Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Antara Kenyamanan dan Tanggung Jawab: Dilema Warga Negara dalam Menjaga Kebersihan Sungai
APERO FUBLIC I Sungai sering kali baru dianggap penting ketika airnya mulai tercemar, menimbulkan bau, atau dipenuhi busa. Padahal, pencemaran sungai tidak selalu berasal dari aktivitas industri besar, tetapi juga bisa disebabkan oleh kebiasaan masyarakat sehari-hari. Salah satu contohnya adalah kasus Kali Sunter di Jakarta yang mengalami munculnya busa akibat limbah rumah tangga, terutama deterjen, serta limbah usaha laundry.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas sederhana di rumah ternyata bisa menimbulkan masalah bagi lingkungan jika limbahnya tidak dikelola dengan baik. Kita sering kali hanya memikirkan kenyamanan saat mencuci atau membersihkan rumah, tetapi jarang memikirkan ke mana air limbah tersebut akan mengalir.
Persoalan ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai warga negara. Setiap orang tentu ingin mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi keinginan tersebut seharusnya diimbangi dengan tindakan untuk menjaganya.
Sungai bukan milik satu orang, sehingga dampak pencemarannya juga dapat dirasakan oleh banyak orang. Sayangnya, masih ada anggapan bahwa membuang sedikit limbah ke saluran air bukanlah masalah besar. Padahal, jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus oleh banyak orang, dampaknya bisa semakin luas.
Kita tidak bisa terus menuntut lingkungan yang bersih jika kebiasaan sehari-hari kita sendiri justru ikut menyebabkan pencemaran.Sebagai mahasiswa Biologi, kita sebenarnya bisa ikut berkontribusi dalam mengatasi masalah ini.
Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan seharusnya tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan tugas atau praktikum, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Misalnya, mahasiswa dapat melakukan edukasi mengenai dampak limbah deterjen, mengajak masyarakat mengelola limbah rumah tangga dengan benar, serta mengadakan kegiatan bersih sungai. Kita juga bisa memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya menjaga kualitas air dan ekosistem sungai. Namun, upaya tersebut tentu tidak cukup jika hanya dilakukan oleh mahasiswa.
Pemerintah juga perlu menyediakan fasilitas pengolahan limbah dan melakukan pengawasan agar pencemaran tidak terus berulang. Pada akhirnya, menjaga kebersihan sungai bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab bersama. Hal yang perlu diperbaiki bukan hanya kondisi sungainya, tetapi juga cara kita memandang lingkungan.
Kita sering menginginkan lingkungan yang bersih, tetapi belum tentu bersedia mengubah kebiasaan yang dapat merusaknya. Menjadi warga negara yang bertanggung jawab berarti memahami bahwa tindakan kita dapat berdampak pada kehidupan orang lain dan makhluk hidup di sekitar kita.
Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi bisa dari kebiasaan sederhana, seperti mengelola limbah dengan benar dan tidak membuang sampah sembarangan. Sebab, kenyamanan kita sehari-hari seharusnya tidak menjadi alasan bagi lingkungan untuk terus menanggung akibatnya.
Sumber
Berita :ANTARA. 2025. Busa di Kali Sunter Disebabkan Limbah Rumah Tangga. 26 Agustus 2025. https://www.antaranews.com/berita/5064229/busa-di-kali-sunter-disebabkan-limbah-rumahtanggaANTARA. 2025. KLH Ungkap Sejumlah Penyebab Penurunan Kualitas Sungai Ciliwung. 10 Agustus 2025. https://www.antaranews.com/berita/5027837/klh-ungkap-sejumlah-penyebabpenurunan-kualitas-sungai-ciliwungdetikNews. 2025. 119 Ribu KK di Jakarta Tak Punya Septic Tank, Limbah Mengalir ke Got dan Sungai. 3 Mei 2025. https://news.detik.com/berita/d-7898261/119-ribu-kk-di-jakarta-takpunya-septic-tank-limbah-mengalir-ke-got-dan-sungai.
Penulis: Najwa Farhatun Nurputriana Mahasiswa Biologi S1 Universitas Negeri Yogyakrta (UNY).
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment