7/18/2019

Neofeodalisme

Apero Fublic.- Feodalisme tidak lahir dari monarki atau absolutisme. Tetapi feodalisme lahir dari jiwa yang kerdil dan sombong. Banyak juga raja atau bangsawan yang baik, dan menghormati hak-hak manusia lainnya.

Pada zaman moderen feodalisme justru terbalik, yaitu hadir dari orang-orang berilmu dan orang terdidik. Kalau paham feodalisme lahir dari jiwa kerdil dan sombong, bodoh. Neofeodalisme lahir dari jiwa yang sombong dan bodoh. Orang berilmu bukan dilihat dari gelarnya, tapi dari ilmu yang dia pahami.


Neofeodalisme berasal dari kata feodalisme. Feodalisme adalah paham atau pola pikir orang yang membanggakan diri bukan sebab prestasi atau hasil kerja yang baik. Tapi orang-orang yang merasa lebih baik, merasa hebat, merasa berhasil dengan memiliki simbol-simbol. Seperti banyak uang, kedudukan, pangkat, gelar, kendaraan, dan sebagainya. Neo berarti baru atau diperbaharui.

Sedangkan feodalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga arti umum. Pertama, sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan. Kedua, sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat dan bukan mengagung-agungkan prestasi. Ketiga, sistem sosial di Eropa pada Abad Pertengahan yang ditandai oleh kekuasaan yang besar ditangan tuan tanah (Bangsawan).


Dari ketiga pengertian itu dapat menarik poin, pertama adanya sifat merasa lebih tinggi, mulia, dari manusia lain, atau golongan tertentu. Seperti yang dianut oleh kaum bangsawan, raja, dan tuan tanah. Kedua adalah merasa banggga dengan kedudukan, jabatan, posisi, pengaruh, sehingga dia berbuat sesuka hatinya pada manusia lain.

Dia memanfaatkan kedudukannya untuk berkuasa atas orang lain atau manusia dalam lingkungannya. Ketiga, ditandai oleh kekayaan atau kekuatan yang memonopoli kehidupan manusia yang bekerja di wilayah tanah mereka. Disinilah masyarakat, para budak-budak diperah bagai binatang oleh para tuan tanah.

Ketiga pemahaman tersebut menunjukkan keegoisan dan keangkuhan mereka sebagai manusia yang merasa lebih mulia dari manusia lainnya. Mereka tidak pernah salah. Bukan sebab kebijaksanaan tapi sebab posisi atau keadaan yang di atas orang biasa.


Zaman sekarang sifat neofeodalisme muncul dalam bentuk baru, walau cakupannya lebih kecil. Konfrontasi mereka berupa individu-individu yang dia anggap lemah dan bodoh. Sifat atau paham neofeodalisme ini hadir dalam jiwa-jiwa kerdil di negara ini.

Yaitu, mereka orang-orang yang memanfaatkan kedudukan, jabatan, kekuatan, kekayaan, gelar, posisi, akademisi, untuk mematahkan atau menguasai seseorang dengan landasan keangkuhan disalurkan melalui emosional mereka. Mereka merasa terhormat dengan kepandaian dan kedudukan mereka, walaupun perbuatan mereka tidak profesional.


Bentuk neofeodalisme ini hadir dikalangan orang-orang yang cukup berpengaruh. Mereka mencari keuntungan, mencari muka, mencari materi, membodohi masyarakat, memeras, tetapi mereka bertopeng kehormatan. Bisa jadi mereka sebagai guru, dosen, polisi, tentara, pejabat, Pegawai Negeri Sipil, orang kaya, atau orang berpengaruh lainnya.

Satu hal yang paling buruk dari sifat neofeodalisme, mereka orang-orang ini tidak mau salah, padahal mereka salah, mereka malu mengakui kesalahan tersebut. Kemudian untuk menunjukan eksistensi mereka, diperbuatlah reaksi yang keras seakan-akan dia jago perang, padahal sesunggunya itu hal yang sepele.


Neofeodalisme adalah faham atau sifat seseorang yang merasa dirinya lebih baik atau lebih mulia dari seseorang, sehingga dia memanfaatkan kedudukan, jabatan, pengaruh, umur, kekayaan, gelar, kekuatan, untuk menekan kekuatan yang menentangnya, sekaligus untuk berbuat tidak adil, berat sebelah yang disebabkan emosinya, marahnya, dendamnya, demi menyelamatkan harga dirinya.

Dengan menjadi angkuh, dengan mengandalkan hal-hal yang dia miliki tersebut. Kau belum tahu siapa aku !!!kau kecil !!! kau bisa apa!!! Begitulah kiranya makian di dalam hati kecilnya. Lalu dia bertindak sesukanya dan meminta dihormati dan dihargai.

Sehingga dia bengis dengan manusia yang yang dalam lingkungannya (kelas, ruang, bawahan, tempat, aparat, atau pejabat, dan lainnya). Bagaimana kalau satu individu yang bersifat neofeodalisme memiliki semuanya, dari jabatan, kedudukan, kekayaan, berumur tua, banyak gelarnya, ada pengaruh dan kekuatan, maka alangkah semena-menanya orang itu.

Karena dengan memiliki satu saja, misalnya gelar dia sudah berbuat demikian banyak, dan besar sekali kehancuran moral yang dia perbuat, apalagi kalau memiliki semuanya dalam hal keduniaan. Penyakit neofeodalisme ini tidak terlihat, tetapi bersarang di dalam hati, di dalam dada, di dalam pemikiran mereka-mereka.

Orang-orang ini juga sangat marah kalau tidak di jilat, kalau kita tidak mengalah, kalau kita tidak mengakui kehebatannya. Dia ingin diatas kita, sebab dia merasa kita kecil, sehingga dia tidak mau kalah. Mereka tidak sombong, sebab orang sombong hanya haus pujian.

Tetapi orang terjangkit faham neofeodalisme selain mintak disanjung dan diangkat, dia juga ingin menekan. Neofeodalisme itu lebih buruk dari sifat sombong biasa. Orang sombong tidak mengambil hak orang lain, hanya lupa diri. Tetapi neofeodalisme mengambil hak orang lain dan juga lupa diri. Ada dua jenis neofeodalisme.


1. Neofeodalisme Pertentangan.
Neofeodalisme pertentangan adalah bentuk neofeodalisme yang menekan dan mematikan kekuatan penentang untuk menyelamatkan harga dirinya dengan memanfaatkan kedudukan, jabatan, umur, kekayaan, gelar, kekuatan yang dilandasi emosi sebagai orang terhormat atau dia merasa dirinya lebih hebat dari penentang. Neofeodalisme kebawa dia mentang-mentang keatas dia menjilat.


2. Neofeodalisme Kompromi.
Neofeodalisme kompromi adalah bentuk neofeodalisme yang menggunakan pengaruh, kekuatan jabatan, umur, kekayaan, gelar, kekuatan yang berdasarkan kompromi dengan seseorang.

Neofeodalisme kompromi biasanya kedua belah pihak bekerja sama dalam hal buruk. Seumpama seorang bawahan meminta naik jabatan dia berbuat menurut pada atasannya. Kemudian atasannya juga membalas dengan kebutuhan bawahan. Tapi atasan juga ingin nama baik, keuntungan dan kepentingannya juga aman (neofeodalisme kompromi).

Neofeodalime kompromi juga dapat diistilahkan dengan sekelompok orang yang menjilat seseorang. Mereka bersama-sama menyanjung satu orang berpengaruh untuk kebaikan dan keamanan mereka. Sehingga kelompok ini kehidupan mereka penuh sandiwara, jilat menjilat.

Orang-orang yang terkena penyakit neofeodalisme ini, pada umunya menganut kedua aliran feodalisme tersebut. Orang yang tidak dia sukai akan dia perlakukan dengan kasar dan menunjukkan kekuatannya. Dia persulit atau disingkirkan sebab orang itu tidak sependapat dengannya.

Kemudian dia akan berkompromi, merasa dekat, merasa bersahabat, dengan orang-orang yang sepaham dengan dia. Walaupun dia tahu kalau perbuatan dia salah. Kemudian dengan orang-orang itu ia berbuat sesuatu yang salah juga. Orang-orang yang berkompromi dengannya akan aman, sebab mereka selalu menjilat dan disenangi si neofeodalisme.


Tetapi ada juga orang-orang yang hanya menganut salah satu dari aliran neofeodalisme tersebut. Ada yang merasa angkuh dan tidak mau ditentang, dilawan, atau dikritik saja, tetapi dia tidak berkompromi dan tidak suka dijilat. Dia ingin diakui bahwa dia lebih hebat.

Sedangkan penganut neofeodalisme kompromi dia tidak menunjukkan pertentangan dengan pertentangan, tetapi dia menggunakan kompromi, dia mengalah, dia menjilat lalu dia memuluskan kepentingannya. Dia aman, semua aman, dan hanya moral bangsa saja yang rusak. Sehingga wajah munafiq dengan seribu wujud dia pakai.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 16 Desember 2018.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment