Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Dari Tanah yang Nyaris Dijual hingga Jadi Kebun Wisata, Kisah Izmuha untuk Muhammadiyah Pujon
APERO FUBLIC I PUJON-MALANG.— Tidak banyak yang menyangka bahwa sebuah lahan yang kini dikembangkan menjadi kawasan wisata petik aneka buah dan sayur memiliki perjalanan panjang yang berawal dari niat sederhana untuk membantu keluarga dan pembangunan masjid. Di Pujon, Kabupaten Malang, lahan tersebut kini dikenal sebagai Kebun Izmuha, sebuah amal usaha yang dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi Muhammadiyah Pujon dan masyarakat sekitar.
Kebun Izmuha merupakan lahan yang dikelola oleh Drs. Zunaedi, M.Pd., Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pujon. Gagasan pengembangan kebun tersebut tidak terlepas dari perjalanan panjang Zunaedi bersama keluarganya dalam mengelola tanah dan mengarahkannya untuk kepentingan sosial-keagamaan.
Kisah tersebut bermula pada 2020, ketika terdapat rencana menjual tanah seluas sekitar 1.000 meter persegi dengan harga Rp100 juta. Rencananya, Rp50 juta akan digunakan untuk membantu biaya keberangkatan haji anak dan menantu, sementara Rp50 juta lainnya diperuntukkan bagi pembangunan Masjid Mujahidin Sobo, yang merupakan tanah wakaf dari Mbah Bapak Haji Abdurrahman.
Namun, rencana penjualan tersebut akhirnya berubah. Pada 2021, sebelum pembangunan masjid dilakukan, lahan sekitar 8.000 meter persegi digarap oleh panitia masjid. Lahan tersebut ditanami berbagai komoditas pertanian, salah satunya wortel yang selama kurang lebih dua setengah tahun menghasilkan sekitar Rp250 juta.
Sementara itu, hasil dari tanaman kentang mencapai sekitar Rp45 juta. Hasil pengelolaan lahan tersebut membuat tanah yang sebelumnya hendak dijual akhirnya dapat dipertahankan. Bahkan, kebutuhan untuk mendaftarkan haji anak dan menantu dapat dipenuhi tanpa harus menjual seluruh tanah tersebut.
Sementara itu, lahan seluas 1.000 meter persegi yang sebelumnya direncanakan untuk dijual kemudian diserahkan untuk digunakan sebagai TPQ di Sobo.
Perjalanan lahan tersebut kembali berlanjut pada 2023. Tanah tersebut sempat kembali direncanakan untuk dijual dengan harga sekitar Rp150 juta. Hasil penjualannya direncanakan untuk mendukung renovasi Masjid Al Firdaus. Renovasi masjid akhirnya tetap dilakukan dengan biaya sekitar Rp200 juta, meskipun pembayaran tanah yang direncanakan masih terealisasi sekitar Rp37 juta.
Memasuki September 2025, muncul kembali kebutuhan dana sekitar Rp125 juta yang rencananya akan digunakan untuk membiayai kegiatan pengajian di wilayah Pujon. Namun, Muhammadiyah kemudian menyarankan agar tanah tersebut tidak dijual, melainkan dihibahkan kepada Muhammadiyah.
Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan lahan itu. Sebagian lahan seluas sekitar 600 meter persegi akhirnya dihibahkan kepada Muhammadiyah, dengan wakaf yang berasal dari keluarga sendiri dan pengelolaan yang diarahkan untuk kepentingan Muhammadiyah Pujon.
Dari sinilah muncul gagasan untuk mengembangkan lahan tersebut menjadi wisata petik buah dan sayur. Ide tersebut datang dari keluarga Zunaedi yang melihat potensi lahan tidak hanya sebagai aset, tetapi sebagai ruang yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Nama Izmuha sendiri memiliki makna yang erat dengan silsilah keluarga. “Iz” berasal dari nama Izudin, “Mu” berasal dari Muarifin, sedangkan “Ha” berasal dari Haji Hasan. Nama tersebut menjadi simbol keterhubungan antargenerasi sekaligus membawa nilai keluarga dalam pengembangan lahan tersebut.
Tidak berhenti pada lahan yang dihibahkan, keluarga juga membeli lahan di bagian timur untuk mendukung pengembangan kawasan. Kebun tersebut kemudian diarahkan menjadi tempat wisata edukasi dengan konsep petik aneka buah dan sayur, sehingga masyarakat dapat menikmati hasil pertanian sekaligus mengenal proses pengelolaan lahan secara langsung.
Bagi Zunaedi dan keluarga, keberadaan Kebun Izmuha bukan semata-mata tentang membangun sebuah destinasi wisata. Lebih jauh, kebun tersebut menjadi bagian dari amal usaha dan bentuk pengabdian kepada Muhammadiyah Pujon.
Perjalanan Izmuha menunjukkan bahwa sebuah tanah dapat memiliki makna yang jauh lebih besar ketika dikelola dengan niat untuk memberi manfaat. Dari lahan yang beberapa kali hampir dijual, tanah tersebut justru diarahkan menjadi aset yang diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan Muhammadiyah.
Kebun Izmuha pada akhirnya bukan hanya tentang memetik buah dan sayur, tetapi tentang bagaimana sebuah lahan, keluarga, dan niat baik dapat tumbuh menjadi amal yang manfaatnya diharapkan terus berlanjut.
Oleh: Tim KKN MAS
Mahasiswa KKN Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment