7/17/2019

e-Biografi Sastrawan Indonesia. Rendra


Apero Fublic.- Rendra lahir pada 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah, bernama Willibrodus Surendra Broto. Kemudian beliau mengganti namanya setelah masuk Islam, menjadi seorang mualaf. Namanya kemudian diganti menjadi Wahyu Sulaiman Rendra, yang kemudian dikenal dengan nama pena, Rendra.

Rendra bukan hanya seorang penyair, tetapi beliau juga seorang penulis cerpen. Di antara antologi sajak-sajak yang ditulis Rendra, seperti Ballada Orang-Orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues Untuk Bonie (1971), Orang-Orang Dari Rangkasbitung (1992). Sedangkan untuk antologi cerita pendeknya di muat dalam antologi, Ia Sudah Bertualang (1993).

Beliau pernah mendapat hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Dia di nobatkan sebagai seorang penyair terbaik Indonesia tahun 1955-1956. Selain dunia tulis menulis, beliau juga menekuni dunia drama.

Di antara gubahan dramanya, seperti Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954), yang kemudian meraih hadiah utama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Karya selanjutnya bertema, Penembahan Reso pada tahun 1988. Ada beberapa buku panduan bermain drama yang ditulis oleh beliau, yaitu yang berjudul Tentang Bermain Drama (1976).

Beliau juga memenangkan Hadiah Utama untuk karya non-fiksi dari Yayasan Buku Utama, Lalu Seni Drama Untuk Remaja (1993). Untuk buku-buku drama yang diterjemahkan beliau seperti, berupa Trilogi karya Sophocles, Oidipus sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), dan Antigone (1976).

Karena kreativitas dan aktivitasnya dalam bidang seni drama dan teater beliau akhirnya juga memperoleh Hadia Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), dan juga hadiah Akademi Jakarta (1975). Buku antologi puisi berjudul Sajak-Sajak Sepatu Tua dan Masmur Mawar, merupakan hasil kepenyairan  Rendra diperiode yang subur dan mengagumkan.

Oleh karena itu, beliau dijuluki dengan si Burung Merak. Buku antologi Sajak-Sajak Sepatu Tua di terbitkan di Jakarta, pada tahun 1995 oleh penerbit Pustaka Jaya. Syair Rendra memiliki corak tersendiri, yang berbeda dengan syair-syair karya penyair lain. Syair Rendra kebanyakan lebih panjang dengan perumpamaan yang tinggi, sehingga sulit untuk diresapi oleh orang-orang awam sastra. Berikut cuplikan sajak-sajak karya Rendra dalam antologi puisi Sajak-Sajak Sepatu Tua.

LAUTAN

Daratan adalah rumah kita
Dan lautan adalah kebebasan
Langit telah bersatu dengan samodra
Dalam jiwa dan dalam warna.

Ke segenap arah
Berlaksa-laksa hasta
Di atas dan dibawah

Membentang warna biru muda
Tanpa angin
Mentari terpancang
Bagai kancing dari tembaga.

Tiga buah awan yang kecil dan jauh.
Berlayar di langit dan di air
Bersama dua kapal layar
Bagai sepasang burung camar
Dari arah yang berbeda
Sedang lautan memandang saja
Lautan memandang saja
di hadapan wajah lautan
Nampak diriku yang pendusta.

Di sini semua harus telanjang.Bagai ikan di lautan. Dan burung di udara.Tak usah bersuara!.Janganlah bersuara!.Suara dan kata terasa dena.

Daratan adalah rumah kita.
Dan lautan adalah rahasia.

Oleh: Rendra.

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

Tuhanku
Wajah-Mu membayang di Kota Terbakar
Dan firman-Mu
terguris di atas ribuan
Kuburan yang dangkal.

Anak menangis kehilangan bapa.
Tanah sepih kehilangan lelakinya.
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini.
Tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia.

Apabilah malam turun nanti
Sempurnalah sudah warna dosa
Dan mesiu kembali lagi bicara.
Waktu itu, Tuhanku,
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku memasukkan sangkurku.

Malam dan wajahku
Adalah satu warna.
Dosa dan napasku
Adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan
Kecuali menyadari
Biarpun bersama penyesalan.

Apa yang bisa diucapkan.
Oleh bibirku yang terjajah?
Sementara kulihat kedua tangan-Mu yang capai.
Mendekap bumi yang menghianati-Mu.
Tuhanku.
Erat-erat ku genggam senapanku.
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku.

Oleh: Rendra.

TOBAT

Aku tobat, ya tuhankuklklln.
Tobat atas segala dosaku.
Kacang-kacang berkembang
Daun kobis segar di ladang
Jantung-Mu adalah biji kentang
Digigit oleh tanah
Subur dan menderita
Digigit oleh tanah.

Aku tobat, Ya tuhanku
Tobat atas segala dosaku.
Burung-burung kecil di belukar
Batang pinang menggeliat.
Mulut-Mu daisi di hutan
Sederhana dan manis sekali.
Mulut-Mu daisi di hutan
Diinjak kaki petani.
Aku tobat, Ya tuhanku
Telah kuinjak mulut-Mu
Dan juga jantung-Mu.

Oleh: Rendra.

Demikian e-Biografi singkat dari tokoh sastrawan Indonesia pada angkatan 50-an. Semoga menjadi info yang bermanfaat bagi anda yang mencintai sastra Indonesia. Menjadi bahan masukan untuk pemerhati dan peneliti sastra Indonesia moderen.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 2018.
Sumber dan Hak Cipta: Rendra. Sajak-Sajak Sepatu Tua. Jakarta. Pustaka Jaya, 1995.
Sumber foto: Pustaka Jaya.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment