Feature
Kampus
Mahasiswi
Festival Musik Dug Dug Kota Probolinggo 2026: Meriah di Panggung, Belum Tertib di Lapangan
APERO FUBLIC I PROBOLINGGO.– Stadion Bayuangga Kota Probolinggo berubah menjadi lautan cahaya pada Jumat malam (30/10/2026). Mulai pukul 19.30 WIB, Festival Musik Dug Dug Kota Probolinggo menghadirkan kolaborasi 13 kelompok musik dug dug se-Kota Probolinggo dengan para penari dari berbagai sanggar tari di kota ini, salah satunya Sanggar BTBK.
Acara yang pertama kali digelar pada 7 Desember 2024 dengan nama PNC ini rutin diadakan setiap tahun dengan tanggal dan konsep yang berbeda. Hingga 2025 acara berbentuk pawai malam hari, sedangkan tahun ini panitia mengubah format menjadi festival yang berpusat di satu lokasi dan mengganti nama menjadi Festival Musik Dug Dug Kota Probolinggo.
Keberanian panitia menghadirkan konsep baru, bukan sekadar mengulang format lama, patut diapresiasi, apalagi instalasi lampu warna-warni yang berjajar megah menjadi tontonan yang memanjakan mata dan membanggakan warga.
Kemeriahan itu juga dirasakan para penonton. Leny Desi, salah satu penonton, mengaku puas dengan konsep acara yang melibatkan seluruh penari se-Kota Probolinggo.
“Acara kali ini sangat meriah, melibatkan seluruh penari se-Kota Probolinggo. Namun sayang sekali, pada akhir-akhir tampilan terasa sedikit monoton dikarenakan durasi perform setiap kelompok terlalu lama,” ujarnya pada Jumat (30/10/2026).
Pernyataan ini menjadi catatan penting bagi panitia. Penataan durasi tampil setiap kelompok perlu dipertimbangkan agar penonton tetap antusias hingga acara usai, misalnya dengan memperpendek waktu tampil atau menyelipkan variasi di antara penampilan.
Dari sisi penari, antusiasme juga terasa kuat. Vina Febriana, salah satu penari yang terlibat, mengaku bangga terpilih di antara sekitar 300 penari yang tampil.
“Pastinya saya senang dan bangga dapat menjadi salah satu penari yang terpilih dari banyaknya penari sekitar 300 penari. Harapannya, di tahun depan saya dapat terpilih lagi dan acara lebih meriah dari tahun ini, serta penonton bisa menghargai penari untuk tidak masuk area penari,” tuturnya pada Jumat (30/10/2026).
Harapan Vina menyentuh persoalan yang memang terlihat di lapangan. Semangat penonton yang berlebihan justru membuat suasana tidak kondusif. Banyak penonton nekat melewati pagar pembatas yang disiapkan untuk area penari, sehingga ruang gerak para penari menjadi sempit.
Padahal mereka sudah berlatih berminggu-minggu agar bisa tampil maksimal. Menonton dengan antusias tentu boleh, tetapi jangan sampai kita menikmati pertunjukan dengan cara merampas ruang kerja para seniman.
Dari sisi pengelolaan, kejadian ini menunjukkan bahwa pengamanan dan pengaturan massa belum berjalan efektif. Pagar pembatas ternyata tidak cukup tanpa dukungan petugas yang memadai di titik-titik rawan serta pengumuman yang jelas tentang batas area penonton.
Kepadatan di area penari juga berpotensi membahayakan keselamatan, baik penari maupun penonton, terlebih acara berlangsung malam hari dengan banyak instalasi lampu dan peralatan listrik.
Persoalan lain terlihat pada tampilan visual para penari. Kostum antarkelompok sanggar berbeda-beda, baik dari segi warna maupun bentuk, sehingga panggung terkesan kurang rapi untuk sebuah festival kolaborasi. Keberagaman memang kekayaan budaya, tetapi tanpa penataan yang jelas, perbedaan itu justru mengurangi keindahan pertunjukan secara keseluruhan.
Hal ini menandakan belum adanya panduan visual bersama dari panitia kepada seluruh sanggar. Semestinya skema warna dan model kostum ditetapkan sejak tahap persiapan melalui koordinasi dengan semua pihak, sehingga hasil akhirnya tampil utuh sebagai satu pertunjukan, bukan sekadar penampilan terpisah di panggung yang sama.
Ke depan, Festival Musik Dug Dug adalah aset budaya dan pariwisata yang layak dirawat. Harapannya, keamanan dan kepatuhan penonton dapat dijaga lebih ketat agar suasana tetap kondusif dan para penari dapat tampil tanpa terganggu, durasi tampil setiap kelompok diatur lebih efisien agar acara tidak terasa monoton, serta warna kostum antarpenari diseragamkan agar penampilan lebih rapi dan harmonis.
Dengan perbaikan tersebut, festival ini berpeluang menjadi agenda tahunan yang tidak hanya meriah, tetapi juga tertata dan membanggakan Kota Probolinggo.
Oleh: Vinola Putri Aisamarta
Mahasiswi Pendidikan Seni Pertunjukan, Universitas Negeri Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment