6/30/2019

Situasi Internasional Pada Masa Permulaan Islam


Bagaimana situasi internasional saat permulaan kebangakitan Islam? situasi itu juga memiliki pengaruh yang menunjang keberhasilan dakwa Islam. Saat Rasulullah bersedih dengan kekalahan Rum (Bizantium), dari Persia. Untuk menghibur dan menenangkan hati kaum muslimin Allah SWT mengabarkan dalam Surat Ar-Rum, di mana bangsa Rum lemah, yang akan kuat beberapa waktu kemudian.

Al-quran diwahyukan pada awal abad ketujuh Masehi di Kota Mekah dan Madinah di bagian barat-tengah Arabia. Pada masa itu juga, para misionaris dari Columba membawa agama Kristen ke Skotlandia dan Inggris bagian Utara, sementara Agustin dari Canterbury menyebarkannya ke arah utara, dan di barat Kent. Di Prancis, Raja-raja Merovingian hanya memerintah secara nominal. Kekaisaran Romawi Barat di kalahkan oleh bangsa Barbar. Sedangkan Romawi Timur atau Bizantium dengan ibu kota Konstatinopel, lolos dari amukan orang Barbar. Pada masa pemerintahan Justinian (528-565 M), Bizantium mencapai kekuasaan dan peradaban yang mantap. Di Timur, Bizantium bersaning keras dengan kekaisaran Sassanid dari Persia, yang wilayahnya merentang dari Irak dan Mesopotamia di barat sampai perbatasan timur Iran Modern dan Afganistan. Ibu kotanya Ctesiphon (al-Mada’in). Terletak kira-kira sepuluh mil  sebelah tenggara di tempat yang kelak menjadi Bagdad. Sejarah abad ke enam dan akhir abad ke tujuh di dominasi oleh pertikaian antara kedua raksasa tersebut. pada masa pemerintahan Justinian tercipta perdamaian antara Persia dan Bizantium, namun setelah berganti pemerintahan perang berkepanjangan dimulai lagi pada tahun 602 M.
    Memanfaatkan kelemahan Bizantium, Khosrau II dari Persia memulai lagi tindakan permusuhan dengan Bizantium. Dengan alasan menuntut balas atas pembunuhan Kaisar Maurice, yang membantunya pada awal pemerintahan. Akhirnya Asia Kecil di taklukan ketika Bizantium berada pada titik terendah kejayaannya pada tahun 610 M. Heraklius, putra Gubernur Afrika Utara tiba dengan armada perangnya tiba di depan Konstatinopel. Phocas (kaisar Bizantium) dibuang  dan Heraklius dinobatkan sebagai kaisar. Gelombang pasang dapat dikatakan mulai berbalik. Kemudian orang-orang Persia menyerang Suriah dan Mesir, pada tahun 614 M. Kemudian terjadi pengerusakan Yerusalem sesudah timbulnya pemberontakan melawan tentara Persia. Pembantaian penduduknya, dan mengangkut apa yang diyakini sebagai Salib yang asli, sehingga membangkitkan amarah umat Kristen di seluruh kekaisaran Bizantium, yang kemudian di manfaatkan oleh Heraklius untuk membentuk pasukan perlawanan. Kemudian Heraklius berbalik dan melawan Persia pada tahun 622 M. Pada tahun 627 M Heraklius dengan berani menyerbu Irak dan berakhir dengan kekalahan tentara Persia. Dalam bulan februari 628 M Khosrau II dibunuh, dan putranya yang menggantikannya mempunyai banyak musuh dan menginginkan perdamaian. Perang panjang, dan besar akhirnya usai.
    Dalam peristiwa ini sudah di kabarkan dalam Al-Quran 30:2/1-5/4, sehingga terhibur hati kaum muslimin yang waktu itu bersedih atas kekalahan kaum Kristen atau bangsa Rum (Bizantium), terhadap Persia. Kenapa rasulullah begitu bersedih. Karena sesungguhnya apabila Persia menang perang maka kemungkinan Mekah juga akan masuk ekspansi Persia berikutnya. Karena peristiwa sebelumnya, Bangsa Yaman yang berada di semenanjung tanah Arabia berada dibawa kekuasaan orang Abessinia sampai kira-kira tahun 575 M. kemudian orang-orang Abessinia di usir oleh sebuah ekspedisi laut dari Persia. Sehingga, Persia juga menguasai sejumlah kota kecil di pantai timur dan selatan Arabia. Bangsa Persia, sebelum melakukan ekspansi selalu mencari kelompok yang memihak mereka untuk dijadikan raja boneka mereka. Biasanya dilakukan dengan mendukung satu faksi yang pro-Persia. Seperti, insiden pada sekitar tahun 590 M yang berkaitan dengan nama “Usman ibn al-Huwairis harus dianggap sebagai upaya Persia untuk menguasai Mekah dengan membantu seseorang menjadi penguasa boneka di sana.
    Dari tahun-tahun di atas dapat di bandingkan dengan tahun-tahun yang terjadi di Mekah. Pada tahun 571 waktu itu Rasulullah baru lahir sebagai seorang keturunan Quraisi di Mekah. Wahyu pertama turun menjelang akhir bulan Ramadan tahun 610 M. saat itu mulai memasuki awal permulaan Islam dengan turunnya surat Al-alaq. Dalam perjalanan perkembangan Islam, karena pengikut Rasulullah mendapat perlakuan kasar, maka pada tahun 615 M hijrah ke Abessinia. Kemudian pada tahun 620 M sekitar 75 orang Yatstrib (Madinah), mengundang kaum muslimin untuk tinggal di Yatstrib. Orang-orang Yatstrib berharap Rasulullah dapat mendamaikan mereka di Yatstrib. Kemudian sekitar 200 orang muslim hijrah ke Madinah, dan Rasulullah saw sendiri menyusul kemudian tiba di Yatstrib pada 24 September 622 M. Kemudian, perang Badar terjadi pada bulan Ramadan 624 M. Setahun kemudian perang Uhud terjadi pada 625 M. Pada tahun 627 sebuah persekutuan yang terdiri dari orang-orang Mekah dan tentara bayaran dari suku Badui dan Abissinia, kembali memerangi Madinah, yang dikenal perang parit.
    Peristiwa itu, bertepatan dengan tahun terjadinya perang Bizantium dengan Persia di Irak. Kemudian pada tahun 628 orang-orang Yahudi Khaibar, sebuah daerah Oasis yang dikelilingi benteng di sebelah Madinah menyerah pada kaum muslimin. Pada 628 terjadinya perjajnjian Hudaybiyah. Di Persia tahun ini terjadinya pembunuhan terhadap kaisar Persia, Khosru II, yang berdampak terjadinya perdamaian antara Persia dan Bizantium. Dua tahun kemudian karena orang-orang Mekah melanggar perjanjian, maka kaum muslimin menyerang Mekah, tahun 630 M. Kemenangan terhadap pihak kaum muslimin setelah menaklukkan Mekah. Setelah Mekah di kuasai kaum muslimin, terjadilah perdamaian di tanah Arabia, dan juga terjadi perdamaian di kawasan Timur Tengah, dengan berdamai-nya Bizantium dengan Persia. Maka situasi damai ini menjadi jalan untuk perkembangan umat Islam yang nantinya sebagai penakluk-penakluk baru di Asia Barat dan menyebar ke seluruh dunia.

Oleh: Joni Apero.
Palembang, 29 Juli 2018.

Sumber:
Philif K. Hitty, History of The Arab, terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi, 2002.
W. Montgomery Watt, Rhichad Bell: Pengantar Quran, Jakarta: INIS, 1998.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment