Kampus
Mahasiswa
Medan
Opini
Pendidikan
Tantangan Merawat Budaya Lokal di Tengah Kehidupan Kampus Perantauan
APERO FUBLIC I Merantau untuk menempuh pendidikan tinggi bukan hanya persoalan perpindahan geografis, melainkan juga proses adaptasi sosial dan budaya yang kompleks. Bagi mahasiswa perantau, menjaga akar identitas daerah di tengah lingkungan yang baru menjadi tantangan tersendiri. Fenomena ini terlihat jelas pada mahasiswa asal Nias yang berkuliah di Universitas Negeri Medan (Unimed).
Melalui wadah kebersamaan seperti Keluarga Mahasiswa Nias (KAMNI-Unimed) yang telah berdiri sejak 24 April 1984, tergambar bagaimana ruang kolektif dapat berfungsi tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertahankan budaya dan mempererat hubungan antarmahasiswa.
Dunia perkuliahan sering kali menghadirkan tekanan akademik sekaligus kejutan budaya (culture shock). Dalam kondisi ini, keberadaan komunitas daerah yang menjadi ruang bagi mahasiswa asal Nias maupun keturunan Nias memiliki peran penting.
KAMNI menjadi tempat bagi mahasiswa untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan saling mendukung selama menjalani kehidupan perkuliahan di tanah perantauan. Kehadiran ruang kebersamaan ini menjadi salah satu pendukung sosial agar mahasiswa tidak merasa sendirian ketika jauh dari daerah asal.
Upaya merawat tradisi dilakukan melalui berbagai kegiatan kebudayaan dan edukasi. Di kota perantauan, kegiatan seperti pentas seni dan perlombaan tari kreasi kebudayaan Nias dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan warisan budaya kepada masyarakat luas.
Tidak hanya di tanah rantau, kepedulian terhadap budaya juga diwujudkan melalui kegiatan di daerah asal. Dalam kegiatan event KAMNI yang dilaksanakan di Nias, misalnya, terdapat berbagai perlombaan seperti Lomba Cerdas Cermat (LCC), olimpiade, hingga turnamen olahraga tingkat SMA/SMK sederajat.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak hanya dilakukan melalui kesenian, tetapi juga dapat berjalan bersama kegiatan pendidikan dan pengembangan generasi muda.
Menjalankan berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kebudayaan tentu membutuhkan dukungan finansial serta pengelolaan yang baik. Dalam praktiknya, anggota melakukan berbagai kegiatan penggalangan dana, seperti menjual donat, keripik, dan pakaian organisasi.
Hasil dari kegiatan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kas kepengurusan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Proses ini tidak hanya membantu keberlangsungan program, tetapi juga memberikan pengalaman kepada anggota dalam mengelola kegiatan, bekerja sama, dan menjalankan tanggung jawab organisasi.
Di tengah perkembangan teknologi, media digital juga menjadi bagian dari aktivitas komunitas. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan KAMNI sekaligus menyampaikan berbagai kegiatan yang dilakukan. Pemanfaatan media digital menjadi penting agar kegiatan komunitas dapat diketahui oleh lebih banyak orang dan tetap memiliki ruang untuk berkembang di tengah perubahan cara berkomunikasi generasi muda.
Keikutsertaan dalam komunitas juga memberikan pengalaman bagi anggota. Melalui berbagai kegiatan, mahasiswa dapat belajar bertanggung jawab, bekerja sama, menjadi panitia, serta mengelola sebuah kegiatan. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran di luar ruang kelas yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan sosial dan organisasi.
Meskipun demikian, keberlangsungan komunitas tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah kurang aktifnya sebagian anggota dalam mengikuti kegiatan KAMNI.
Tingkat partisipasi anggota menjadi hal penting karena sebuah komunitas akan sulit berkembang apabila hanya dijalankan oleh sebagian kecil anggotanya. Karena itu, diperlukan upaya untuk membangun kembali rasa kebersamaan dan meningkatkan keterlibatan anggota dalam berbagai kegiatan.
Pada akhirnya, komunitas mahasiswa daerah di lingkungan kampus tidak seharusnya dipandang sebatas ruang berkumpul berdasarkan kesamaan asal daerah. Komunitas perantau juga dapat menjadi ruang untuk menjaga budaya, membangun pengalaman berorganisasi, dan memperkuat hubungan sosial.
Kedepan, penguatan solidaritas dan partisipasi anggota menjadi penting agar keberadaan komunitas ini tidak hanya bermanfaat bagi anggotanya, tetapi juga dapat memberi dampak positif bagi masyarakat dan civitas akademika di tanah perantauan.
Oleh: Lina Margaret Gultom
Mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed).
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment