6/30/2019

Sastra Kita


Apero Fublic.- Sastra Kita adalah kolom bersastra untuk masyarakat dan terbuka umum. Sastra kita adalah bentuk sastra masyarakat yang dapat berupa puisi, syair, pantun, cerpen, quote, atau kata-kata indah, lingkungan hidup, keluhan, saran, motivasi dan sebagainya. Tulisan oleh masyarakat biasa juga digolongkan kedalam sastra kita. Sastra kita menghimpun hasil buah pikir dari masyarakat.

Pada kolom sastra kita tidak mengukur kemampuan atau keindahan dari karya seseorang. Juga tidak diukur apakah dia seorang sastrawan atau bukan, terkenal atau tidak. Standar pada kolom #sastra kita adalah keaslian karya, tidak memfitnah, tidak mengandung konten sensitif baik berupa tulisan, foto, atau video.

Tiak menghina kelompok tertentu, tidak menghujat dan tidak mengambil karya orang lain. Kolom #sastra kita adalah wadah untuk mengasa keterampilan menulis, serta membangun percaya diri dalam mempublikasi karya-karya dari seseorang yang sedang melati kreatifitas menulis.

Harapan kolom #sastra kita adalah untuk mengajak masyarakat cinta membaca dan menulis. Begitupun dunia baca akan berkembang saat menulis menjadi budaya di tengah masyarakat. Pada masyarakat maju tulisan dan menulis adalah kebutuhan. Di tengah masyarakat kita sekarang ini, tingkat menulis dan membaca sangat rendah. Apabila kita hendak memajukan bangsa kita, jawabnya dengan cara mencerdaskan masyarakatnya. Kemajuan bangsa akan tercapai apabila dihuni oleh masyarakat yang cerdas, intelektualnya tinggi.

Sastra Kita adalah bagian dari kehidupan masyarakat sekarang. Berkembangnya dunia teknologi informasi akan membutuhkan konten baca disetiap jaringan komunikasi. Saat ini, konten sosial media yang menjadi tren dalam menggunakan teknologi komunikasi. Tetapi dengan berkembangnya zaman, tren sosmed akan berganti dengan tren membaca.

Maka hendaknya, #kolom sastra kita akan dibanjiri oleh tulisan-tulisan masyarakat yang bermanfaat bagi masayrakat lainnya. #kolom sastra kita dapat dijadikan tempat berbagi informasi dan tips-tips dalam kehidupan. Sebagai contoh, dalam dunia pertanian, dunia kesehatan herbal, trik dan teori, nasihat, kisah inspiratif, kesehatan, wisata, berbagi pengalaman, dan sebagainya. Terutama tulisan-tulisan yang mengajarkan adad dan kebaikan sosial.

Banyak sekali orang meremehkan sastra, dan menganggap sastra hanyalah sebatas hiburan sepintas lalu. Sastra juga dianggap sepele dan tidak ada manfaatnya. Namun, yang perlu diketahui sastra sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Sedikit gambaran, ketika kita melihat seorang gadis dan seorang pemuda bermesraan di jalanan, mereka berjalan bergandengan tangan, ada yang berpelukan di atas sepeda motor, berbuat mesum dengan cara-cara aneh, dan bermacam-macam hal lainnya. Nah, semua itu adalah buah dari konsumsi sastra. Sastra yang dikelompokkan atau dengan sastra rusak. Sastra yang dikelompokkan sastra rusak adalah semua sastra yang menyajikan konten amoral.

Generasi kita, mereka mendapatkan semua itu dari,  membaca, menonton televisi atau video. Sastra rusak demikian ada baiknya kita hilangkan, dan mendukung sastra yang positif. Sastra-sastra rusak yang muncul di zaman Orde Baru begitu terasa pada zaman kita sekarang akibatnya.

Kita kehilangan adab dan budaya serta norma-morma susilah. Remaja kita berpacaran disertai zina, sehingga terjadi seks bebas. Ini adalah rahasia umum di tengah masyarakat kita. Maka dari itu, #sastra kita mengajak semua lapisan masyarakat Indonesia untuk membangun sastra positif.

Pada masa nenek moyang kita dahulu semua sastra untuk mendidik masyarakat. Maka, kita kembali kembalikan sastra rakyat, budaya-budaya bangsa kita itu, kemudian hadirkan kembali di tengah masyarakat kita. Dalam beragama, baik itu Muslim dan Non Muslim agar memperjuangkan kaidah sastra positif.

Sebab adanya pemahaman dari non muslim yang selalu mengaitkan dengan Islam, apa saja. Sehingga cenderung membiarkan atau malah berbuat sengaja. Padahal moral adalah tanggung jawab semua agama. Kewajiban menjaga identitas bangsa adalah kewajiban bersama. Sehingga sedikit saja larangan atau kritikan tentang hal negatif, maka akan dicap Islam radikal.

Padahal kebaikan dalam masayrakat adalah inti dari ajaran agama manapun. Penulis-penulis muslim agar terus menulis sastra-satra yang positif. Menulis hal yang baik, adalah dakwa dan mendapat nilai pahala bagi yang menulisnya. Ayo, dakwa melalui sastra atau dakwa melalui literasi. Saya ucapkan, salam sastra kita.

Bagi yang ingin berkirim karya tulis ke kolom sastra kita dapat melalui email. fublicapero@gmail.com. idline. aperofublic. Kiriman karya tulis,agar memisahkan foto dengan tulisan atau foto dikirim terpisah dari file tulisan. Sertakan data pribadi, seperti nama lengkap, tanggal dan tempat penulisan. Setiap karya tulisan menjadi tanggung jawab pengirim.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 18 November 2018.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment