Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Jarimu Harimaumu: Etika di Media Sosial
APERO FUBLIC I Saat ini media sosial sudah menjadi bagian dari hidup kita. Hampir semua orang punya media sosial, dari anak muda sampai orang tua. Kita bebas menulis dan membagikan apa saja di sana. Tapi kebebasan itu harus disertai tanggung jawab. Di sinilah kita butuh etika.
Ada pepatah lama yang mengatakan "Jarimu Harimaumu". Pepatah ini sangat pas untuk zaman sekarang. Apa yang kita ketik dengan jari kita bisa menjadi seperti harimau yang melukai orang lain dan juga diri kita sendiri. Satu komentar jahat bisa merusak nama baik seseorang.
Karena itu menurut saya hal pertama yang harus kita lakukan adalah saring sebelum sharing. Sekarang banyak sekali berita hoax yang beredar di grup WhatsApp dan Facebook. Kita tidak boleh asal share berita yang belum jelas. Harus cek dulu kebenarannya, lihat sumbernya dari mana. Kalau kita asal sebar, dampaknya bisa sangat merusak. Bisa membuat orang lain rugi dan bahkan menimbulkan masalah di masyarakat.
Selain itu, kita juga harus belajar menghargai orang lain di media sosial. Jangan melakukan bullying, jangan menghina orang di kolom komentar, dan jangan menyebar ujaran kebencian. Kadang kita lupa kalau di balik akun itu ada manusia juga yang punya perasaan. Kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan.
Bagi saya pribadi, media sosial itu seperti cermin. Apa yang kita posting itu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Jejak digital itu tidak akan hilang. Oleh karena itu sebaiknya media sosial kita pakai untuk hal-hal yang baik, untuk berbagi inspirasi dan hal positif.
Mari kita pakai media sosial dengan lebih bijak. Gunakan jari kita untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian. Jika kita semua beretika, maka media sosial akan menjadi tempat yang lebih sehat dan aman untuk semua orang.
Oleh: Alfonsus Mario Huler
Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Widya Mandira Kupang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment