Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Tidak Bermimpi Kaya Raya: Yang Diminta Cuma Bisa Makan, “Sampai Kapan?”
APERO FUBLIC I Di sudut Pasar Legi Kotagede, seorang ibu berkerudung hitam melipat daun pisang dengan tangan yang sudah hafal geraknya. Di depannya tertata nasi, sayur, dan kacang rebus yang menunggu pembeli. Ia tidak menabung untuk liburan, apalagi bermimpi kaya raya.
Diusia ketika banyak orang seharusnya beristirahat, ia masih berjualan dengan satu harapan sederhana: hari ini cukup untuk makan, dan tidak ada yang menganggap pemandangan itu aneh. Justru itulah yang patut dipertanyakan.
Fenomena tersebut bukan sekadar pemandangan di jalan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 55,32 persen penduduk lanjut usia masih bekerja berdasarkan Sakernas Agustus 2024. Dari lansia yang bekerja, 36,60 persen tercatat memiliki penghasilan kurang dari Rp1 juta per bulan, dengan rata-rata waktu kerja 32,73 jam per minggu.
Angka itu menunjukkan bahwa bekerja di usia lanjut bukan hal yang jarang. Tanpa kita sadari ada persoalan sederhana paling penting, pertanyaan yang timbul dari mana mereka mendapatkan penghasilan dan seberapa cukup penghasilan itu bisa untuk menjalani hidup.
Indonesia sendiri telah memasuki fase ageing population. BPS mencatat persentase penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen pada 2025. Dan terlihat jumlah lansia mulai terus bertambah dari kehidupan mereka di masa tua, yang kita sadari tidak bisa dipandang sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan kita saat ini.
Masalahnya, kebutuhan hidup saat ini tidak ikut berhenti ketika usia bertambah. Makanan tetap harus dibeli, tempat tinggal tetap harus dibayar, begitu pula biaya kesehatan dan kebutuhan sehari-hari. Dan bagi mereka yang memiliki penghasilan terbatas, solusi untuk menyesuaikan pengeluaran juga tidak banyak.
Di tengah kondisi tersebut, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI pada 20 Mei 2026 menjadi menarik untuk direnungkan.
Saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027, Prabowo mengatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bermimpi hidup kaya raya, melainkan ingin hidup layak dan baik. Ia menyebut keinginan untuk bisa makan dengan baik, mendapatkan pengobatan ketika sakit, memiliki rumah yang layak, serta memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang cukup.
Pernyataan yang terdengar sederhana karena kebutuhan memang bukan sesuatu yang mewah.
Makan dengan cukup, memiliki tempat tinggal yang layak, memperoleh layanan kesehatan, dan mempunyai pendapatan yang memadai adalah kebutuhan dasar.
Namun, justru karena terdengar sederhana, pertanyaannya adalah: seperti apa hidup layak itu ketika dijalani sehari-hari?.
Karena hidup yang layak tidak cukup hanya dilihat dari apa yang tertulis dalam kebijakan atau narasi di dalam suatu pidato di publik. Tapi, semua itu dapat dinilai ketika melihat langsung di kehidupan sehari-hari, tentang apakah seseorang bisa makan tanpa terus memikirkan uang yang tersisa, berobat ketika sakit, dan mengurangi pekerjaan di usia senja tanpa khawatir kehilangan sumber penghasilan.
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting ketika kita melihat masih banyak lansia yang bekerja. Bekerja tentu tidak selalu berarti seseorang berada dalam kesulitan. Ada lansia yang tetap bekerja karena ingin aktif, mempertahankan usaha, atau memang masih menikmati pekerjaannya. Tetapi bagi sebagian lainnya, pekerjaan dapat menjadi sumber pendapatan yang sulit ditinggalkan karena kebutuhan hidup masih harus dipenuhi.
Karena itu, melihat lansia yang masih berjualan tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa mereka rajin atau pantang menyerah.
Yang harus dipertanyakan adalah apakah seseorang pada usia senja benar-benar memiliki pilihan.
Jika bekerja adalah pilihan karena ingin tetap produktif, tentu itu merupakan hal yang berbeda. Namun, jika bekerja menjadi satu-satunya cara agar dapur tetap menyala, persoalannya bukan lagi sekadar tentang semangat bekerja. Dan yang perlu diperhatikan apakah mereka memang punya pilihan lain atau memang pekerjaan utama mereka.
Apalagi, sebagian besar lansia yang bekerja berada pada sektor yang relatif rentan. Data BPS dari Sakernas Agustus 2024 menunjukkan bahwa 55,32 persen lansia masih aktif secara ekonomi, dan lebih dari 84 persen lansia berkerja masuk kategori pekerja rentan, tanpa kepastian pendapatan.
Sektor pertanian menjadi lapangan usaha yang paling banyak menyerap pekerja lansia, dengan proporsi 52,19 persen, yang disusul usaha jasa dan pedagang kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa bekerja di usia lanjut tidak selalu berarti berada dalam pekerjaan dengan perlindungan dan kepastian pendapatan yang kuat.
Memang dilihat dari angka tersebut tidak bisa menggambarkan secara objektif tentang kondisi setiap lansia. Tetapi angka itu cukup untuk menunjukkan bahwa masa tua tidak selalu terlihat dengan kehidupan yang sudah mapan. Sebagian orang masih harus mengandalkan pekerjaan dengan pendapatan yang terbatas untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika melihat lansia masih bekerja hingga sore atau malam, rasanya kurang jika respons kita berhenti pada rasa kasihan. Yang lebih penting adalah melihat persoalan di baliknya.
Mereka bukan sekadar orang tua yang masih bekerja. Mereka juga berhak merasakan manfaat dari kebjikan pembangunan pemerintah dan mendapatkan perlindungan ketika kondisi ekonomi membuat mereka sulit memenuhi kebutuhan sendiri.
Pertumbuhan ekonomi, investasi, infrastruktur, dan berbagai program pemerintah juga memiliki peran dalam meningkatkan kesejahteraan. Tetapi keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari angka pertumbuhan atau banyaknya proyek yang dibangun. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, tentang apakah masyarakat dapat menjalani hidup dengan lebih aman, terutama mereka yang memiliki pilihan ekonomi lebih terbatas.
Jika melihat kehidupan yang layak berarti mereka bisa makan dengan cukup, mendapatkan pengobatan ketika sakit, memiliki tempat tinggal yang layak, dan memperoleh pendapatan yang cukup, maka dari itu kehidupan lansia yang saat ini masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar, mereka perlu terus diperhatikan.
Mungkin rakyat memang tidak sedang bermimpi menjadi kaya raya.
Mungkin mereka hanya ingin hidup sedikit lebih tenang. Bisa makan tanpa harus menghitung sisa uang. Bisa berobat tanpa takut biaya. Bisa membayar kebutuhan sehari-hari tanpa terus-menerus memikirkan utang.
Dan ketika usia sudah tidak muda lagi, mereka mungkin hanya ingin memiliki pilihan: tetap bekerja karena memang ingin bekerja, bukan karena tidak memiliki pilihan lain.
Pertanyaan yang terlintas saat ini, mungkin kah kehidupan yang layak seperti itu seharusnya bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk diminta?.
Oleh: Adhita Selviana
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment