Kampus
Kesehatan
Mahasiswi
Medan
Opini
Pendidikan
Literasi Kesehatan di Era Digital: Menjaga Imunitas atau Memicu Ketakutanterhadap Penyakit?
APERO FUBLIC I Bayangkan seseorang tiba-tiba merasakan sakit kepala, tubuh terasa lelah, atau tenggorokannya sedikit tidak nyaman. Karena penasaran, ia membuka ponsel dan mencari gejala tersebut di internet. Dalam beberapa detik, muncul banyak informasi mengenai berbagai penyakit. Ada yang menjelaskan penyebabnya, ada yang menunjukkan tanda-tandanya, bahkan ada yang mengatakan bahwa gejala tertentu perlu diwaspadai.
Dari yang awalnya hanya ingin mencari informasi sederhana, orang tersebut justru menjadi khawatir dan mulai berpikir bahwa dirinya mungkin mengalami penyakit tertentu. Situasi seperti ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat di era digital.
Kemudahan mengakses informasi kesehatan memang seperti pisau bermata dua. Di satusisi, internet dapat membantu masyarakat memperoleh pengetahuan tentang cara menjaga kesehatan, mengenali tanda-tanda penyakit, dan mencari informasi mengenai pola hidup sehat.
Namun, di sisi lain, terlalu banyak informasi yang tidak disaring dapat menimbulkan kebingungan bahkan kecemasan. Dari kondisi tersebut muncul pertanyaan: apakah tingginya paparan informasi kesehatan di dunia digital benar-benar membuat masyarakat semakin sehat, atau justru dapat memicu ketakutan berlebihan terhadap penyakit?
Menurut saya, belum tentu dalam buku Pendidikan Multiliterasi, Sudirman dan Mahfuzi Irwan (2023) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuat pemahaman tentang litera tidak dapat lagi dilihat secara sempit.
Literasi berkaitan dengan berbagai bentuk informasi dan perubahan kehidupan masyarakat. Dalam pembahasan literasi kesehatan, kesehatan dapat dipahami sebagai konstruksi sosial yang kompleks.
Artinya, cara seseorang memahami kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh informasi yang ia baca, tetapi juga oleh lingkungan, pengalaman, kebiasaan, dan cara masyarakat membentuk pemahaman tentang kesehatan.
Menurut saya, pandangan tersebut penting untuk melihat fenomena kesehatan di era digital. Seseorang yang setiap hari membaca konten kesehatan di media sosial belum tentu memiliki literasi kesehatan yang baik.
Banyaknya informasi yang masuk ke dalam pikiran tidak otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan kesehatan dengan benar. Justru, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin penting kemampuan untuk memilih dan menilai informasi tersebut.
Coba kita bayangkan dua orang yang sama-sama menggunakan internet untuk mencari informasi kesehatan. Orang pertama mengalami demam ringan kemudian mencari informasi dari situs resmi lembaga kesehatan, membaca beberapa sumber, membandingkan informasi, dan memahami bahwa informasi internet tidak dapat menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Sementara itu, orang kedua mencari gejala yang sama melalui berbagai media sosial, membaca banyak cerita pengalaman orang lain, kemudian menghubungkan setiap keluhan tubuhnya dengan penyakit yang ia temukan. Dari luar, keduanya sama-sama menggunakan internet.
Namun, cara mereka memperlakukan informasi sangat berbeda. Di sinilah menurut saya letak persoalannya. Kemampuan mencari informasi kesehatan belum tentu sama dengan kemampuan memahami informasi kesehatan.
Literasi kesehatan tidak berhenti pada kegiatan membaca. Seseorang juga perlu mampu memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kemampuan tersebut tidak dimiliki, informasi yang sebenarnya bertujuan membantu dapat berubah menjadi sumber kekhawatiran.
Hal tersebut juga dapat dikaitkan dengan buku Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru. Dalam buku tersebut, multiliterasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami teks, tetapi juga berbagai bentuk informasi seperti visual, audio, digital, dan multimodal.
Dalam kehidupan sehari-hari, informasi kesehatan tidak hanya muncul dalam bentuk artikel. Kita dapat menemukannya dalam video pendek, infografis, podcast, komentar, unggahan media sosial, bahkan pengalaman pribadi seseorang. Karena bentuknya beragam, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memahami dan mengevaluasi informasi sebelum mempercayainya.
Misalnya, di media sosial sering muncul video yang membahas suatu penyakit dengan judul yang membuat orang penasaran. Video tersebut mungkin menggunakan kalimat seperti “jangan abaikan tanda ini” atau “gejala ini bisa menjadi tanda penyakit serius”.
Judul seperti itu dapat membuat seseorang langsung merasa takut. Padahal, satu gejala dapat memiliki banyak penyebab dan tidak selalu menunjukkan penyakit tertentu. Jika seseorang langsung menganggap dirinya memiliki penyakit hanya karena menemukan kesamaan gejala, maka informasi tersebut tidak lagi digunakan sebagai pengetahuan, tetapi menjadi sumber kecemasan.
Fenomena mencari informasi penyakit secara berlebihan melalui internet sering dikaitkan dengan istilah cyberchondria. Secara sederhana, cyberchondria menggambarkan kecenderungan seseorang mengalami kecemasan setelah terus-menerus mencari informasi mengenai gejala atau penyakit di internet.
Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menghasilkan dampak yang sama bagi setiap orang. Teknologi dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap kesehatan, tetapi penggunaan yang tidak bijak juga dapat membuat seseorang terlalu fokus pada kemungkinan penyakit.
Masalahnya menjadi semakin besar karena internet memberikan begitu banyak pilihan informasi. Ketika seseorang mencari satu gejala, ia dapat menemukan puluhan bahkan ratusan hasil pencarian. Sebagian informasi berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi sebagian lainnya dapat berasal dari pengalaman pribadi atau sumber yang tidak jelas.
Jika seseorang tidak mampu membedakan keduanya, ia dapat dengan mudah mempercayai informasi yang paling menarik atau paling menakutkan. Karena itu, literasi digital menjadi bagian penting dalam literasi kesehatan di era sekarang.
Literasi digital bukan hanya kemampuan membuka internet, menggunakan mediasosial, atau mencari sesuatu melalui mesin pencari. Lebih dari itu, seseorang perlu mampumemahami siapa yang memberikan informasi, dari mana sumbernya, apakah informasinya memiliki dasar yang jelas, kapan informasi tersebut diterbitkan, dan apakah informasi tersebut sesuai dengan sumber lain yang terpercaya.
Menurut saya, kemampuan tersebut sangat penting terutama bagi generasi muda. Generasi muda merupakan kelompok yang cukup dekat dengan teknologi dan media sosial. Setiap hari kita dapat menerima berbagai macam informasi hanya melalui satu perangkat. Karena itu, kemampuan menyaring informasi menjadi semakin penting.
Jangan sampai karena ingin menjaga kesehatan, kita justru mengikuti semua informasi yang muncul tanpa mempertimbangkan kebenarannya. Dalam buku Pendidikan Berbasis Multiliterasi: Menyiapkan Generasi Baru, literasi kritis berkaitan dengan kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.
Salah satu hal yang penting adalah melihat kredibilitas sumber dan membandingkan berbagai perspektif. Jika diterapkan dalam konteks kesehatan digital, masyarakat seharusnya tidak langsung percaya pada satu informasi hanya karena informasi tersebut banyak dibagikan atau memiliki banyak penonton.
Contohnya, ketika menemukan informasi bahwa suatu makanan dapat menyembuhkan penyakit tertentu, kita tidak seharusnya langsung mempercayainya. Kita dapat mencari tahu siapa yang menyampaikan informasi tersebut, apakah ada sumber yang mendukung klaimnya, dan bagaimana penjelasan dari sumber kesehatan yang lebih dapat dipercaya.
Dengan cara seperti ini, kita tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga menjadi pengguna informasi yang lebih bertanggung jawab. Menurut saya, hal yang sama berlaku ketika seseorang menggunakan media sosial untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan mental.
Konten di media sosial dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dan membuatnya lebih terbuka membicarakan masalah kesehatan. Namun, konten tersebut juga tidak selalu dapat digunakan untuk menentukan kondisi seseorang.
Membaca daftar tanda atau gejala tertentu tidak berarti seseorang dapat langsung memberikan diagnosis kepada dirinya sendiri. Dalam hal kesehatan, informasi digital sebaiknya menjadi bahan pengetahuan awal, bukan satu-satunya dasar untuk mengambil kesimpulan.
Di sinilah peran pendidikan masyarakat menjadi penting. Pendidikan masyarakat tidak hanya berhubungan dengan kegiatan belajar di ruang kelas, tetapi juga dengan bagaimana masyarakat dapat meningkatkan kemampuan dalam menghadapi perubahan kehidupan.
Ditengah perkembangan teknologi, masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk mengakses dan memahami informasi kesehatan dengan cara yang sederhana dan benar. Pendidikan literasi kesehatan digital dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Masyarakat dapat diajarkan untuk tidak langsung percaya pada informasi yang muncul di media sosial,memeriksa sumbernya, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya.
Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa internet memiliki batas. Tidak semua masalah kesehatan dapat diselesaikan hanya dengan membaca artikel atau menonton video. Hal tersebut bukan berarti masyarakat harus takut mencari informasi kesehatan diinternet.
Justru, masyarakat perlu tetap memanfaatkan teknologi karena banyak manfaat yang dapat diperoleh. Informasi digital dapat membantu seseorang mengetahui pentingnya menjaga pola hidup sehat, memahami langkah pencegahan penyakit, mengetahui layanan kesehatan, dan meningkatkan kesadaran terhadap kondisi kesehatan tertentu. Yang perlu diubah bukan kebiasaan mencari informasi, tetapi cara kita memperlakukan informasi tersebut.
Menurut saya, ada perbedaan antara orang yang mencari informasi untuk menambah pengetahuan dengan orang yang mencari informasi karena terus-menerus takut terhadap penyakit. Orang yang literat akan berusaha memahami informasi secara utuh dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Sebaliknya, jika seseorang hanya mengambil bagian informasi yang sesuai dengan ketakutannya, pencarian informasi dapat menjadi semakin tidak terkendali. Karena itu, banyak informasi bukan berarti banyak pengetahuan.
Pengetahuan terbentuk ketika informasi dipahami, dipertimbangkan, dan digunakan dengan tepat. Dalam konteks kesehatan, hal ini sangat penting karena keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang salah dapat memengaruhi perilaku seseorang.
Informasi kesehatan seharusnya membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bijak, bukan membuat masyarakat terus-menerus merasa takut. Jika dikaitkan dengan pendidikan multiliterasi, kemampuan literasi kesehatan digital sebenarnya merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk menghadapi berbagai bentuk informasi di kehidupan modern.
Masyarakat tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi. Masyarakat juga perlu menjadi pengguna informasi yang kritis, mampu membandingkan sumber, memahami konteks, dan bertanggung jawab ketika menyebarkan informasi kepadaorang lain.
Pada akhirnya, saya melihat bahwa teknologi digital bukanlah penyebab utama masyarakat menjadi takut terhadap penyakit. Persoalannya lebih kepada bagaimana teknologi tersebut digunakan dan bagaimana seseorang memperlakukan informasi yang diperolehnya.
Internet dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran kesehatan apabila digunakandengan kemampuan literasi yang baik. Namun, internet juga dapat menjadi sumber kecemasan apabila seseorang menerima semua informasi tanpa menyaring dan memahaminya.
Jadi, apakah literasi kesehatan di era digital dapat menjaga imunitas masyarakat atau justru memicu ketakutan terhadap penyakit? Menurut saya, keduanya dapat terjadi. Hasilnya sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi.
Jika informasi dicari, diperiksa, dipahami, dan digunakan secara bijak, teknologi dapat membantu masyarakat menjadi lebih sadar terhadap kesehatan. Namun, jika informasi diterima begitu saja dan setiap gejala langsung dikaitkan dengan penyakit tertentu, teknologi justru dapat memicu kekhawatiran.
Karena itu, masyarakat di era digital tidak hanya membutuhkan akses terhadap informasi kesehatan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis, menyaringinformasi, dan mengetahui batas penggunaan informasi digital.
Menurut saya, masyarakatyang literat bukanlah masyarakat yang mengetahui semua penyakit dari internet. Masyarakat yang literat adalah masyarakat yang mampu mengetahui informasi mana yang perlu dipercaya, mana yang perlu diperiksa kembali, dan kapan harus mencari bantuan dari sumber yang lebih tepat.
Pada akhirnya, internet seharusnya membantu kita lebih peduli terhadap kesehatan, bukan membuat kita hidup dalam ketakutan terhadap penyakit. Teknologi boleh semakin pintar dan informasi boleh semakin mudah ditemukan, tetapi kemampuan manusia untuk berpikir, memeriksa, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab tetap menjadi hal yang paling penting.
Literasi kesehatan digital bukan tentang seberapa banyak informasi yang kitaketahui, tetapi tentang seberapa bijak kita menggunakan informasi tersebut.
SUMBER :
Sudirman, & Irwan, M. (2023). Pendidikan multiliterasi. Kencana.Angelianawati, D., Tasnimah, T. M., Hidayah, A., Lestari, F. D., Mashuri, Cahyaningrum, I. O., Ningrum, S. T., Nurhidayati, Islam, R. F., & Adika, D. (2025). Pendidikan berbasis multiliterasi: Menyiapkan generasi baru. PT Akselerasi Karya Mandiri.
Oleh: Nazwa Alya Fasya
Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Medan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment