timur, Kota Surabaya. Di sini yang pertama dia bergaul dengan Kelompok Studi Indonesia (KBI). Mulailah dia menyelami jiwa kebangsaan Indonesia. Akhir tahun 1924 dia meninggalkan Surabaya, menuju Cimahi di Warung Contong- tempat kediaman orang tuanya.

Sebua harian, Kaoem Moeda yang sangat terkenal waktu itu, di Bandung. Koran ini terkenal karena kritikan yang tajam pada Pemerintahan Kolonial Belanda. Wage mendaftar menjadi salah satu wartawan disana. Suasana Bandung penuh hiruk pikuk gerakan pemuda, dimana Soekarno mendirikan Kelompok Studi Umum. Organisasi Budi Utomo juga bergejolak, dimana pada April 1925 menyelenggarakan kongres mendesak Belanda terhadap kesewenangan pada kaum buruh (poenale sanctie).

Gaji menjadi wartawan tidak sebesar gajinya di Makasar. Namun karena jiwa perjuangannya dan idealismenya tidak dia pikirkan. Untuk menambah penghasilan, dengan bermain musik di Gedung Societeit Bandung. Siang sebagai wartawan, malam sebagai pemain musik. Membuat dia bekerja terlalu keras dan atas nasihat dokter untuk mengurangi kegiatannya. Untuk itu, dia meminta berhenti sementara dari reporter Harian Kaoem Moeda.

Kebetulan Perada Harapan sedang mencari orang untuk menyelenggarakan biro pers Alpena (Algemene Pers Niews Agency) di Batavia (Jakarta). Wage menerima tawaran sebagai desk editor dan wartawan. Wage menerima tawaran itu, dan pergi ke Batavia. Biro pers Alpena adalah perusahaan kecil, hanya dikerjakan tiga orang, Perada Harapan sebagai direktur. Kadar sebagai Tata Usaha dan sekretaris, dan Wage sebagai asisten Perada Harapan.

Karena itu, kehidupan Wage menjadi sangat sederhana. Dia hanya memiliki sepasang sepatu putih, sepasang jas putih, pakaian bekerja, selembar kain sarung, sebuah peci, dan tas kulit. Kalau sepasang sepatunya yang dicat dengan kapur siri tidak kering karena hari mendung. Wage tidak dapat pergi ke kantor. Karena itulah, sempat terlintas dia ingin kembali ke Makasar, atau menjadi pemain musik lagi.

Dalam keadaan kesulitan, walau sekedar mencari makan. Wage melihat iklan dari koran Sin Po yang sedang mencari wartawan, terutama orang Melayu. Wage mendaftar, bersama sepuluh orang lainnya dia mengikuti tes. Wage lulus dan diterima sebagai wartawan. Koran Sin Po waktu itu sedang tenar. Didirikan oleh sejumlah pengusaha nasionalis, dipimpin oleh Kwik Kek Beng.

Menjadi wartawan di Sin Po cukup menyenangkan, dari sini juga dia dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan. Diantaranya M. Tabrani, Soegondo Djojopoespito, dan Soemarsono. Dari merekalah Wage mendapat informasi tentang sekelompok pemuda yang akan menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia.

Nama Wage Rudolf Supratman mulai dikenal luas sebagai wartawan mulai dikenal luas, saat dia meliput kegiatan Kongres Pemuda Indonesia I pada 30 April sampai 2 Mei 1926. Kemudian Kongres Pemuda Indonesia II pada 27 sampai 28 Oktober 1928. Dari sana namanya muncul dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia. Berita dimuat secara besar-besaran pada koran dimana dia bekerja, Koran Tionghoa, Sin Po. Selain koran Sin Po, berita KPI (I-II), juga dimuat oleh Pers Melayu.

Dari pergaulan dan sentuhan dengan kaum pergerakan, membuat hasrat menciptakan lagu-lagu perjuangan menggelora. Lagu pertama yang diciptakan berjudul, Dari Barat Sampai ke Timur. Lagu ini kemudian sangat populer di kalangan pemuda-pemuda di Batavia. Tertarik dengan pidato M. Tabrani, dia menemuinya secara pribadi dan berkata. “Mas Tabrani, saya terharu pada pidato yang diucapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia Pertama, terutama pidato Mas Tabrani dan pidato Sumarto. Cita-cita satu Nusa, satu Bangsa, yang digelari Indonesia Raya itu saya akan buat. Dan namanya, Indonesia Raya (M. Tabrani, 1975).”

Kegiatan kaum muda terus diikuti Wage, tiga kali seminggu dia datang ke gedung Indonesisch Clubgebow (Gedung Pemuda). Pemuda tahu kalau Wage mempunyai konsep lagu kebangsaan dan akan mengakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Pada bulan Desember 1926 terjadi huru hara pemberontakan Komunis, dan Pemerintah Kolonial memperketat keamanan. Gedung Pemuda, Jalan Keramat Raya 106 kemudian diawasi oleh intelijen (PID).

Memasuki tahun 1927 kegiatan para pemuda kembali ramai. Wage sebagai wartawan mendapat informasi rencana pendirian Organisasi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Berdiri pada  4 Juli 1927, Ketua Soekarno dan sekretaris Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo. Desember 1927 Wage mengikuti apel PNI, dan terkesan dengan pidato Soekarno. Pada Mei 1928 Organisasi PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia.

Dalam pada itu, Wage juga ikut menyebarkan paham kemerdekaan dan kebangsaan Indonesia. Dia menjadi agen dari media pers lainnya, seperti Persatuan Indonesia, Timboel, Soeloeh Indonesia Moeda, Soeloeh Rakyat Indonesia, Indonesia Raya. Bersamaan dengan itu, Wage menciptakan lagu bertema patriotisme berjudul Indonesia Hai Ibuku. Pada tanggal 13 Septemeber 1928 setelah meliput kelahiran Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Terciptlah lagu, Bendera Kita.

Wage ingin lagu kebangsaannya dinyanyikan dalam kongres pemuda, sehingga dia memberikan salinan lagu pada para pemuda. Penutupan Kongres Pemuda Indonesia II tanggal 28 Oktober 1928. Pada malam penutupan Wage berangkat lebih awal, memakai jas putih-putih, berkopiah, sepatu putih mengkilap, membawa biolahnya dan segerah bergeromol dengan wartawan-wartawan Melayu. Soegondo menjanjikan bahwa Wage boleh memainkan lagunya saat istirahat.

Namun, karena khawatir akan terjadinya penutupan acara oleh Pihak Kolonial Belanda karena menyanyikan lagu kebangsaan. Padahal kongres hanya tinggal mengumumkan hasil keputusannya saja. Maka Soegondo meminta lagi dinyanyikan hanya instrumennya saja. Suatu ketika, Wage memberikan salinan lagu, Indonesia Raya pada Soekarno. Sehingga, pada Kongres PNI tanggal 18-20 Desember 1929 lagu kebangsaan Indonesia kembali berkumandang. Dalam kongres itu, menetapkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Pada awalnya Pemerintah Kolonial Belanda tidak melarang lagu Indonesia Raya. Banyak dinyanyikan oleh pemuda dan anak-anak secara luas. Sehingga Belanda menjadi hawatir dan melarang menyanyikan lagu Indonesia Raya pada tahun 1930. Wage kemudian ditangkap lalu di introgasi. Saat diintrogasi dia ditanyai, mengapa dinamakan lagu kebangsaan, mengapa ada kata merdeka-merdeka, dan apa maksud menciptakan lagu Indonesia Raya.

Wage menjawab, tujuannya adalah menciptakan lagu-lagu perjuangan. Untuk kata “merdeka-merdeka” bukan dari dia. Tapi dari anak-anak muda, aslinya katanya adalah “muliah-muliah. Mengapa disebut lagu kebangsaan dengan tepat Wage menjawab kalau itu keputusan dari Kongres PNI II tanggal 20 Desember 1929. Dia pun akhirnya dibebaskan.

Pelarangan menyanyikan lagu Indonesia Raya mendapat protes dari Volksraad. Sehingga akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda kembali mengizinkan tetapi di dalam ruangan yang tertutup. Saat Jepang masuk bulan Maret 1942 diawal penjajahan terhadap Indonesia. Lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Dalam perjalanannya kemudian lagu Indonesia Raya kembali dilarang dinyanyikan. Kemudian Jepang terdesak oleh kekuatan sekutu, dan Jepang berbalik menjanjikan kemerdekaan.

Kemudian terbentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tugas pertama adalah membentuk Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia. Sehingga ada sedikit perubahan musikal dan kata-kata dalam lagu Indonesia Raya. Pada tanggal 16 November 1948 dibentuklah Panitia Indonesia Raya. Sebagai hasilnya, pada tanggal 26 Juni 1958 dikeluarkan Peraturan Pemerintah RI Tentang Lagu Kebangsaan, Indonesia Raya. Peraturan terdiri dari 6 Bab, mengatur tata tertib dan penggunaan Lagu Indonesia Raya. Dilengkapi pasal-pasal penjelasnya, dengan demikian tercapailah keseragaman dalam nada, irama, iringan, dan gubahan lagu.

Namun sayang, jauh sebelum masuk kedalam masa kemerdekaan Indonesia. Wage mulai sering sakit-sakitan, dan dokter memaksa dia berhenti bekerja dari koran Sin Po pada November 1933. Wage sempat menulis romas sosial, berjudul Perawan Desa. Tetapi saat akan Wage cetak salinannya dirampas oleh Pihak Kolonial Belanda. Dia kecewa dan sangat marah. Wage menikah degan seorang wanita bernama Salamah. Sebagai janda pahlawan dia menerima tunjangan 95.000 rupiah (nilai rupiah zaman dahulu) per bulan  bantuan presiden dan Departemen Sosial.

Lagu ciptaan beliau cukup banyak, diantaranya Indonesia Raya yang kita kenal sebagai lagu kebangsaan kita sekarang. Kemudian lagu berjudul Dari Barat Sampai ke TimurBendera KitaIbu Kita KartiniIndonesia Hai IbukuBangunlah Hai KawanMars KBIMars ParindraSuryo Wirawan, dan Matahari Terbit.

Pada 17 Agustus 1938 dia wafat, dan dimakamkan di Pemakaman Kanjeran, Surabaya. Untuk menghormati jasa-jasa beliau, masyarakat Indonesia melalui Pemerintahan Repulik Indonesia menganugerahin sebagai Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Utama Kelas II berdasarkan SK Presiden Repulik Indonesia No. 016/TK/1971. Kemudian selanjutnya pada tanggal 19 Juni 1974  Pemerintah zaman Orde Baru memberikan Piagam Penghargaan. Delapan belas tahun kemudian (31 Maret 1956) setelah wafatnya, makam Pahlawan Nasional Wage Rudolf Supratman dipindahkan ke pemakaman baru di Tambak Segaran Wetan dengan Upacara Kenegaraan.

Naskah Lagu Indonesia Raya 1928

Indonesia, tanah airku.
Tanah tumpah darahku.
Di sanalah aku berdiri.
Menjaga, pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku.
Kebangsaan tanah airku.
Marilah kita berseru.
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku.
Hiduplah negeriku.
Bangsaku, jiwaku semua.
Bangunlah rakyatnya.
Bangunlah bangsanya.
Untuk Indonesia Raya. (Wage Rudolf Supratman).

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 5 April 2021.
Sumber: Yanto Bashri dan Retno Suffatni (ed). Sejarah Tokoh Bangsa. Dalam: ST. Sularto. Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Tokoh Bangsa, 2011. Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/620652392373837850/.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment