Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan Pancasila Jangan Berhenti Di Kelas, Mahasiswa Diajak Memulai Dari Sikap Sehari-hari
APERO FUBLIC I Pendidikan Pancasila merupakan salah satu pembelajaran penting bagi mahasiswa karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bangsa Indonesia. Selama ini, Pancasila sering dipelajari melalui materi perkuliahan, diskusi, dan tugas.
Namun, menurut saya, pendidikan Pancasila tidak seharusnya hanya dipahami sebagai pelajaran yang harus diselesaikan di kelas. Nilai-nilainya justru perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak hanya menjadi teori, tetapi benar-benar terlihat melalui sikap dan tindakan.
Pancasila mengajarkan banyak hal yang dekat dengan kehidupan kita. Sila pertama mengingatkan kita untuk menghormati keyakinan dan kebebasan beragama. Sila kedua mengajarkan agar kita memperlakukan sesama manusia dengan baik dan adil.
Sila ketiga mengajak kita menjaga persatuan meskipun memiliki perbedaan. Sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah, sedangkan sila kelima mengingatkan kita untuk bersikap adil serta peduli terhadap kesejahteraan bersama. Semua nilai tersebut sebenarnya dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana.
Mahasiswa memiliki peran penting dalam menerapkan nilai Pancasila. Sebagai bagian dari generasi muda dan masyarakat terdidik, mahasiswa diharapkan mampu menjadi contoh dalam bersikap.
Penerapan Pancasila tidak harus dimulai dengan kegiatan besar atau menunggu seseorang menjadi pemimpin. Hal sederhana seperti datang tepat waktu, menaati aturan kampus, bersikap jujur saat mengerjakan tugas, menghormati dosen, dan menjaga fasilitas umum sudah menunjukkan adanya tanggung jawab.
Di lingkungan kampus, mahasiswa bertemu dengan teman-teman yang memiliki latar belakang berbeda, baik dari segi suku, agama, budaya, daerah asal, maupun cara berpikir. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar saling mengenal, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Menurut saya, mahasiswa perlu membiasakan diri menghargai teman, tidak melakukan diskriminasi, serta bersedia membantu orang lain ketika membutuhkan. Sikap tersebut merupakan contoh nyata dari nilai kemanusiaan dan persatuan.
Penerapan Pancasila juga dapat dilihat ketika mahasiswa mengikuti diskusi atau mengerjakan tugas kelompok. Dalam kegiatan tersebut, setiap anggota mungkin memiliki pendapat yang berbeda. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, sehingga tidak seharusnya diselesaikan dengan pertengkaran atau memaksakan kehendak.
Mahasiswa sebaiknya memberi kesempatan kepada semua anggota untuk berbicara, mendengarkan dengan baik, dan menentukan keputusan melalui musyawarah. Dengan demikian, nilai demokrasi yang terkandung dalam sila keempat dapat diterapkan secara langsung.
Selain di kampus, nilai Pancasila juga perlu diterapkan ketika mahasiswa menggunakan media sosial. Saat ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Karena itu, mahasiswa harus lebih berhati-hati sebelum membagikan berita atau memberikan komentar.
Jangan sampai media sosial digunakan untuk menghina, menyebarkan kabar yang belum terbukti, atau membuat orang lain merasa direndahkan. Menurut saya, menggunakan bahasa yang sopan, memeriksa kebenaran informasi, dan menghargai pendapat orang lain merupakan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.
Nilai keadilan sosial pun dapat dimulai dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Mahasiswa dapat ikut menjaga kebersihan kampus, membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, mengikuti kegiatan sosial, atau berpartisipasi dalam gotong royong di lingkungan tempat tinggal.
Tindakan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan manfaat jika dilakukan bersama-sama. Kita tidak perlu menunggu memiliki jabatan atau kekayaan untuk membantu orang lain. Kepedulian dapat dimulai sesuai kemampuan masing-masing.
Walaupun nilai Pancasila sering dipelajari, penerapannya masih menghadapi tantangan. Ada orang yang mampu menghafalkan lima sila, tetapi belum menunjukkan sikap yang sesuai dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya, seseorang berbicara tentang persatuan tetapi masih suka mengejek kelompok lain, atau mengajak bermusyawarah tetapi tidak mau menerima pendapat berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa memahami Pancasila saja belum cukup. Diperlukan kemauan untuk membiasakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
Oleh sebab itu, menurut saya, pendidikan Pancasila di perguruan tinggi perlu dihubungkan dengan pengalaman nyata mahasiswa. Pembelajaran tidak hanya berisi penjelasan dan ujian, tetapi juga dapat dilakukan melalui diskusi, kerja kelompok, kegiatan sosial, dan refleksi terhadap perilaku sehari-hari.
Dosen dan pihak kampus juga dapat memberikan contoh melalui sikap yang adil, disiplin, terbuka, dan menghargai perbedaan. Lingkungan yang mendukung akan membuat mahasiswa lebih mudah menerapkan nilai Pancasila.
Pendapat saya ini juga didukung oleh berita dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada 5 November 2021 yang berjudul "BPIP Berharap Mahasiswa Implementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi Sesuai Nilai Pancasila". Dalam berita tersebut, BPIP mengharapkan mahasiswa dan dosen mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa Pancasila bukan hanya materi yang dipelajari di ruang perkuliahan, melainkan harus diterapkan melalui tindakan nyata. Misalnya, mahasiswa dapat menunjukkan sikap saling menghargai, bekerja sama dalam kelompok, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta menghormati pendapat orang lain ketika berdiskusi.
Menurut saya, hal tersebut membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan Pancasila tidak hanya dilihat dari nilai ujian mahasiswa, tetapi juga dari bagaimana mereka menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan Pancasila tidak cukup dinilai dari seberapa baik mahasiswa menghafal materi atau memperoleh nilai tinggi.
Keberhasilan yang sesungguhnya terlihat ketika mahasiswa semakin jujur, bertanggung jawab, peduli, menghormati perbedaan, dan mau bekerja sama. Saya berpendapat bahwa Pancasila akan tetap hidup apabila setiap orang bersedia menjalankan nilai-nilainya, mulai dari hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Pendidikan Pancasila jangan berhenti di kelas. Mari mulai dari diri sendiri, dari cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, dan keputusan yang kita ambil setiap hari. Mahasiswa dapat menjadi bagian dari perubahan dengan menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila di kampus maupun di masyarakat.
Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya membutuhkan warga yang mengetahui Pancasila, tetapi juga warga yang mau mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Oleh: Meysliani Ndruru
Mahasiswi Prodi S1 PGSD Fakultas Pendidikan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment