Budaya
Budaya Daerah
Feature
JATENG
Kendal
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Menggali Warisan Seni Wonotenggang, Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Belajar Langsung dari Pelaku Budaya
APERO FUBLIC I KENDAL.– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 167 mengikuti kegiatan pembelajaran kesenian tradisional di Padepokan Kyai Tuhu Laras, Desa Wonotenggang, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat sejarah, perkembangan, dan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai kesenian tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Bapak Ponidi, tokoh seni Desa Wonotenggang, mengenai perjalanan kesenian tradisional yang pernah berkembang pesat di desa tersebut.
Pembahasan diawali dengan pengenalan karawitan sebagai salah satu warisan budaya yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Karawitan tidak hanya dipahami sebagai seni memainkan gamelan, tetapi juga sebagai media yang merepresentasikan nilai kebersamaan, keharmonisan, dan identitas budaya masyarakat.
Dalam perkembangannya, Desa Wonotenggang dikenal memiliki kehidupan seni yang cukup maju. Karawitan menjadi pengiring dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari tradisi desa, hajatan, hingga pementasan seni.
Alunan gamelan yang dimainkan para pengrawit berpadu dengan lantunan tembang para sinden serta pertunjukan wayang kulit yang dibawakan dalang, membentuk sebuah pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan pesan moral dan nilai budaya.
Selain karawitan, mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai kesenian tradisional lain yang tumbuh dan berkembang di Desa Wonotenggang. Salah satunya adalah Barongan Mbah Sugito, yang menjadi ikon kesenian desa.
Barongan tersebut memiliki nilai historis karena dipercaya berkaitan dengan sosok Mbah Sugito, tokoh yang dikenal masyarakat sebagai pembabat alas atau perintis Desa Wonotenggang.
Oleh sebab itu, keberadaan Barongan tidak hanya dimaknai sebagai bagian dari pertunjukan seni, tetapi juga sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur sekaligus identitas budaya masyarakat setempat.
Seiring perkembangan zaman, berbagai kesenian tradisional di Desa Wonotenggang sempat mengalami masa-masa redup. Berkurangnya regenerasi seniman, minimnya ruang pementasan, serta perubahan minat masyarakat menjadi tantangan dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional.
Kondisi tersebut mendorong para pegiat seni untuk kembali menghidupkan berbagai aktivitas berkesenian melalui Padepokan Kyai Tuhu Laras sebagai wadah pelestarian sekaligus ruang belajar bagi generasi muda.
"Wonotenggang memiliki sejarah kesenian yang cukup panjang. Dulu kesenian di desa ini sangat hidup, mulai dari Barongan, karawitan, gamelan, sinden, hingga wayang kulit. Harapan kami, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mau belajar, ikut berlatih, dan melestarikan seni tradisional agar tidak hilang oleh perkembangan zaman. Kalau bukan kita yang menjaga dan meneruskannya, siapa lagi yang akan melestarikan warisan leluhur ini," ujar Bapak Ponidi.
Usai sesi penyampaian materi, mahasiswa diajak melihat secara langsung berbagai perangkat gamelan yang digunakan dalam karawitan sekaligus mengenal fungsi setiap instrumen. Para peserta juga berkesempatan mencoba memainkan beberapa alat musik gamelan di bawah bimbingan para pengrawit, sehingga memperoleh pengalaman langsung mengenai dasar-dasar karawitan sebagai salah satu warisan seni musik tradisional Jawa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan berbagai perlengkapan Barongan Mbah Sugito beserta filosofi yang terkandung di dalamnya. Mahasiswa diajak memahami bahwa setiap unsur dalam pertunjukan, mulai dari topeng, iringan gamelan, hingga gerak tari, memiliki makna yang lahir dari nilai-nilai budaya dan kehidupan masyarakat Wonotenggang.
Suasana pembelajaran berlangsung hangat dan interaktif. Mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi dengan para pegiat seni mengenai proses regenerasi, tantangan pelestarian budaya, serta berbagai upaya yang dilakukan masyarakat agar kesenian tradisional tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 167 tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai sejarah dan ragam kesenian tradisional Desa Wonotenggang, tetapi juga menyaksikan secara langsung komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Sinergi antara pelaku seni, masyarakat, dan perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian budaya lokal sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda untuk terus nguri-uri kesenian tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa.
Oleh: KKN Posko 167
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Budaya

Post a Comment